Aku masih ingat saat keluargaku pindah ke kampung tanah tosora pada tahun 1985. Saat itu, aku berumur 9 bulan. Sebelumnya, keluargaku hidup dalam gubuk di kampung bersebelahan yang tak jauh dengan kampung tanah tosora yang sebelumnya pernah menjadi ibu kota kabupaten wajo pada abad ke 15. Keluargaku yang kini beranggotakan 9 orang membutuhkan ruang yang lebih besar.
Ayah telah pergi untuk selamanya meninggalkan aku yang masih berumur 9 bulan dan harus yatim serta ke-7 saudara-saudariku. Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga yang merangkap menjadi tukang tenun yang dijual ke pasar seharga seratus ribu rupiah per sarung dikerja kira-kira membutuhkan waktu selama satu bulan, karena beliau tergolong tua sehingga dia tidak terlalu cepat tangkap. Ibu yang menjadi single parent saat itu harus berjuang memperjuangkan ke delapan putra-putrinya yang masih dalam tanggung jawabnya. Demi kebahagiaan hidup kami, sekaligus untuk mempermudah beban ibu, maka aku dan dua orang kakakku harus tinggal bersama nenek dari ibu.
Nasib nenek memang lebih baik dari nasib ibu, sampai aku harus terkucilkan. Aku anak bungsu. Aku tak begitu disukai dibandingkan dengan saudaraku yang lain. Sampai pada saat aku berumur 7 tahun, aku memutuskan untuk sekolah di sebuah madrasah yang tak jauh dari tempat tinggalku. Aku dengan sendirinya membawa diriku ke madrasah tanpa ditemani oleh siapapun dari keluargaku, karena keinginan yang kuat untuk sekolah. Tak seorangpun dari keluargaku yang memiliki sekolah yang tinggi, rata-rata dari mereka hanya lulus SD dan SMP.
Besok paginya aku siap pergi ke madrasah. Ini adalah hari pertamaku ke sekolah. Aku sebelumnya sama sekali tidak pernah menginjakkan kakiku ke sekolah karena keluargaku hanya bergelut di persawahan, setiap paginya aku harus menikmati pagiku dengan dengan mengendarai seekor kuda ke sawah, besama dengan seorang kakakku yang senantiasa menggiringku di depanku dengan mengendarai seekor kuda jantan gagah perkasa.
Hariku kini telah benar-benar berubah yang sebelumnya selalu pergi ke sawah dengan memakai pakaian yang compang-camping. Kini aku memakai celana pendek merah dan kemeja putih. Lambang saku baju kemejaku berwarna merah dan cokelat juga sebuah peci berwarna hijau bertuliskan huruf hijaiyah dari bahasa arab. Madrasah ibtidaiyah as’adiyah, begitu nama sekolahku. Sekolah swasta yang tidak ada matinya di bawah lindungan departemen agama yang dikepalai oleh seorang wanita yang kuat sudah berumur dan mampu bersaing dengan sekolah negeri yang ada saat itu.
Aku membawa sebuah tas yang terbuat dari kain dengantali selempang panjang membuat aku merasa risih yang hampir sampai di sebuah pantat berwarna hijau pinjaman dari kakakku yang duduk di kelas 1 SMPN majauleng, juga yang sempat dia pinjamkan adalah buku tulis yang telah bertuliskan serta sebuah pensil yang sudah tumpul yang berukuran jempol. Aku tak mendapat bekal ke sekolah apalagi mendapatkan uang jajan dari nenek. “ kalau mau jajan di rumah saja, mengertilah keadaan kita. Dimana lagi kita mendapatkan uang”. Katanya.
Udara dingin menusuk kulit lengan dan kakiku sepanjang perjalanan. Aku sempat melihat fajar menyingsing di balik rumah. Dadaku sesak sejenak dan terpaku. Inilah kali pertamanya, aku akan menginjakkan kaki ke sekolah.
Sekolahku dimulai dari pukul tujuh pagi. Aku lewat pintu belakang sekolah yang juga dipenuhi oleh murid baru. Tak seorang pun yang aku kenal dari mereka. Ada yang bermain kejar-kejaran di lapangan sekitar sekolah. Sementara seorang guru perempuan, gemuk, dan sudah berumurdengan lantang berteriak ke arah murid yang berkejaran,”owee….cako pajai silellung.” Katanya dengan mata melotot, tangan pas berada di pinggang. Arti dari pada kata tersebut merupakan kalimat perintah bahasa bugis yang bernadakan marah atau jengkel menyuruh murid tersebut untuk berhenti saling kejar-kejaran.
Aku mulai merasa gemetar dan takut melihat perangainya yang begitu ganas. Seperti seekor singa kelaparan yang keluar dari kandangnya. Aku terdiam menunggu, kami dipersilahkan masuk kelas. Disekelilingku tampak gedung yang masih terbuat dari dinding kayu dengan lantai semen yang sudah berhamburan disana-sini, tetapi diatur dengan rapi sehingga terlihat indah, bersih dan nyaman. Memang madrasah ini sudah banyak mendapatkan prestasi kebersihan dan kedisiplinan yang kuat. Kerja keras dan semangat yang tumbuh dari hati seorang ibu sang kepala sekolah menjadikan madrasah ini menjadi unggul diantara sekolah negeri yang ada.
“silahkan masuk ke kelas anak-anak.” Kata ibu sang kepala sekolah sekaligus merangkap sebagai wali kelas 1. Sungguh besar perjuangan besar bu guruku yang satu ini. Aku melangkahkan kakiku dengan lambat karena harus menunggu antri untuk masuk ke kelas. Aku mengambil tempat duduk di bangku dua dari belakang. Disekelilingku nampak gambar – gambar pahlawan seperti, pangeran Diponegoro, Ibu Kita Kartini, gambar presiden Soeharto beserta wakilnya di batasi oleh simbol lambang garuda berada tepat di atas papan tulis yg terbuat dari tripleks berwarna hitam denga alat tulis kapur tersusun rapi nan indah. Meja guru tepat berada di samping lemari rak buku dengan taplak meja berwarna hijau dengan lambang as’adiyah berada sudut paling depan kain yang berbentuk persegi itu.
Bahagia rasanya duduk di atas kursi yang berukuran 1 meter dengan muatan 2 orang murid akan tetapi harus dicukupkan sampai 3 murid karena ruangan yang sempit serta murid yang sesak. Aku mendengar ibu kepala sekolah menjelaskan materi tentang menulis indah yang biasa disebut tegak bersambung, meskipun aku tak mengerti apapun karena maklum belum lama aku mengikuti pelajaran tersebut.
Guru kelasku sekaligus ibu kepala sekolahku bernama Indo Esse, kurasa dia lebih tua dari mamaku. Dia memakai baju dinas, rambutnya berombak pendek dan sedikit beruban serta memakai kecamata berbingkai hitam.
Di dalam kelas aku dan dua temanku duduk satu bangku. Pada hari pertama kami hanya duduk tanpa tegur sapa. Tiba-tiba, seorang murid perempuan menangis dan menjerit. Jeritan itu menjadikan suasana kelas menjadi gaduh. Singkat saja itu Ines(indo Esse). Mendekati murid perempuan itu mengajaknya keluar kelas menemui ibunya. Aku hanya terdiam dan memandang keduanya. Mereka pun tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyu mereka. Cepat-cepat aku berpaling muka dan pura-pura menulis sesuatu dari papan tulis.
Tibalah waktu istirahat, kami diajarkan membaca doa dan bernyanyi sebelum pulang. Kami di ajari menyanyikan lagu kebangsaan “Satu Nusa Satu Bangsa”. Dengan hati riang kami mengikuti ibu Ines memandu bagaimana lirik lagu kebangsaan tersebut.
Hari pertama sekolah berlalu dengan sangat cepat. Ibu Ines menemuiku dan bertanya kepadaku tentang pribadiku.
“Siapa nama ibu dan bapak kamu nak?” tanyanya penasaran, sambil mengiringku mendekat ke meja guru. Dia menarik sesuatu dari mejanya. Ternyata mengambil sebuah buku dan pensil yang belum diruncingkan itu.
“Ibuku bernama Daramatasia sedangkan Ettaku bernama Ambo Sennang” jawabku sambil menunduk memandangi lantai yang masih terbuat dari semen itu.
“ Apa keduanya masih hidup?” Tanyanya sambil melepaskan kecamatanya yang mulai buntut. Sedangkan aku terdiam sejenak tak tahu harus berkata apa. Seketika aku membayangkan bagaimana wajah ettaku. Aku tidak sempat mengenal wajahnya sebelum dia pergi meninggalkanku untuk selamanya.
“Ibuku masih hidup dan ayahku sudah lama pergi meninggalkan kami, beliau meninggal di Ternate denga penyakit malaria yang dideritanya.” Jawabku sambil memandangi wajah ibu Ines yang bulat dan mulut yang kecil dengan tahi lalat di bawah hidungnya sebelah kiri.
“Bukannya mama kamu memiliki mesin pabrik penggiling padi?” tanyanya lagi.
“iya. Benar bu.” Jawabku.
Keluarga kami memang pernah memiliki mesin pabrik penggiling padi semenjak ayah masih bekerja sebagai petani. Tapi setelah berpindah profesi menjadi seorang pedagang, beliau meninggalkan pabrik tersebut dan sempat dijalankan oleh mamaku dan kakakku yang cewek beberapa bulan. Tidak lama kemudian pbrik tersebut dijual ke tetangga dengan harga Rp 500.000 saat itu. Karena ayahku yang telah wafat sedangkan mamaku sudah tidak sanggup lagi menjalankannya.dan uangnya saat itu digunakan untuk biaya pernikahan kakak laki-laki yang ke tiga. Dan sudah sepuluh tahun lebih dari pernikahannya belum dikaruniai keturunan.
“Mulai besok pakailah buku dan pensil ini dan kamu boleh pulang sekarang.” Kata ibu Ines sambil menyerahkan buku tulis yang sudah tua tapi masih kosong berwarna biru serta pensil yang berwarna merah.
“Terima kasih bu.” Jawabku sambil tersenyum. Aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan kelas karena kelas berikutnya masih lagi dalam kelas yang sama.
Pada hari kedua dan dua minggu berikutnya, aku menikmati perjalanan ke sekolah sambil jalan kaki sendirian, kadang ditemani oleh kakak kelas sambil membawa air dalam jergen. Katanya untuk menyirami tanah kering agar debunya tidak beterbangan. Biasanya pada saat musim kemarau tiba, semua murid diwajibkan untuk membawa air dalam jergen. Separuh untuk menyirami tanah berdebu dan sisanya untuk disimpan di toilet dan utnuk berwudhu.
Tidak ada perasaan takut untuk berjalan kaki sendirian. Berangkat dari pukul 6.30 tiba di sekolah pukul 6.45 wita. Aku termasuk siswa yang disiplin dan rajin ke sekolah. Seringkali Ibu Ines memanggilku sebagai bintang sekolah. Setiap hari, sepulang dari sekolah rajin belajar membaca dan saat itu, aku termasuk sebagai peringkat tiga besar.
Saingan-sainganku di kelas adalah Besse Dahliana dan seorang teman laki-laki yang sebangku dengan saya namanya Hakim. Mereka semua termasuk anak yang cerdas. Kami berteman tapi tidak banyak bertegur sapa karena masing-masing memiliki rasa malu dan tidak ingin memulai.
Di madrasah ini tak banyak teman yang aku kenal, aku juga jarang bergaul dengan teman-teman sekelasku apalagi dengan anak perempuan. Lumrahnya di sekolah, teman-teman sering mengolok-ngolok dengan menjodoh-jodohkan anak laki-laki degan anak perempuan. Otomatis, aku dijodohkan dengan BesseDahliana karena dia termasuk anak yang pendiam. Besse Dahliana kelihatannya saja pendiam tetapi sebenarnya dia seorang anak yang cerewet. Kulitnya putih. Dia sering menggunakan kerudung di ikat dari belakang. Matanya bulat sedikit besar. Dia sering memandangku dengan tersipu malu. Tapi aku pun hanya terdiam tanpa kata. Besse Dahliana memang cantik tapi aku sama sekali tak punya perasaan padanya.
Tibalah saatnya penaikan kelas, lima siswa dari teman seangkatan kami tahun 1997 harus tinggal kelas karena alas an yang bermacam-macam. Diantaranya masih ada yang berumur 5 tahun, ada juga kemampuannya untuk naik kelas dua belum maksimal. Kami berjumlah 45 siswa, sedangkan yang naik kelas 2 hanya 40 orang. Aku termasuk peringkat teratas dari kelasku.
Di kelas baruku, aku sibuk mengelap kursiku yang berdebu bersama beberapa murid lainnya. Guru yang telah memberikan kain perca yang telah kami basahkan untuk melaksanakan tugas tersebut. Beberapa temanku menyapu jendela. Adapula yang menyapu lantai. Banyak dari kami yang menutup mulut dan hidung dengan sapu tangan agar tidak kemasukan debu. Lelah, tetapi senang rasanya kerja bersama-sama. Aku tidak peduli kemeja sekolahku kotor terkena debu. Tempat belajarku harus bersih terlebih dahulu.
Saat aku mengelap kursiku, terlihat seorang murid perempuan tinggi semampai sedang menghapus tulisan di papan tulis pakainnya rapi. Kerudung putih dan bersih. Kulitnya cerah dan lembut.
“Siapa anak perempuan itu?” Tanya Hakim
“Dia baru datang hari ini, murid baru, pindahan dari palu. Anak dari seorang saudagar.” Jawab Tamin
“Siapa namanya?” tanyaku pula sambil duduk di atas kursi yang sudah dibersihkan.
“Nanti aku tanyakan pada murid perempuan lain. Aku dengar dia menjadi perempuan tercantik dalam kelas kita.” Jawab Hakim.
Kami tertawa bertiga mendengarkan cemohan Hakim. Sejak itulah kami bertiga berteman dan akrab seperti saudara sendiri. Jika kami memiliki jajanan dari rumah ataupun jajan di sekolah, kami tak segan membaginya menjadi tiga bagian. Setiap hari kami selalu bersama dan main bersama. Dikelaspun kami dikenal dengan “Segi Tiga Bermuda” yang artinya 3 sekawan yang masih mudah lagi bermutu. Prestasi di kelas pernah kami raih masuk 3 besar. Aku dan termasuk kedua temanku menjadi peringkat ke-2 dan ke-3 menjadikan kami tambah erat dan saling bersaing dari segi akademik.
Orang tua kami pun ikut mendukung persahabatan kami. meskipun kami berjauhan rumah tetapi cukuplah sekolah menjadi tempat pertemuan untuk berkeluh kesah dari apa yang kita hadapi. Sesulit apapun masalah yang kami hadapi akan terasa mudah jika kami bersama-sama memikulnya, tak ada perbedaa warna apapun dari kami. Kami memiliki pemikiran yang sama. Sehingga teman lainnya banyak memberikan apresiasi kepada kami bertiga.
Aku memandangnya sekali lagi. Aku melihat dia menjingkat hendak membrsihkan lemari yang tinggi kehitaman berada disamping meja guru sudut kanan depan kelas. Inilah kesempatanku.
Dengan cepat, aku mengangkat kursiku dengan melontarkan senyum kepada hakim dan dan tamin. Keduanya pun mengerti maksudku. Aku meletakkan kursi disamping lemari yang tinggi besar dekat dengannya.
“Silahkan.” Kataku dengan agak pesimis.
Dia terkejut. Mula-mula, dia hanya melototiku. Kemudian, dia memandang kursi itu seolah berpikir sejenak.
“Tidak. Idi’na, tabe.” Jawabnya sambil mengulurkan lap kepadaku. Aku terkaget ternyata dia lancer berbahasa bugis.
Aku mengerti maksudnya dan segera naik ke atas kursi yang baru aku lap. Aku mebersihkan ujung atas lemari tersebut, kemudian turun dari kursi. Bekas tapak sepatuku mengotori kursi. Aku menyerahkan lap kembali padanya.
“Terima kasih.” Katanya dengan lembut.
“Sama-sama.” Jawabku tersipu malu.
“Saya Rukmini.” Katanya lagi dengan suara yang mantap.
“Saya Aco.” Jawabku pula sambil tersenyum.
Aku kemudian berpaling dan memperkenalkan Rukmini kepada teman-temanku yang lain. Sangat Nampak dalam diri Rukmini rasa ibah dan pipi yang merah merona.
Aku kemudian mengangkat kursiku kembali dan meletakkannya disebelah mejaku. Aku duduk di atasnya sambil membuka buku-buku yang sebenarnya belum bertuliskan apapun. Sebenarnya, aku mencari perhatian dari Rukmini.
Hmmm! Rukmini. Bagus juga namanya. Cantik pula orangnya. Aku kadang melamun. Aku lupa bekas jejak sepatukini berbekas pula di celanaku. Aku lupa kalau aku masih berumur 9 tahun. Rasanya aku perangai seorang dewasa. Hati ini seakan tak henti-hentinya memikirkan Rukmini.
Matahari pun tepat berada di atas kepala. Lonceng berbunyi tanda istirahat. Adzan pun dikumandangkan shalat duhur sebentar lagi akan dimulai di musahalla tepat berada di samping kelas kami. proses belajar pun dihentikan sejenak. Tak seorang pun yang tinggal dalam kelas kami semua di latih untuk melaksanakan shalat sejak dini supaya menjadi kebiasaan. Apalagi hukuman akan segera menanti jika salah seorang diantara kami tidak melaksanakan shalat berjama’ah. Aku yang kini kelas tiga harus memimpin shalat. Imam diantara adek-adek kami yang masih kelas dua.
Mentari yang bersinar terang tiba-tiba di balut dengan mendung lebat serta petir yang meronta-ronta. Proses pembelajaran pun dihentikan dalam kelas. Hujan pun mulai turun di tengah musim kemarau. Tanah yang dulunya kering kini mulai basah dengan air hujan. Tumbuh-tumbuhan pun yang sepertinya layu kini mulai bermekaran.
Aku pun mulai melangkahkan kaki untuk pulag ke rumah. Di rumah sudah ada ibu menungguku. Rasanya perut ini sudah mulai berbunyi gedebak gedebuk. Dari pagi belum pernah terasa makanan berat. Aku langkahkan kakiku menuju ruang dapur. Aku hanya melihat nasi dalam panic. Tak ada sedikit lauk dan sayur untuk campurannya. Aku melapangkan dada ini. Sekalipun hati terasa sakit.
Semenjak nenek yang pernah mengasuhku meninggal. Aku kembali tinggal bersama mama dan ke tujuh saudaraku. Kami hidup dalam zona kesusahan. Tak banyak dari orang-orang tahu tentang keadaan keluarga kami yang semakin hari semakin melarat. Makan pun susah. Setiap hari sepulang dari sekolah aku harus ke sawah untuk mengais sesuap nasi. Kalau bukan begitu kami sekeluarga tak dapat makan apa-apa. Aku dan kakakku membantu orang-orang di sawah. Hasil upahnya biasanya kami diberikan 1 karung padi sehabis panen. Hasil dari itulah sebagian kami jual untuk biaya sekolah dan sebagiannya lagi kami simpan untuk kami makan setiap hari. Ibu sring measehati aku,”jadilah anak yang baik jangan pernah menyerah sekalipun badai topan datang menerjangmu. Gantunglah cita-citamu setinggi langit. Raihlah mimpimu dan senantiasa berdo’a kepada Tuhan yang maha Esa.” Katanya sambil mengusap kepalaku hingga tertidur dalam pangkuannya.
Ibu begitu menyayangiku. Sampai seringkali harus berkorban untukku, dia berharap kepadaku suatu saat nanti saya akan berhasil dan sukses menjadi orang besar. Begitupun aku, sangat berharap menjadi orang yang sukses agar orang tuaku bangga terhadapku, aku harus sekolah mengankat derajat keluargaku yang kini tertinggal.
Di madrasah ini, aku menguasai mata pelajaran dengan baik. Baik pelajaran agama maupun pelajaran umum. Kali ini aku harus terpaksa bersaing dengan seorang murid perempuan di kelasku yang sangat pintar. Nama perempuan itu adalah yang selalu bermain-main dalam pikiranku sejak aku menjejakkan kaki di kelas tiga. Ya Rukmini. Siapa lagi? Aku terpaksa bersaing dengannya untuk menduduki peringkat teratas di kelas.
Aku sebenarnya tidak merasa gentar atau gelisah dengan persaingan ini. Bahkan, aku senang dan menyambutnya dengan nad terbuka. Itulah caranya agar aku rajin dan memusatkan perhatian pada pelajaran. Lagi pula, sainganu kali ini istimewah orangnya.
Malam yang indah dengan bayangan wajah nan indah bah permata bersinar di tengah bintang-bintang nan jauh disana. Ya…. Wajah Rukmini. “Engaku tercipta dalam kesempurnaan, kelembutan dan kesucian hati membawa dirimi dalam keheningan malamku. Biarkan rembulan mempertemukan mata hati kita bersemayam dalam buaian asmara wahai pujaan hatik.”sebutku dalam hati.
Namun, tiba-tiba, aku teringat janji yang pernah aku katakan: untuk semua wanita yang menjadi pujaan pernahmengunjungi gubuk hatiku, kuucapkan beribu maaf karena harus aku utamakan menuntut ilmu, sebelum mendambakan pujaan hati. Seperti yang tersurat dalam kalam rasul, “jika engkau menginginkan dunia maka hendaklah dengan ilmu, jika engkau menginginkan ahirat maka hendaklah dengan ilmu, jika engkau menginginkan keduanya maka hendaklah dengan ilmu.”
Aku tersentak sejenak. Hatiku bertempur. Tentunya, setelah aku lulus dari ujian yang penting ini, aku layak bersenang-senang. Meskipun aku telah berjanji demikian. Tidakkah sedikit konvensasi untukku menghibur hati yang lemah ini.
Aku tersenyum sendiri atas tawar menawar yang aku lakukan terhadap diriku sendiri. Tiba-tiba, rintihan terdengar dari balik kamar sebelah berukuran 2×3 seperti meronta-ronta memanggil namaku. Hati seakan bekecamuk tidak beraturan, kulangkahkan kakiku menuju ruangan itu dengan tergesa-gesa.
“Aco…..anakku…..” Rintihan ibu memanggil-manggil namaku.
“Astagfirullah. Kenapa ma…? Mama baik-baik saja kan? Badan mama dingin.”
“Ambilkan air minum serta obatnya mama di atas lemari pojok.”
“iya ma….”
“Mengingat umur mama yang sudah tua tetapi dia masih saja berusaha kuat banting tulang kerja kesana kemari tak kenal lelah. Aku bangga memiliki ibu seperti mama,” kataku sambil menyodorkan obat pesanan mama di atas lemari.
Mama pun tersenyum dengan bangga. Tak pernah mengeluh dengan pemikiran melayang-melayangseperti membayangkan sesuatu. Kepala menoleh ke atas menatapi langit-langit rumah tanpa palfon tembus dengan atap rumah yang terbuat dari seng. Kadangkala panas disaat terik matahari dan dingin disaat malam hari.
Tiba-tiba mata mama menoleh ke arahku, memandangi wajahku dengan penuh kasih saying. Tangan nan lembut meraih kepalaku dan mengusap dengan tangan yang penuh dengan benjolan-benjolan yang melepuh di telapak tangannya. Matanya yang sayuh kini menetes air mata di pipinya sebelah kanan sambil berkata padaku.
“Jaga dirimu baik-baik nak Aco.”
“Iya bu…”
“Lanjutkan sekolahmu. Hargai orang lain seperti mereka menghargaimu, berusahalah yang terbaik dan jangan pernah menyerah. Buatlah orang lain bangga padamu. Jangan engaku menyakiti orang lain karena kaan engaku menyakiti pasti suatu saat nanti engkau akan tersakiti. Jangan pernah berusaha unuk menjadi yang terbaiktetapi berusahalah semampumu untuk melakukan yang terbaik.” Demikian pesan terakhir mama yang pernah aku ingat.
***
“Bangun nak, sudah jam 6.00 pagi.” Sahut mama disampingku sementara merapikan sarung dan pakaian yang bertebaran.
Aku segeakan diriku mengambil air dan mandi secukupnya. Dimadrasah, aku tak menemukan sesosok wanita yang menjadi simpanan kasih hati. Siapa lagi kalau nukan Rukmini. Aku tidak berani untuk menanyakan ketidak hadirannya, karena teman-teman sama tahu tentang aku dan Rukmini yang sebenarnya memiliki perasaan yang sama meskipun tak pernah diugkapkan.
“Hakim.” Sebut bu guru wali kelas mengabsen kami.
“ saya bu…”
“Tamin.”
“Saya bu….”
“Rukmini….”
Tak ada orang pun diantara kami yang menyahut. Tiba-tiba, saja seorang tak dikenal menghadap kepada wali kelas. Aku berusaha untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Hati ini tak tenang seakan sesuatu telah terjadi menimpa Rukmini seorang wanita yang lemah lembut, sabar, dan penyayang sementara di selah pembicaraan keduanya aku mendengar tentang accident. Hati ini semakin kacau dan tidak karuan. Aku berusaha untuk menenangkan diri tapi fatal tidak berhasil.
“Inna lillahi wainnailaihi raaji’un. Telah berpulang ke rahmatullah teman kita anakdah Rukmini karena kecelakaan yang menimpa saat berangkat ke madrasah kita ini. Olehnya itu marilah kita bersama-sama mengirimkan surah al-Fatihah untuk belaiu.” Pinta bu guru wali kelas terkait dengan kecelakaan yang meimpa Rukmini. Tiba-tiba, kelas yang begitu tenang dan tentram berubah menjadi gaduh dan tidak karuan. Beberapa murid perempuan termasuk teman akrab Rukmini meneteskan air mata. Sementara aku tak tahan rasanya ingin meneteskan air mata tapi tidak enak rasanya sama teman laki-laki lainnya yang hanya tinggal bengong tak tahu ingin berbuat apa.
Kegiatan belajar mengajar pun terpaksa harus dihentikan, menuju ke rumah duka Rukmini. Aku mendapatkan kedua orang tua Rukmini meratapi anaknya yang cantik belia harus menghadap sang ilahi untuk selama-lamanya. Hanya air mata yang terlihat menderas membasahkan lagi darah yang tak basah. Sebuah wajah yang tak lagi terkenali itu terlihat menangis.
Tak diduga pula, suara bising pun terdengar diantara pelayak yang hadir menyebut namaku.
“Dimana Aco?” seseorang telah menanyakan keberadaanku.
“Iya. Saya di sini.” Aku segera dan ternyata kakak saya yang sulung menjemputku dengan mata memerah.
“Kenapa kak?” tanyaku yang semakin tidak tenang.
“Kamu harus pulang sesuatu telah terjadi di rumah.” Katanya sambil menyalakan motornya.
“Ya tuhanku apa lagi yang terjadi di keluargaku?” sebutku dalam hati.
Sekarang aku jauh lebih sunyi dari kaum nista yang sekarat, karena mereka setidaknya memiliki lukisan yang wajah-wajah yang mereka cintai selama ini.
Dari jauh ku memandang secarik kain putih dibentangkan berada pas depan rumahku. Aku menanyakan kepada kakakku,” apa yang terjadi di rumah kak?” belaiu tak menjawab sepatah katapun dariku. Sampai aku benar-benar berada di sekitar rumah, aku mendengar suara rintihan kakak perempuan menyebut nama sang mama. Hati inis semakin menjadi-jadi dan tak sanggup melangkahkan kaki ini. Salah satu dari kakak perempuan datang menemuiku dan memelukku erat-erat dan berkata.
“sabar dek, ibu telah tiada, dia telah pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kuatkan hatimu.”
Aku terpaku duduk terdiam maratapi sosok yang tak berdaya kaku. Kulihat sorot wajah nan pucat guratan wajah yang tak bergeming. Sesaat itu kesentuh jemari tangannya yang dingin, ku kecup wajahmu yang putih pucat. Lidahmu terasa kelu meski ada seuntai rasa yang ingin aku ungkapkan.
“Mama…”
Ku ayungkan tanganku menampar daging-daging di pipimu yag tak kau raih tak mendapat balasan apapun. Aku berdiri menjauh dan terus melangkah ini tak mugkin terjadi pada ibuku. Kupejamkan mata untuk meraih ketegaran mencapai kesabaran hati menerima tanpa kata. Aku kembali memeluk tubuhmu berharap angkau kembali tapi itu tak terjawab.
“Mama…”
“Kembalilah, ajar aku untuk menjadi soso yang kuat, yang gagah yang akan menghiasi hidupmu untuk selamanya.”
Inilah aku menjadi remuk tak berdaya dan sosok yang memeluk duka dua wanita dambaan hati yang lara.
Pembuat: Kaharudin
Tuesday, January 6, 2015
Ririn, Taka dan Demensia
Ririn tampak gelisah melirik jam di tangannya, sudah dua puluh menit berlalu sejak Taka pamit ke toilet, diraihnya telpon genggam dari dalam tas tangannya tampak wajah Taka memenuhi layarnya, wajah yang selalu bisa membuatnya tersenyum.
“Apa? Kamu serius Rin?,” Ana tampak terkejut saat Ririn menceritakan tentang hubungannya dengan Taka. Ia berharap Ririn hanya bercanda, namun Ririn justru mengangguk dan tersenyum begitu bahagia.
“Kamu tahukan gimana Taka?,” Tanya Ana masih tak percaya.
“An, cinta itu masalah perasaan dan saat ia datang tidak seorang pun yang bisa menolak kehadirannya,” Ana ternganga mendengarkan Ririn yang tampak mabok cinta hingga sanggup mengeluarkan kalimat sebijak itu.
“Jangan-jangan kamu dipelet,” Ana benar-benar tidak rela melihat temannya, Ririn, harus jadian dengan Taka. Bahkan semua anak-anak dikampus mereka tahu siapa Taka.
Ririn tertawa mendengarnya, “Sekarang tuh udah jamannya komputerisasi, semua-muanya serba modern. Nggak ada lagi yang namanya pelet-pelet. Udah ah, aku pergi dulu, lama-lama disini aku jadi ngerasa terlempar kemasa lalu.” Ana terbengong-bengong menatap kepergian Ririn.
Taka, pemuda yang menjadi tambatan hati Ririn sebenarnya sosok yang lumayan tampan dan tampak terpelajar, hanya saja ia memiliki ‘penyakit’ yang sering membuat teman-temannya gondog setengah mati.
Lupa, Taka benar-benar seorang pelupa. Ia seperti kakek tua yang memiliki masalah dengan daya ingat, padahal umurnya baru dua puluhan tahun.
Tiap kali ada tugas kelompok, teman-temannya selalu menghindarinya, karena tugas-tugas itu bukannya kelar malah runyam. Pernah suatu ketika, Taka ditugasi teman-temannya untuk mencari sebagian materi dari tugas mereka. Namun akhirnya mereka harus rela mendapat nilai D yang disebabkan oleh ‘penyakit’ lupanya Taka.
Bahkan Dion, teman sekamar Taka, pernah mendobrak pintu kamar karena kunci yang biasanya terselip diatas pintu dibawa Taka pulang kampung.
Bukan hanya Dion, Rahmat pun menjadi ‘korbannya’. Ceritanya, Taka yang ingin mengambil uang kiriman di ATM lupa membawa kartu ATMnya dan baru menyadarinya saat didepan mesin ATM. Karena Dion sedang ada kuliah tambahan, mau tidak mau Rahmat yang baru pulang harus rela berpanas-panas ria dalam angkot demi membantu Taka, mengantarkan kartu ATM.
Dengan kesal Ririn mencari nama Taka di HPnya. “Halo Beib, kamu dimana? Apa? Dirumah? Kamu sadar nggak sih, tadi kita tuh pergi bareng? Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus balik lagi dan jemput aku.” Ririn langsung mematikan telponnya. Wajahnya tampak merah kuning ijo karena jengkel. Taka sudah enak-enakkan dirumah dan lupa kalau tadi mereka pergi berdua.
Seperempat jam berlalu saat Taka terlihat buru-buru mendatangi Ririn yang hampir lumutan. “Sorry Beib, sorry, aku bener-bener lupa kalau tadi lagi jalan bareng kamu,” ucap Taka penuh penyesalan.
Ririn mendengus kesal. “Lupa, lupa dan selalu lupa,” Ririn mulai mengeluarkan uneg-unegnya.
“Lama-lama aku capek dengan hubungan ini. Kamu selalu ninggalin aku., selalu aja lupa. Apa separah itu ingatanmu?,” Suasana akan semakin panas bila Taka menjawab karena itu ia hanya diam dan merenungi kesalahannya.
“Kemarin kamu ninggalin aku direstoran. Kemarinnya lagi kamu lupa dengan janji kita untuk nonton dan dua jam aku nunggu kamu didepan bioskop kayak orang bego.” Penuh emosi Ririn mengungkit semua kesalahan Taka.
“Kemarin-kemarinnya kamu ninggalin aku dipesta ulang tahun temanmu yang sama sekali nggak aku kenal. Dan tadi kamu pamit mau ke toilet, tapi apa? Kamu malah pulang sendiri dan lagi-lagi ninggalin aku.” Airmata Ririn mulai menitik, ia benar-benar marah. Untung saja cafĂ© itu tidak terlalu ramai, hingga mereka tidak menjadi pusat perhatian.
“Aku capek, capek harus selalu memaklumi keadaanmu. Sementara kamu nggak pernah berusaha ‘mengobati’ kekurangan itu,”
Taka ingin meraih tangan Ririn namun segera ditepis halus. “Please Beib, maafin aku. Aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi.”
“Basi. Telingaku sudah sering mendengar kata-kata itu. Tapi apa buktinya? Nothing. Kamu tetap aja ngelakuin kesalahan yang sama dan berulang-ulang.” Airmata Ririn semakin deras, hatinya terasa sakit bila mengingat sifat lupa Taka.
“Please Beib, maafin aku. Cuma kamu yang bisa memahami aku ketika yang lainnya menjauh. Aku akan buktikan, aku nggak akan ngelupain kamu lagi.”
Hati Ririn terenyuh mendengar kata-kata Taka, namun ia sudah benar-benar lelah. “Taka, mungkin kita harus berakhir disini.” Ririn menghapus airmatanya, sudut hatinya yang terdalam terasa perih ketika mengatakan keputusannya.
Taka terdiam, ia tak menyangka Ririn akan memutuskannya. Ia pun tidak mendengar saat Ririn berpamitan, dunia tiba-tiba menjadi gelap dimata Taka.
*****
“Rin, kamu bener-bener tega. Tidak bisakah kamu memahami keadaan Taka? Cukup penyakit lupanya saja yang membebaninya, jangan ditambah dengan keputusan konyolmu itu lagi,”
Dion mendatangi Ririn saat melihat gadis itu duduk seorang diri dikantin. Dicecar begitu Ririn hanya diam dan menunduk, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dion, meski suka kesal dengan sifat lupanya Taka, namun sebagai teman ia ikut prihatin ketika mendengar berita pemutusan itu.
“Dulunya Taka adalah anak yang murung dan tidak PD karena penyakitnya, tapi ketika bertemu kamu, dia bisa berubah sedikit terbuka dan PD. Bahkan dia mulai memeriksakan diri kedokter untuk mencari tahu obat penyakitnya. Dia selalu bilang, dia ingin selalu mengingatmu dan tidak ingin melupakanmu.”
Cerocosan Dion berhasil menonjok hati Ririn. Tanpa setahu Dion, mata Ririn mulai berkaca-kaca dan memerah menahan tangis. “Apa kamu tahu, sudah dua hari ini Taka mengurung diri dan tidak menyentuh makanan sedikit pun?,” Dion terdengar menghela nafas kesal, melihat kediaman Ririn.
“Aku yakin, kamu pasti nggak tahu dan nggak mau tahu. Mungkin aku cuma buang-buang waktu disini dan sepertinya aku telah salah menilaimu,” Dion langsung pergi usai mengeluarkan semua isi hatinya.
Airmata Ririn berlomba-lomba keluar dari bolamatanya yang terasa perih dan merah setelah Dion menghilang dari pandangannya. Ana yang baru datang dengan dua mangkok ditangannya, terkejut melihat Ririn.
“Kamu kenapa Rin? Ada yang sakit?,” Tanya Ana khawatir. Bukannya menjawab, Ririn malah berdiri dan langsung berlari meninggalkan Ana yang melongo bingung.
Ririn berlari dan terus berlari tanpa mempedulikan orang-orang yang memandanginya. Tujuannya adalah tempat kost Taka.
Terengah-terengah Ririn sampai didepan kost Taka, dengan satu gerak cepat ia memencet tombol di HP yang kini ada ditangannya. Ia berusaha beberapa kali sebelum akhirnya diseberang sana seseorang mengangkat panggilannya.
“Aku minta maaf karena sudah jahat sama kamu. Aku janji akan berusaha nerima kamu apa adanya. Aku juga janji nggak akan ninggalin kamu lagi. Aku janji.” Kata Ririn dengan uraian airmata. Diseberang sana Taka hanya diam dan tidak lama kemudian memutuskan sambungan telponnya.
Ririn terkulai lemas, ia merasa Taka membencinya dan tidak lagi mau mendengarkannya. Ia pun pasrah bila Taka men-cap-nya sebagai orang kejam dan tidak mau lagi mengenalnya.
Pandangannya mulai mengabur karena airmata ketika sebuah lengan menyentuh bahunya yang berguncang menahan tangis. “Jangan pernah menangis karena aku. Aku akan merasa sangat bersalah.” Sebuah suara yang begitu dikenalnya membuat Ririn menoleh dan mendapati pria yang dicintainya tengah tersenyum memandang kearahnya.
Pembuat: Ulie Ndut
“Apa? Kamu serius Rin?,” Ana tampak terkejut saat Ririn menceritakan tentang hubungannya dengan Taka. Ia berharap Ririn hanya bercanda, namun Ririn justru mengangguk dan tersenyum begitu bahagia.
“Kamu tahukan gimana Taka?,” Tanya Ana masih tak percaya.
“An, cinta itu masalah perasaan dan saat ia datang tidak seorang pun yang bisa menolak kehadirannya,” Ana ternganga mendengarkan Ririn yang tampak mabok cinta hingga sanggup mengeluarkan kalimat sebijak itu.
“Jangan-jangan kamu dipelet,” Ana benar-benar tidak rela melihat temannya, Ririn, harus jadian dengan Taka. Bahkan semua anak-anak dikampus mereka tahu siapa Taka.
Ririn tertawa mendengarnya, “Sekarang tuh udah jamannya komputerisasi, semua-muanya serba modern. Nggak ada lagi yang namanya pelet-pelet. Udah ah, aku pergi dulu, lama-lama disini aku jadi ngerasa terlempar kemasa lalu.” Ana terbengong-bengong menatap kepergian Ririn.
Taka, pemuda yang menjadi tambatan hati Ririn sebenarnya sosok yang lumayan tampan dan tampak terpelajar, hanya saja ia memiliki ‘penyakit’ yang sering membuat teman-temannya gondog setengah mati.
Lupa, Taka benar-benar seorang pelupa. Ia seperti kakek tua yang memiliki masalah dengan daya ingat, padahal umurnya baru dua puluhan tahun.
Tiap kali ada tugas kelompok, teman-temannya selalu menghindarinya, karena tugas-tugas itu bukannya kelar malah runyam. Pernah suatu ketika, Taka ditugasi teman-temannya untuk mencari sebagian materi dari tugas mereka. Namun akhirnya mereka harus rela mendapat nilai D yang disebabkan oleh ‘penyakit’ lupanya Taka.
Bahkan Dion, teman sekamar Taka, pernah mendobrak pintu kamar karena kunci yang biasanya terselip diatas pintu dibawa Taka pulang kampung.
Bukan hanya Dion, Rahmat pun menjadi ‘korbannya’. Ceritanya, Taka yang ingin mengambil uang kiriman di ATM lupa membawa kartu ATMnya dan baru menyadarinya saat didepan mesin ATM. Karena Dion sedang ada kuliah tambahan, mau tidak mau Rahmat yang baru pulang harus rela berpanas-panas ria dalam angkot demi membantu Taka, mengantarkan kartu ATM.
Dengan kesal Ririn mencari nama Taka di HPnya. “Halo Beib, kamu dimana? Apa? Dirumah? Kamu sadar nggak sih, tadi kita tuh pergi bareng? Pokoknya aku nggak mau tahu, kamu harus balik lagi dan jemput aku.” Ririn langsung mematikan telponnya. Wajahnya tampak merah kuning ijo karena jengkel. Taka sudah enak-enakkan dirumah dan lupa kalau tadi mereka pergi berdua.
Seperempat jam berlalu saat Taka terlihat buru-buru mendatangi Ririn yang hampir lumutan. “Sorry Beib, sorry, aku bener-bener lupa kalau tadi lagi jalan bareng kamu,” ucap Taka penuh penyesalan.
Ririn mendengus kesal. “Lupa, lupa dan selalu lupa,” Ririn mulai mengeluarkan uneg-unegnya.
“Lama-lama aku capek dengan hubungan ini. Kamu selalu ninggalin aku., selalu aja lupa. Apa separah itu ingatanmu?,” Suasana akan semakin panas bila Taka menjawab karena itu ia hanya diam dan merenungi kesalahannya.
“Kemarin kamu ninggalin aku direstoran. Kemarinnya lagi kamu lupa dengan janji kita untuk nonton dan dua jam aku nunggu kamu didepan bioskop kayak orang bego.” Penuh emosi Ririn mengungkit semua kesalahan Taka.
“Kemarin-kemarinnya kamu ninggalin aku dipesta ulang tahun temanmu yang sama sekali nggak aku kenal. Dan tadi kamu pamit mau ke toilet, tapi apa? Kamu malah pulang sendiri dan lagi-lagi ninggalin aku.” Airmata Ririn mulai menitik, ia benar-benar marah. Untung saja cafĂ© itu tidak terlalu ramai, hingga mereka tidak menjadi pusat perhatian.
“Aku capek, capek harus selalu memaklumi keadaanmu. Sementara kamu nggak pernah berusaha ‘mengobati’ kekurangan itu,”
Taka ingin meraih tangan Ririn namun segera ditepis halus. “Please Beib, maafin aku. Aku janji nggak akan ninggalin kamu lagi.”
“Basi. Telingaku sudah sering mendengar kata-kata itu. Tapi apa buktinya? Nothing. Kamu tetap aja ngelakuin kesalahan yang sama dan berulang-ulang.” Airmata Ririn semakin deras, hatinya terasa sakit bila mengingat sifat lupa Taka.
“Please Beib, maafin aku. Cuma kamu yang bisa memahami aku ketika yang lainnya menjauh. Aku akan buktikan, aku nggak akan ngelupain kamu lagi.”
Hati Ririn terenyuh mendengar kata-kata Taka, namun ia sudah benar-benar lelah. “Taka, mungkin kita harus berakhir disini.” Ririn menghapus airmatanya, sudut hatinya yang terdalam terasa perih ketika mengatakan keputusannya.
Taka terdiam, ia tak menyangka Ririn akan memutuskannya. Ia pun tidak mendengar saat Ririn berpamitan, dunia tiba-tiba menjadi gelap dimata Taka.
*****
“Rin, kamu bener-bener tega. Tidak bisakah kamu memahami keadaan Taka? Cukup penyakit lupanya saja yang membebaninya, jangan ditambah dengan keputusan konyolmu itu lagi,”
Dion mendatangi Ririn saat melihat gadis itu duduk seorang diri dikantin. Dicecar begitu Ririn hanya diam dan menunduk, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Dion, meski suka kesal dengan sifat lupanya Taka, namun sebagai teman ia ikut prihatin ketika mendengar berita pemutusan itu.
“Dulunya Taka adalah anak yang murung dan tidak PD karena penyakitnya, tapi ketika bertemu kamu, dia bisa berubah sedikit terbuka dan PD. Bahkan dia mulai memeriksakan diri kedokter untuk mencari tahu obat penyakitnya. Dia selalu bilang, dia ingin selalu mengingatmu dan tidak ingin melupakanmu.”
Cerocosan Dion berhasil menonjok hati Ririn. Tanpa setahu Dion, mata Ririn mulai berkaca-kaca dan memerah menahan tangis. “Apa kamu tahu, sudah dua hari ini Taka mengurung diri dan tidak menyentuh makanan sedikit pun?,” Dion terdengar menghela nafas kesal, melihat kediaman Ririn.
“Aku yakin, kamu pasti nggak tahu dan nggak mau tahu. Mungkin aku cuma buang-buang waktu disini dan sepertinya aku telah salah menilaimu,” Dion langsung pergi usai mengeluarkan semua isi hatinya.
Airmata Ririn berlomba-lomba keluar dari bolamatanya yang terasa perih dan merah setelah Dion menghilang dari pandangannya. Ana yang baru datang dengan dua mangkok ditangannya, terkejut melihat Ririn.
“Kamu kenapa Rin? Ada yang sakit?,” Tanya Ana khawatir. Bukannya menjawab, Ririn malah berdiri dan langsung berlari meninggalkan Ana yang melongo bingung.
Ririn berlari dan terus berlari tanpa mempedulikan orang-orang yang memandanginya. Tujuannya adalah tempat kost Taka.
Terengah-terengah Ririn sampai didepan kost Taka, dengan satu gerak cepat ia memencet tombol di HP yang kini ada ditangannya. Ia berusaha beberapa kali sebelum akhirnya diseberang sana seseorang mengangkat panggilannya.
“Aku minta maaf karena sudah jahat sama kamu. Aku janji akan berusaha nerima kamu apa adanya. Aku juga janji nggak akan ninggalin kamu lagi. Aku janji.” Kata Ririn dengan uraian airmata. Diseberang sana Taka hanya diam dan tidak lama kemudian memutuskan sambungan telponnya.
Ririn terkulai lemas, ia merasa Taka membencinya dan tidak lagi mau mendengarkannya. Ia pun pasrah bila Taka men-cap-nya sebagai orang kejam dan tidak mau lagi mengenalnya.
Pandangannya mulai mengabur karena airmata ketika sebuah lengan menyentuh bahunya yang berguncang menahan tangis. “Jangan pernah menangis karena aku. Aku akan merasa sangat bersalah.” Sebuah suara yang begitu dikenalnya membuat Ririn menoleh dan mendapati pria yang dicintainya tengah tersenyum memandang kearahnya.
Pembuat: Ulie Ndut
L.D.R (Long Distance Relationship), It’s Okay!
Kisah ini bermula di sebuah tempat dimana terbentang luas hamparan hijau nan indah, Star Hill. Malam itu tepatnya Saturday night pukul 20.30 WIB, aku yang seorang gadis periang begitu girangnya berada di Star Hill ditemani oleh seorang cowok. Ya, dia adalah teman bermain sekaligus teman belajar, teman curhat, dan bukan teman biasa.
Entah apa yang ada di benakku saat itu, rasanya tak seperti hari lalu ketika sering menghabiskan waktu bersamanya. Perasaan deg-degan tepatnya yang mampu menggambarkan suasana hatiku. “Mungkin dia lebih gelisah dan gak jelas perasaannya”, kataku dalam hati.
Seminggu sebelumnya memang kami telah membuat kesepakatan bahwa malam itu adalah saatnya aku memberikan jawaban atas permintaan dia untuk menjadikanku pacar.
“Hemmm…”, basa-basi yang terlontar dari mulut cowok tampan itu.
Lalu dia berusaha mengulangi lagi apa yang pernah dia katakan padaku.
“Sejak pertama kenal kamu sampai sekarang, kamu istimewa di mataku. Aku jatuh cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”, kata-kata dia ketika menyatakan cintanya padaku. Waktu itu aku belum bisa kasih kepastian, aku butuh waktu satu minggu. Kini tiba saatnya aku untuk menjawab. Baru mau ngomong, bukan main aku dikejutkan dengan pernyataan dia yang mendadak,
“Sebenarnya aku udah memendam cinta dalam hati selama dua tahun… Aku baru berani ngungkapin perasaanku ke kamu sekarang”.
Mataku terbelalak lebar tapi berkaca-kaca. Aku mencoba tersenyum. Aku mulai diberi kesempatan untuk menjawab, dengan terbata-bata seperti pasien yang kritis,
“Ma…’af… ma’afin aku. A-ku ga bi-sa… Aku gak bisa nolak kamu!”.
Spontan semua ketegangan berubah wujud menjadi cair.
Keesokan harinya, aku mengawali Minggu pagi dengan jogging. Aku dengan dia pastinya. “Yeeyee… Ayo lari terus biar sehat!”, kataku sok’ atlet.
“Go! Go! Go!”, sambung dia dengan nada supporter big match.
Status baru yang telah kami sandang membuat kami berseri serasa di taman bunga. Rasanya dunia ini milik kami berdua, yang lain ngontrak.
Aku suka kebaikannya, parasnya, otaknya, suara merdunya, dan yang paling ku suka darinya adalah dia lucu gokil. Aku pikir bila selalu ada di dekatnya, gak akan terkena virus emosi bahkan akan selalu tersenyum dan tertawa. Tapi ternyata sifat pemarahku lebih kuat dari jelangkung (datang tak diundang, pulang tak diantar).
Balik lagi ke-jog-ging! Setelah merasa lelah, aku dan dia pulang ke rumah masing-masing. SMS juga telepon kerap menyandera keseharian kami meskipun kami terbilang sering melakukan pertemuan.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan 1 tahun berlalu, belum 2 tahun. Aku menerima kabar dari dia. Entah kabar buruk atau baik, yang jelas itu membuat aku shock dan migrain disertai mual-muntah. Dia akan terbang ke Negeri Gingseng, Korea (naik elang kaya yang di sinetron laga indosiar, tapi jaman sekarang ya naik pesawatlah). Keputusan yang dia ambil sudah bulat. Akupun pasrah, hanya bisa mendo’akan dan memberikan semangat.
Namun dalam lubuk hatiku yang terdalam, “Aku gak mau kamu pergi jauh!”. “Ku tak bisa… jauh… jauh… darimu… (nyanyi sambil meringis nangis, huh uhu hhu hiks)”.
Suatu hari, trending topic obrolan kami seputar boyband asal Korea. Bukan, maksudnya kebenaran akan kepergiannya ke Korea.
“Bagaimana bisa? Bagaimana kita menjalani hubungan ini? Bagaimana kalo kita gak ketemu selama bertahun-tahun? Bagaimana? Kapan? Di mana? Siapa?”, pertanyaan demi pertanyaan menghujam jantungku.
Aku ragu, aku kecewa, kesal, bingung, penasaran, es campur paling gak enak yang pernah aku makan. Bawaan dia yang slow but sure, ternyata mampu mengkondisikan aku menjadi sedikit lebih tenang.
Kata dia, “Aku mendapatkan kesempatan bagus dan sayang kalo dilewatkan begitu saja”.
“Aku lulus ujian dari sekian puluh ribu yang ikut seleksi government to government untuk bekerja di Korea, kurang lebih tiga tahun lamanya”.
“Aku pengen cari pengalaman dan cari uang sendiri”.
“Nanti kalo aku pulang, aku bawakan oleh-oleh buat kamu”, katanya menggodaku.
Kali ini aku mengalah, aku harus merelakan kepergiannya demi masa depannya.
“Tapi janji yah, kita tetap berhubungan, komunikasi jangan putus, saling percaya, dan menjaga diri”, jawabku seolah sudah siap dengan perbedaan intensitas pertemuan sebelum dan sesudah keberangkatan dia.
***
September kelabu di Jl. Pengantin Ali Ciracas Kampung Rambutan Jakarta, aku bela-belain nyamperin dia yang akan berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama rombongan terpilih seleksi.
Setelah muter-muter sampai nyasar-nyasar akhirnya aku menemukan alamat itu. Aku bertemu dengannya untuk yang terakhir sebelum dia terbang. Kali ini tidak ada percakapan serius, hanya body language kami yang mewakili kesedihan.
“Hati-hati ya pacarku… Aku selalu mendukungmu, mendo’akanmu, dan menunggumu”, ucapanku diiringi air mata yang tiada henti.
Dia menjawab, “OK Thanks My Honey… Aku pergi ya… Daadaaghhh!!! (lambai-lambai tangan)”.
Mungkin dia gak tahu kalo aku terus mengikuti busnya dari belakang sampai kami terpisahkan oleh lampu merah.
***
Indonesia-Korea. Terpaut jarak yang lumayan menyiksa. Hari pertama menjalani hubungan jarak jauh, dia menelpon aku.
“Hallo Sayang. Apa kabar?”, suaranya terdengar melalui udara.
“Baik. Bagaimana kesan pertama menginjakkan kaki di Korea? Kapan pulang?”, sahutku.
Dengan termehek-mehek dia bilang, “Baru aja tiba, malah ditanya pulang. Emangnya Jakarta-Purwokerto?”.
Kemudian kamipun bercakap-cakap sampai pulsanya abis.
Suatu hari via video call on facebook+skype, aku suka sekali dengan ide iseng dia. Waktu liburan musim panas kalo gak salah, dia mengajak aku melihat tempat kerjanya, lewat dunia maya. Dia mengenalkan mesin-mesin canggih, produk-produk perusahaannya, semua tentang pekerjaannya. Aku terkesima melihat pemandangan yang gak ada di Indonesia itu.
“Gimana rasanya abis jalan-jalan ke Korea?, kata dia mengejekku.
Dengan senang hati aku jawab, “Korea hebat ya? Aku suka. Ajak aku ke sana dong…”.
Waktu berjalan begitu cepat. Suatu waktu dimana aku dibuatnya kesal.
“Gak berasa ya udah dua tahun aku di Korea”, kata dia via webcam on Yahoo Messenger.
Aku menjawabnya, “Iya, yes! Sebentar lagi kita ketemu”.
Sambungnya lagi, “Tiga tahun kan masa kontrak kerjaku habis, jadi aku pengen nambah satu tahun lagi ya?” (dia bertanya tanpa rasa berdosa).
“Ya sudahlah”, kataku bukan kata Bondan Prakoso & Fade 2 Black.
“Harus berapa lama aku menunggumu hah?”, bentakku.
Kemudian dia berkata lirih, “Sabar ya sayang… Aku pasti kembali”.
Di sela kesibukanku sebagai pelajar, aku hobby membuat puisi. Aku suka mencurahkan isi hati dan menuangkannya ke dalam tulisan. Saat aku mulai jenuh dengan hubungan ini, berikut ini salah satu goresanku mengenai seorang dia.
Pribadi lembut yang baik hatinya
Mampu menopang gundah
Sosok kuat tapi lemah…
Bisakah hatinya terbuka untuk yang lain?
Setiap kali aku ingin melepasnya
Dia selalu di posisi benteng pertahanan
Adakah dia yg begitu cintaiku, aku tega meninggalkannya?
Dia tak pantas dihujat, dia layak untuk dikasihi
Aku harus mencoba instropeksi diri
Dia lebih segalanya dariku, seakan sempurna di mataku
Mengenalnya adalah anugerah
Dicintainya lebih dari kekuatan apapun
Dia…
Dia makhluk Tuhan yang berwibawa…
Selama keberadaannya di negeri orang, aku tak pernah lupa memberikan semangat setiap harinya, selalu berdo’a demi keselamatan dan kesuksesannya. Aku belajar banyak dari L.D.R (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh ini. Aku bisa melatih kesabaran, sabar menunggu dia pulang. Aku bisa mengerti arti pengorbanan dan perjuangan. Aku percaya dia, begitu juga sebaliknya. Komunikasi yang tercipta antara aku dan dia sangat lancar. Apalagi sekarang jamannya facebook, twitter, skype, yahoo messenger, email, dan lain-lain. Walau terkadang kami sering salah paham, marahan, bahkan putus-nyambung gak jelas, apapun itu, semuanya dapat kami atasi dengan bijak. Hidup itu penuh tantangan dan aku suka sekali tantangan. So, L.D.R (Long Distance Relationship), It’s Okay!
Pembuat: Windu Wulan
Entah apa yang ada di benakku saat itu, rasanya tak seperti hari lalu ketika sering menghabiskan waktu bersamanya. Perasaan deg-degan tepatnya yang mampu menggambarkan suasana hatiku. “Mungkin dia lebih gelisah dan gak jelas perasaannya”, kataku dalam hati.
Seminggu sebelumnya memang kami telah membuat kesepakatan bahwa malam itu adalah saatnya aku memberikan jawaban atas permintaan dia untuk menjadikanku pacar.
“Hemmm…”, basa-basi yang terlontar dari mulut cowok tampan itu.
Lalu dia berusaha mengulangi lagi apa yang pernah dia katakan padaku.
“Sejak pertama kenal kamu sampai sekarang, kamu istimewa di mataku. Aku jatuh cinta sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku?”, kata-kata dia ketika menyatakan cintanya padaku. Waktu itu aku belum bisa kasih kepastian, aku butuh waktu satu minggu. Kini tiba saatnya aku untuk menjawab. Baru mau ngomong, bukan main aku dikejutkan dengan pernyataan dia yang mendadak,
“Sebenarnya aku udah memendam cinta dalam hati selama dua tahun… Aku baru berani ngungkapin perasaanku ke kamu sekarang”.
Mataku terbelalak lebar tapi berkaca-kaca. Aku mencoba tersenyum. Aku mulai diberi kesempatan untuk menjawab, dengan terbata-bata seperti pasien yang kritis,
“Ma…’af… ma’afin aku. A-ku ga bi-sa… Aku gak bisa nolak kamu!”.
Spontan semua ketegangan berubah wujud menjadi cair.
Keesokan harinya, aku mengawali Minggu pagi dengan jogging. Aku dengan dia pastinya. “Yeeyee… Ayo lari terus biar sehat!”, kataku sok’ atlet.
“Go! Go! Go!”, sambung dia dengan nada supporter big match.
Status baru yang telah kami sandang membuat kami berseri serasa di taman bunga. Rasanya dunia ini milik kami berdua, yang lain ngontrak.
Aku suka kebaikannya, parasnya, otaknya, suara merdunya, dan yang paling ku suka darinya adalah dia lucu gokil. Aku pikir bila selalu ada di dekatnya, gak akan terkena virus emosi bahkan akan selalu tersenyum dan tertawa. Tapi ternyata sifat pemarahku lebih kuat dari jelangkung (datang tak diundang, pulang tak diantar).
Balik lagi ke-jog-ging! Setelah merasa lelah, aku dan dia pulang ke rumah masing-masing. SMS juga telepon kerap menyandera keseharian kami meskipun kami terbilang sering melakukan pertemuan.
***
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan 1 tahun berlalu, belum 2 tahun. Aku menerima kabar dari dia. Entah kabar buruk atau baik, yang jelas itu membuat aku shock dan migrain disertai mual-muntah. Dia akan terbang ke Negeri Gingseng, Korea (naik elang kaya yang di sinetron laga indosiar, tapi jaman sekarang ya naik pesawatlah). Keputusan yang dia ambil sudah bulat. Akupun pasrah, hanya bisa mendo’akan dan memberikan semangat.
Namun dalam lubuk hatiku yang terdalam, “Aku gak mau kamu pergi jauh!”. “Ku tak bisa… jauh… jauh… darimu… (nyanyi sambil meringis nangis, huh uhu hhu hiks)”.
Suatu hari, trending topic obrolan kami seputar boyband asal Korea. Bukan, maksudnya kebenaran akan kepergiannya ke Korea.
“Bagaimana bisa? Bagaimana kita menjalani hubungan ini? Bagaimana kalo kita gak ketemu selama bertahun-tahun? Bagaimana? Kapan? Di mana? Siapa?”, pertanyaan demi pertanyaan menghujam jantungku.
Aku ragu, aku kecewa, kesal, bingung, penasaran, es campur paling gak enak yang pernah aku makan. Bawaan dia yang slow but sure, ternyata mampu mengkondisikan aku menjadi sedikit lebih tenang.
Kata dia, “Aku mendapatkan kesempatan bagus dan sayang kalo dilewatkan begitu saja”.
“Aku lulus ujian dari sekian puluh ribu yang ikut seleksi government to government untuk bekerja di Korea, kurang lebih tiga tahun lamanya”.
“Aku pengen cari pengalaman dan cari uang sendiri”.
“Nanti kalo aku pulang, aku bawakan oleh-oleh buat kamu”, katanya menggodaku.
Kali ini aku mengalah, aku harus merelakan kepergiannya demi masa depannya.
“Tapi janji yah, kita tetap berhubungan, komunikasi jangan putus, saling percaya, dan menjaga diri”, jawabku seolah sudah siap dengan perbedaan intensitas pertemuan sebelum dan sesudah keberangkatan dia.
***
September kelabu di Jl. Pengantin Ali Ciracas Kampung Rambutan Jakarta, aku bela-belain nyamperin dia yang akan berangkat menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama rombongan terpilih seleksi.
Setelah muter-muter sampai nyasar-nyasar akhirnya aku menemukan alamat itu. Aku bertemu dengannya untuk yang terakhir sebelum dia terbang. Kali ini tidak ada percakapan serius, hanya body language kami yang mewakili kesedihan.
“Hati-hati ya pacarku… Aku selalu mendukungmu, mendo’akanmu, dan menunggumu”, ucapanku diiringi air mata yang tiada henti.
Dia menjawab, “OK Thanks My Honey… Aku pergi ya… Daadaaghhh!!! (lambai-lambai tangan)”.
Mungkin dia gak tahu kalo aku terus mengikuti busnya dari belakang sampai kami terpisahkan oleh lampu merah.
***
Indonesia-Korea. Terpaut jarak yang lumayan menyiksa. Hari pertama menjalani hubungan jarak jauh, dia menelpon aku.
“Hallo Sayang. Apa kabar?”, suaranya terdengar melalui udara.
“Baik. Bagaimana kesan pertama menginjakkan kaki di Korea? Kapan pulang?”, sahutku.
Dengan termehek-mehek dia bilang, “Baru aja tiba, malah ditanya pulang. Emangnya Jakarta-Purwokerto?”.
Kemudian kamipun bercakap-cakap sampai pulsanya abis.
Suatu hari via video call on facebook+skype, aku suka sekali dengan ide iseng dia. Waktu liburan musim panas kalo gak salah, dia mengajak aku melihat tempat kerjanya, lewat dunia maya. Dia mengenalkan mesin-mesin canggih, produk-produk perusahaannya, semua tentang pekerjaannya. Aku terkesima melihat pemandangan yang gak ada di Indonesia itu.
“Gimana rasanya abis jalan-jalan ke Korea?, kata dia mengejekku.
Dengan senang hati aku jawab, “Korea hebat ya? Aku suka. Ajak aku ke sana dong…”.
Waktu berjalan begitu cepat. Suatu waktu dimana aku dibuatnya kesal.
“Gak berasa ya udah dua tahun aku di Korea”, kata dia via webcam on Yahoo Messenger.
Aku menjawabnya, “Iya, yes! Sebentar lagi kita ketemu”.
Sambungnya lagi, “Tiga tahun kan masa kontrak kerjaku habis, jadi aku pengen nambah satu tahun lagi ya?” (dia bertanya tanpa rasa berdosa).
“Ya sudahlah”, kataku bukan kata Bondan Prakoso & Fade 2 Black.
“Harus berapa lama aku menunggumu hah?”, bentakku.
Kemudian dia berkata lirih, “Sabar ya sayang… Aku pasti kembali”.
Di sela kesibukanku sebagai pelajar, aku hobby membuat puisi. Aku suka mencurahkan isi hati dan menuangkannya ke dalam tulisan. Saat aku mulai jenuh dengan hubungan ini, berikut ini salah satu goresanku mengenai seorang dia.
Pribadi lembut yang baik hatinya
Mampu menopang gundah
Sosok kuat tapi lemah…
Bisakah hatinya terbuka untuk yang lain?
Setiap kali aku ingin melepasnya
Dia selalu di posisi benteng pertahanan
Adakah dia yg begitu cintaiku, aku tega meninggalkannya?
Dia tak pantas dihujat, dia layak untuk dikasihi
Aku harus mencoba instropeksi diri
Dia lebih segalanya dariku, seakan sempurna di mataku
Mengenalnya adalah anugerah
Dicintainya lebih dari kekuatan apapun
Dia…
Dia makhluk Tuhan yang berwibawa…
Selama keberadaannya di negeri orang, aku tak pernah lupa memberikan semangat setiap harinya, selalu berdo’a demi keselamatan dan kesuksesannya. Aku belajar banyak dari L.D.R (Long Distance Relationship) atau hubungan jarak jauh ini. Aku bisa melatih kesabaran, sabar menunggu dia pulang. Aku bisa mengerti arti pengorbanan dan perjuangan. Aku percaya dia, begitu juga sebaliknya. Komunikasi yang tercipta antara aku dan dia sangat lancar. Apalagi sekarang jamannya facebook, twitter, skype, yahoo messenger, email, dan lain-lain. Walau terkadang kami sering salah paham, marahan, bahkan putus-nyambung gak jelas, apapun itu, semuanya dapat kami atasi dengan bijak. Hidup itu penuh tantangan dan aku suka sekali tantangan. So, L.D.R (Long Distance Relationship), It’s Okay!
Pembuat: Windu Wulan
Jujur
Brengsek… kau memang brengsek. Baru kusadari malam ini. Betapa bodohnya aku selama ini percaya dan menelan mentah-mentah seluruh bualan dan rayuan menjijikkanmu. Akh,kupegang kening yang tak panas ini, tapi kacau memikirkan tingkah lakumu padaku sejauh ini. Bodohnya aku baru sadari semua khilafku. Biasanya aku sangat, bahkan terlalu hati-hati dalam mengambil tindakan, ntah kau perdayai aku dengan apa sehingga semua terlanjur menyakitkan dan perih bagiku. Hingga malam ini, tak henti-hentinya otakku berputar mencari jawaban atas apa yang telah terjadi dan menimpaku, kau datang dan pergi sesuka hatimu mempermainkan perasaaanku. Awalnya aku menyalahkan diri sendiri yang tak merespon cintamu, tapi pada akhirnya, tepatnya malam ini, aku yakin semua adalah permainanmu. Dasar wanita bodoh diriku ini
Semua berawal 6 bulan lalu, kita bertemu. Sikap dan perilaku yang kau tunjukkan wajar dan terkesan dalam, kau terlalu hati-hati dalam menanggapi pertanyaan yang terlontar dari mulutku. Kau cukup dewasa, menyenangkan dan membuat aku sedikit greget terhadapmu.
Tapi itu semua masa lalu, dan kini, disini, tepat detik ini akan kubuka semua kebohonganmu agar tak ada lagi wanita yang tersakiti sepertiku saat ini.
Pertama, kau datang dengan mulut manis mengisahkan kisah tragis keluargamu dan menunjukkan betapa tegar dan mandirinya dirimu menopang kehidupan keluargamu untuk membuat aku terkesan. Walau tak ada unsur melebih-lebihkan, kau juga menjual jaminan penghidupan yang baik dari pekerjaanmu dan tingkat pendidikanmu. Bagiku semua hanya alat untuk mempengaruhi seseorang, dan saat itu aku.
Kedua, kau ingin aku beri perhatian lebih pada salah satu adikmu yang bersekolah asrama, dengan alasan kesibukanmu. Dengan pandainya mulutmu itu, meminta dengan tersirat apapun keperluan adikmu perlu pertolongan diriku untuk mengurusnya. Dasar tengik kamu. Pada akhirnya, ketika tidak ada komunikasi yang kau berikan, adikmu datang padaku dengan meminta beberapa barang keperluannya, karena kau tidak bisa. Tidak sempat alasanmu, mau tidak mau adikmu yang…ntah polos betulan atau tidak datang padaku. Dan untungnya, kau tau aku bukan tipe wanita penolak permintaan untuk orang yang sedang tidak punya.
Ketiga, teramat aneh ketika suatu hari engkau memintaku untuk menjemputmu di suatu tempat dan kemudian meminjam kendaraanku untuk melakukan sesuatu. Harusnya di situ aku telah sadar, bahwa kau sedang memanfaatkanku,ya kau memang begitu. Hah,jebakanmu hebat kawan. Namun sayang, saat itu aku sedang tidak enak badan, dengan buru-buru kamu mengatakan tidak apa-apa dan tidak perlu. Aneh…
Keempat, suatu malam yang dingin, smsmu masuk, tak ada angin, lama jua tak ada kabar darimu, tiba-tiba kau bercerita tentang kesulitan ekonomi. Kamu tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar suatu biaya, dan anehnya kau sebutkan nominal dari biaya tersebut, seakan-akan memintaku untuk menyumbang sebagian dari biaya tersebut. Kemudian kau bilang, taka pa kalau tidak bisa membantu. Waw,aneh sekali,dan aku masih belum menyadari penipuan berkedok perasaan ini.
Kelima, kau suka membawa nama-nama orang penting yang suka nangkring di Koran sebagai kerabat atau kolegamu, seolah-olah ingin menarik perhatianku bahwa kau adalah orang yang cukup mengesankan dan bisa di jadikan bahan pameran kalau-kalau bertemu teman atau keluargaku. Bahkan kau selalu membiarkan berkomunikasi dengan saudaramu yang biasa keluar negeri untuk sekedar jalan-jalan. Munafiknya dirimu
Keenam, tak ada angin, tak ada denting apapun. Disaat hari paling penting, paling berharga untukku. Ntah sengaja atau tidak, kau memberi kabar pernikahanmu, dan mengatakan hal-hal yang tidak penting. Seakan-akan semua kata-katamu padaku sejauh ini tak pernah kau berikan. Kau pikir aku ada untuk siapa, kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa. Dan kau sengaja memberitahuku untuk menghancurkan hariku saat itu, tapi kau memang payah, aku bukan batu yang bisa kau hancurkan dengan palu, tapi aku adalah pohon yang memiliki akar yang kuat dan telah menjalar kemana-mana.
Ketujuh, tepat 2 minggu sebelum pernikahanmu, kau datang kerumahku dan meminjam sejumlah uang, dengan alasan kau kehabisan uang dijalan sambil memperlihatkan isi dompetmu. Kemudian dengan pongahnya kau berkata kau dari rumah calon istrimu. Sialan, kau coba sakiti ku tuk sekian ribu kalinya. Berandal tua. Kemudian kau malah menawarkan bantuan untukku yang saat itu kebingungan mencari salah satu pelengkap acara ultah keponakanku.
Kedelapan, aku sedang kesal. Suasana hatiku kacau, aku benar-benar mepet tak punya uang untuk mengirimkan barang salah satu tetanggamu. Kemudian kau menelpon, saat itu kacau dan dengan berat aku minta dengan sangat pertolonganmu, dengan enteng kau bilang, tidak bisa. Aghhh,rasanya, kalau saja handphoneku itu tidak mahal, ingin saja rasanya melemparnya kecermin tepat didepan kasurku.
Kesembilan, setiap kau menelpon, kau selalu bilang, “aku sayang kamu”, “aku kangen kamu”, kemudian, plashhhhhhhh, hilang. Saat aku minta kamu untuk menjemput aku dari sebuah lokasi yang berjarak 2 jam dari tempatmu, kau hanya bilang, jauh ah, malas.
Kesepuluh, kau hanya berani bilang sayang, cinta dan kangen lewat sebuah sms atau kaang-kadang lewat telepon. Kemudian, saat bertemu untuk menatap mataku saja kau tidak berani, harusnya dari awal aku sudah tahu kebohonganmu, kepalsuanmu serta tipuan jadulmu.
Semua yang terjadi dan yang lainnya yang tak mampu kuurai lagi dalam ingatan dan benakku seharusnya sudah cukup untuk membuatku melupakan dan membencimu. Teganya kau permainkan hatiku dan semuanya, kau perdaya disekitar kita hanya untuk memenuhi kepentingan ambisimu. Mungkin kau sedang taruhan pada teman-temanmu, yang mengenalku sebagai hati baja. Harusnya kau tahu, aku kasihan padamu hingga tak mampu menolak mentah-mentah dirimu, yang selama ini suka kulakukan pada kaummu.
Satu hal hey.. ladies yang harus kalian ingat, kalau seorang pria suka mengulang kata atau kalimat tidak, enggak, gak mungkin, maka waspada pada lampu kuning tanda peringatan bahaya. Bahwa tak selamanya mulut dan rayuannya adalah benar, kita kira jujur, padahal palsu.
Tak ada yang kuingin lagi darimu, setidaknya aku tahu kamu brengsek, kamu, brengsek, dan ya, kamu brengsek.
Pembuat: Rahmi
Semua berawal 6 bulan lalu, kita bertemu. Sikap dan perilaku yang kau tunjukkan wajar dan terkesan dalam, kau terlalu hati-hati dalam menanggapi pertanyaan yang terlontar dari mulutku. Kau cukup dewasa, menyenangkan dan membuat aku sedikit greget terhadapmu.
Tapi itu semua masa lalu, dan kini, disini, tepat detik ini akan kubuka semua kebohonganmu agar tak ada lagi wanita yang tersakiti sepertiku saat ini.
Pertama, kau datang dengan mulut manis mengisahkan kisah tragis keluargamu dan menunjukkan betapa tegar dan mandirinya dirimu menopang kehidupan keluargamu untuk membuat aku terkesan. Walau tak ada unsur melebih-lebihkan, kau juga menjual jaminan penghidupan yang baik dari pekerjaanmu dan tingkat pendidikanmu. Bagiku semua hanya alat untuk mempengaruhi seseorang, dan saat itu aku.
Kedua, kau ingin aku beri perhatian lebih pada salah satu adikmu yang bersekolah asrama, dengan alasan kesibukanmu. Dengan pandainya mulutmu itu, meminta dengan tersirat apapun keperluan adikmu perlu pertolongan diriku untuk mengurusnya. Dasar tengik kamu. Pada akhirnya, ketika tidak ada komunikasi yang kau berikan, adikmu datang padaku dengan meminta beberapa barang keperluannya, karena kau tidak bisa. Tidak sempat alasanmu, mau tidak mau adikmu yang…ntah polos betulan atau tidak datang padaku. Dan untungnya, kau tau aku bukan tipe wanita penolak permintaan untuk orang yang sedang tidak punya.
Ketiga, teramat aneh ketika suatu hari engkau memintaku untuk menjemputmu di suatu tempat dan kemudian meminjam kendaraanku untuk melakukan sesuatu. Harusnya di situ aku telah sadar, bahwa kau sedang memanfaatkanku,ya kau memang begitu. Hah,jebakanmu hebat kawan. Namun sayang, saat itu aku sedang tidak enak badan, dengan buru-buru kamu mengatakan tidak apa-apa dan tidak perlu. Aneh…
Keempat, suatu malam yang dingin, smsmu masuk, tak ada angin, lama jua tak ada kabar darimu, tiba-tiba kau bercerita tentang kesulitan ekonomi. Kamu tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar suatu biaya, dan anehnya kau sebutkan nominal dari biaya tersebut, seakan-akan memintaku untuk menyumbang sebagian dari biaya tersebut. Kemudian kau bilang, taka pa kalau tidak bisa membantu. Waw,aneh sekali,dan aku masih belum menyadari penipuan berkedok perasaan ini.
Kelima, kau suka membawa nama-nama orang penting yang suka nangkring di Koran sebagai kerabat atau kolegamu, seolah-olah ingin menarik perhatianku bahwa kau adalah orang yang cukup mengesankan dan bisa di jadikan bahan pameran kalau-kalau bertemu teman atau keluargaku. Bahkan kau selalu membiarkan berkomunikasi dengan saudaramu yang biasa keluar negeri untuk sekedar jalan-jalan. Munafiknya dirimu
Keenam, tak ada angin, tak ada denting apapun. Disaat hari paling penting, paling berharga untukku. Ntah sengaja atau tidak, kau memberi kabar pernikahanmu, dan mengatakan hal-hal yang tidak penting. Seakan-akan semua kata-katamu padaku sejauh ini tak pernah kau berikan. Kau pikir aku ada untuk siapa, kau kira sejauh ini ku datang untuk siapa. Dan kau sengaja memberitahuku untuk menghancurkan hariku saat itu, tapi kau memang payah, aku bukan batu yang bisa kau hancurkan dengan palu, tapi aku adalah pohon yang memiliki akar yang kuat dan telah menjalar kemana-mana.
Ketujuh, tepat 2 minggu sebelum pernikahanmu, kau datang kerumahku dan meminjam sejumlah uang, dengan alasan kau kehabisan uang dijalan sambil memperlihatkan isi dompetmu. Kemudian dengan pongahnya kau berkata kau dari rumah calon istrimu. Sialan, kau coba sakiti ku tuk sekian ribu kalinya. Berandal tua. Kemudian kau malah menawarkan bantuan untukku yang saat itu kebingungan mencari salah satu pelengkap acara ultah keponakanku.
Kedelapan, aku sedang kesal. Suasana hatiku kacau, aku benar-benar mepet tak punya uang untuk mengirimkan barang salah satu tetanggamu. Kemudian kau menelpon, saat itu kacau dan dengan berat aku minta dengan sangat pertolonganmu, dengan enteng kau bilang, tidak bisa. Aghhh,rasanya, kalau saja handphoneku itu tidak mahal, ingin saja rasanya melemparnya kecermin tepat didepan kasurku.
Kesembilan, setiap kau menelpon, kau selalu bilang, “aku sayang kamu”, “aku kangen kamu”, kemudian, plashhhhhhhh, hilang. Saat aku minta kamu untuk menjemput aku dari sebuah lokasi yang berjarak 2 jam dari tempatmu, kau hanya bilang, jauh ah, malas.
Kesepuluh, kau hanya berani bilang sayang, cinta dan kangen lewat sebuah sms atau kaang-kadang lewat telepon. Kemudian, saat bertemu untuk menatap mataku saja kau tidak berani, harusnya dari awal aku sudah tahu kebohonganmu, kepalsuanmu serta tipuan jadulmu.
Semua yang terjadi dan yang lainnya yang tak mampu kuurai lagi dalam ingatan dan benakku seharusnya sudah cukup untuk membuatku melupakan dan membencimu. Teganya kau permainkan hatiku dan semuanya, kau perdaya disekitar kita hanya untuk memenuhi kepentingan ambisimu. Mungkin kau sedang taruhan pada teman-temanmu, yang mengenalku sebagai hati baja. Harusnya kau tahu, aku kasihan padamu hingga tak mampu menolak mentah-mentah dirimu, yang selama ini suka kulakukan pada kaummu.
Satu hal hey.. ladies yang harus kalian ingat, kalau seorang pria suka mengulang kata atau kalimat tidak, enggak, gak mungkin, maka waspada pada lampu kuning tanda peringatan bahaya. Bahwa tak selamanya mulut dan rayuannya adalah benar, kita kira jujur, padahal palsu.
Tak ada yang kuingin lagi darimu, setidaknya aku tahu kamu brengsek, kamu, brengsek, dan ya, kamu brengsek.
Pembuat: Rahmi
Monday, January 5, 2015
Cintaku,Cintamu,Cinta Kita Bersama
“Jadi bener lo jadian sama Pandu?”, suara Gita benar-benar membuat semua orang di angkot menoleh kepada kami. Kami hanya bisa cengar-cengir melihat semua mata tertuju padaku dan Gita. Dasar Gita, nggak pernah bisa ngomong pelan.
“Iye, pelan dikit dong, malu nih sama penumpang lain”, tukasku membuat wajah Gita berlipat. Aku dan Gita bersahabat sejak lama, tepatnya saat dia pindah ke sekolahku, saat itu kami kelas 5 SD dan sekarang kami sama-sama kelas 2 SMA dan kami selalu satu sekolah. Meski tak pernah satu kelas sejak lulus dari SD, tapi Gita adalah sahabat yang terbaik yang selalu menemaniku. Dia adalah pendengar yang baik, tak pernah mengeluh, dan yang paling aku suka adalah Gita yang selalu bisa membuatku tertawa meski dalam kondisi tertekan sekalipun. Dan Pandu adalah teman sekelas Gita, orang yang saat ini membuat aku selalu merasa nyaman ada di sampingnya. Tak pernah terpikirkan olehku bisa berpacaran dengan Pandu, mungkin Gita lah yang berjasa dalam hubungan kami. Pandu adalah anak dengan sejumlah talenta. Prestasinya yang sering membanggakan sekolah membuatnya digilai banyak cewek. Yang aku heran, berdasarkan cerita dari si Gita, Pandu bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Tapi saat bertemu denganku, matanya membuatku merasa di awan, berbinar-binar, agak salting, dan bicaranya jadi tak lancar. Berdasarkan sumber dari si Gita lagi, Pandu paling bisa berbicara di depan umum, apalagi saat mengejek, jago banget dia, begitu kira-kira kata Gita.
“Kok bisa sih dia nembak lo?”, kalimat itu terus dilontarkan Gita. Seperti orang yang keheranan setengah kebingungan.
“Tauk deh, tanya aja sama Pandu kalo gak percaya”, kataku sambil menjulurkan lidah.
“Setahu gue, dia tuh gak pernah suka ama cewek centil apalagi yang suka dandan kayak lo gitu”.
“Hati orang siapa yang tahu sih, Git. Jangan-jangan lo cemburu ya Ngaku deh, kalo lo ngaku, gue bakal mundur tapi syaratnya lo harus nraktir gue makan selama sebulan”
“Sebulan? Gile aje, sorry ya, gue gak bakalan suka sama cowok gila kayak dia. Dengerin ya, dia itu suka ngupil, kayaknya agak h*mo juga, banyak tuh anak cheers yang ditolak dengan alasan gak logis, karena mereka suka nari”
“Hahaha…bukan urusan gue deh, yang penting orang satu sekolah bakal ngiri ngeliat gue jalan sama dia”
“Bentar-bentar, jadi lo cuman manfaatin popularitas Pandu? Jangan, Din, kasihan Pandu, baru kali ini kayaknya dia jatuh cinta”. Ada benarnya kata Gita. Tapi nggak juga ding, aku mencintai Pandu sepenuh hati kok. Jantungku berdebardebar saat bertemu dengannya. Tapi agaknya popularitas lah yang lebih penting dari Pandu. Ah, bodo amat, yang jelas Pandu kini bertekuk lutut padaku.
***
Kulangkahkan kaki kecilku ke rumah Gita, sengaja aku pamit ke rumah Gita sama mama padahal sebenarnya ini adalah kencan pertamaku dengan Pandu. Mama tak pernah mengizinkan aku pacaran, kata mama besok aja kalo udah gede. Nunggu gede apalagi coba, badanku udah bongsor gini masih aja dibilang kurang gede.
Derum sepeda motor datang. Tidak salah lagi itu sepeda motor Pandu. Aku segera keluar rumah ditemani Gita.
“Git, gue pinjem temen lo dulu ya!” kata Pandu setengah bercanda.
“Jagain tuh temen gue, awas ya sampai kenapa-napa, gue samperin nyokap bokap lo”, balas Gita, kali ini dengan nada agak kesal.
“Makanya cepet-cepet punya pacar, biar gak jamuran di rumah, kayaknya tujuh tanda penuaan dini udah muncul tuh gara-gara keasyikan pacaran sama laptop terus, radiasi laptop merusak kecantikan tuh”, detail Pandu.
“Hedeh, udah sana pergi-pergi…Hush..hush..”
“Nah loh, galak banget sama cowok, gimana mau dapet pacar coba”
“Kalo gak pergi aku lempar sandal nih”, kali ini Gita mengangkat sandalnya. Motor pun melaju, Pandu melemparkan senyuman jail ke Gita. Tiba-tiba aku merasa hubungan mereka dekat sekali.
“Sejauh apa sih hubungan kamu sama Gita?”, tanyaku suatu hari pada Pandu.
“Biasa aja, kayak kamu sama Gita”
“Deket banget berarti”, ucapku sambil memincingkan mata
“Gak juga lah, ngapain sih tanya-tanya gak penting”
“Aku takut kamu suka sama Gita”
“Kamu cemburu, percaya deh sama aku, aku gak bakalan suka sama Gita, Gita udah aku anggep kayak temen cowokku. She’s not a girl, you know!”
Agak lega juga mendengar ucapan Pandu. Sepertinya asumsiku hanya sebuah bayang-bayang takut kehilangan Pandu. Sepertinya tak mungkin juga sahabatku berkhianat padaku. Gita yang kukenal tak mungkin tega kepada sahabatnya sendiri dan Pandu jelas-jelas milikku, tak akan mungkin mereka jadi satu.
Akan tetapi, suatu siang saat aku tak sengaja membuka halaman demi halaman buku harian Gita.
Dear Diary
Aku senang sekali bisa sekelas sama dia. Dia adalah orang yang pertama kali membuat otakku tak bisa mencerna dengan baik, membuat nafasku tersengal, dan membuat aku tak pernah bisa berhenti memikirkannya.
Halaman demi halaman kubalik, semua berisi dia dia dan dia. Akhirnya kutemukan satu halaman yang menjadi petunjuk siapa sebenarnya “dia” itu. Dia yang selalu membuat Gita ceria, dia yang dalam tulisan Gita menjadi orang yang terpenting dalam hidupnya setelah kedua orang tuanya, dia yang membuat Gita tersenyum senang ketika bisa bercanda bersama.
Dear Diary
Hatiku hancur, aku bukan sahabat yang baik. Pandu menyukainya, menyukai Diana sahabatku. Aku menyesal telah mengenalkan Diana kepada Pandu. Hatiku tercabik. Dan kini aku harus menangis kemudian menyeka air mata sendirian. Aku tak mau Diana tahu perasaanku, aku tak ingin Diana benci padaku. Aku sayang sahabatku tapi aku tak bisa memungkiri bahwa aku juga mencintai Pandu. Mungkin cinta tak harus diungkapkan dan tak harus memiliki. Aku akan mengalah, meski aku tak mau dibilang kalah. Setidaknya aku menang telak sebagai seorang pembohong. Pantas jadi artis sepertinya. Hahaha…
Dalam suasana sedih begitu, masih saja Gita bisa menertawakan dirinya sendiri. Lembaran itu basah oleh air mata sepertinya, sebagian tintanya luntur. Semua asumsiku ternyata benar. Kepribadianku yang lain tiba-tiba muncul. Maaf Git, aku nggak bisa melepas Pandu. Mungkin kamu sahabatnya, tapi aku lah yang kini berada disampingnya. Tak akan aku biarkan kamu merebut perhatian Pandu. Mulai saat itu juga aku mulai menjauh.
“Din, kemana aja sih, gue cariin gak pernah ketemu, udah kayak Nazarudin aja lo, suka ngilang”, kalimat Gita mengagetkanku yang tengah duduk sendiri di pojok ruangan perpustakaan.
“Akhir-akhir ini jadi pingin sendiri, sorry Git”, aku meninggalkan Gita yang baru saja akan duduk menemaniku. Aku nggak bisa menghindar terus dari Gita. Aku kangen sama celotehan Gita yang nggak penting, kangen caranya menghiburku disaat papa mama sibuk bertengkar, kangen dengan semua-muanya. Setelah aku pikir-pikir aku masih 16 tahun. Bila Tuhan masih memberiku umur panjang, setidaknya akan banyak pengganti Pandu yang lebih baik. Sahabatku lebih penting dari pacarku. Pandu hanyalah orang asing yang memasuki kehidupan kami, sepertinya akan segera merusak persahabatan jika aku tetap bersikukuh ingin Gita menjauh dari Pandu. Sampai pada suatu saat aku menjelaskan kepada Gita bahwa aku telah membaca semua bagian buku hariannya. Menangislah Gita di hadapanku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya aku melihat Gita menangis.
Sepertinya dia tulus mencintai Pandu. “Git, bulan depan aku pindah ke Jogja. Nenek minta ditemeninin soalnya Om Feri ditugasin ke Kuala Lumpur sama kantornya”, kataku sambil memegang pundak Gita.
“Jangan-jangan kamu pindah gara-gara masalah ini??”
“Ge-er. Gue itu bukan tipe orang yang lari dari masalah. Dan lo tau sendiri kan kalo gue gak bener-bener sayang sama Pandu. So, ambil aja noh!”. Gita langsung memelukku erat dan aku membalas pelukannya. Kami berpelukan sangat erat seperti tidak ingin melepaskan satu sama lain.
Pembuat: Tiara Widodo
“Iye, pelan dikit dong, malu nih sama penumpang lain”, tukasku membuat wajah Gita berlipat. Aku dan Gita bersahabat sejak lama, tepatnya saat dia pindah ke sekolahku, saat itu kami kelas 5 SD dan sekarang kami sama-sama kelas 2 SMA dan kami selalu satu sekolah. Meski tak pernah satu kelas sejak lulus dari SD, tapi Gita adalah sahabat yang terbaik yang selalu menemaniku. Dia adalah pendengar yang baik, tak pernah mengeluh, dan yang paling aku suka adalah Gita yang selalu bisa membuatku tertawa meski dalam kondisi tertekan sekalipun. Dan Pandu adalah teman sekelas Gita, orang yang saat ini membuat aku selalu merasa nyaman ada di sampingnya. Tak pernah terpikirkan olehku bisa berpacaran dengan Pandu, mungkin Gita lah yang berjasa dalam hubungan kami. Pandu adalah anak dengan sejumlah talenta. Prestasinya yang sering membanggakan sekolah membuatnya digilai banyak cewek. Yang aku heran, berdasarkan cerita dari si Gita, Pandu bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta. Tapi saat bertemu denganku, matanya membuatku merasa di awan, berbinar-binar, agak salting, dan bicaranya jadi tak lancar. Berdasarkan sumber dari si Gita lagi, Pandu paling bisa berbicara di depan umum, apalagi saat mengejek, jago banget dia, begitu kira-kira kata Gita.
“Kok bisa sih dia nembak lo?”, kalimat itu terus dilontarkan Gita. Seperti orang yang keheranan setengah kebingungan.
“Tauk deh, tanya aja sama Pandu kalo gak percaya”, kataku sambil menjulurkan lidah.
“Setahu gue, dia tuh gak pernah suka ama cewek centil apalagi yang suka dandan kayak lo gitu”.
“Hati orang siapa yang tahu sih, Git. Jangan-jangan lo cemburu ya Ngaku deh, kalo lo ngaku, gue bakal mundur tapi syaratnya lo harus nraktir gue makan selama sebulan”
“Sebulan? Gile aje, sorry ya, gue gak bakalan suka sama cowok gila kayak dia. Dengerin ya, dia itu suka ngupil, kayaknya agak h*mo juga, banyak tuh anak cheers yang ditolak dengan alasan gak logis, karena mereka suka nari”
“Hahaha…bukan urusan gue deh, yang penting orang satu sekolah bakal ngiri ngeliat gue jalan sama dia”
“Bentar-bentar, jadi lo cuman manfaatin popularitas Pandu? Jangan, Din, kasihan Pandu, baru kali ini kayaknya dia jatuh cinta”. Ada benarnya kata Gita. Tapi nggak juga ding, aku mencintai Pandu sepenuh hati kok. Jantungku berdebardebar saat bertemu dengannya. Tapi agaknya popularitas lah yang lebih penting dari Pandu. Ah, bodo amat, yang jelas Pandu kini bertekuk lutut padaku.
***
Kulangkahkan kaki kecilku ke rumah Gita, sengaja aku pamit ke rumah Gita sama mama padahal sebenarnya ini adalah kencan pertamaku dengan Pandu. Mama tak pernah mengizinkan aku pacaran, kata mama besok aja kalo udah gede. Nunggu gede apalagi coba, badanku udah bongsor gini masih aja dibilang kurang gede.
Derum sepeda motor datang. Tidak salah lagi itu sepeda motor Pandu. Aku segera keluar rumah ditemani Gita.
“Git, gue pinjem temen lo dulu ya!” kata Pandu setengah bercanda.
“Jagain tuh temen gue, awas ya sampai kenapa-napa, gue samperin nyokap bokap lo”, balas Gita, kali ini dengan nada agak kesal.
“Makanya cepet-cepet punya pacar, biar gak jamuran di rumah, kayaknya tujuh tanda penuaan dini udah muncul tuh gara-gara keasyikan pacaran sama laptop terus, radiasi laptop merusak kecantikan tuh”, detail Pandu.
“Hedeh, udah sana pergi-pergi…Hush..hush..”
“Nah loh, galak banget sama cowok, gimana mau dapet pacar coba”
“Kalo gak pergi aku lempar sandal nih”, kali ini Gita mengangkat sandalnya. Motor pun melaju, Pandu melemparkan senyuman jail ke Gita. Tiba-tiba aku merasa hubungan mereka dekat sekali.
“Sejauh apa sih hubungan kamu sama Gita?”, tanyaku suatu hari pada Pandu.
“Biasa aja, kayak kamu sama Gita”
“Deket banget berarti”, ucapku sambil memincingkan mata
“Gak juga lah, ngapain sih tanya-tanya gak penting”
“Aku takut kamu suka sama Gita”
“Kamu cemburu, percaya deh sama aku, aku gak bakalan suka sama Gita, Gita udah aku anggep kayak temen cowokku. She’s not a girl, you know!”
Agak lega juga mendengar ucapan Pandu. Sepertinya asumsiku hanya sebuah bayang-bayang takut kehilangan Pandu. Sepertinya tak mungkin juga sahabatku berkhianat padaku. Gita yang kukenal tak mungkin tega kepada sahabatnya sendiri dan Pandu jelas-jelas milikku, tak akan mungkin mereka jadi satu.
Akan tetapi, suatu siang saat aku tak sengaja membuka halaman demi halaman buku harian Gita.
Dear Diary
Aku senang sekali bisa sekelas sama dia. Dia adalah orang yang pertama kali membuat otakku tak bisa mencerna dengan baik, membuat nafasku tersengal, dan membuat aku tak pernah bisa berhenti memikirkannya.
Halaman demi halaman kubalik, semua berisi dia dia dan dia. Akhirnya kutemukan satu halaman yang menjadi petunjuk siapa sebenarnya “dia” itu. Dia yang selalu membuat Gita ceria, dia yang dalam tulisan Gita menjadi orang yang terpenting dalam hidupnya setelah kedua orang tuanya, dia yang membuat Gita tersenyum senang ketika bisa bercanda bersama.
Dear Diary
Hatiku hancur, aku bukan sahabat yang baik. Pandu menyukainya, menyukai Diana sahabatku. Aku menyesal telah mengenalkan Diana kepada Pandu. Hatiku tercabik. Dan kini aku harus menangis kemudian menyeka air mata sendirian. Aku tak mau Diana tahu perasaanku, aku tak ingin Diana benci padaku. Aku sayang sahabatku tapi aku tak bisa memungkiri bahwa aku juga mencintai Pandu. Mungkin cinta tak harus diungkapkan dan tak harus memiliki. Aku akan mengalah, meski aku tak mau dibilang kalah. Setidaknya aku menang telak sebagai seorang pembohong. Pantas jadi artis sepertinya. Hahaha…
Dalam suasana sedih begitu, masih saja Gita bisa menertawakan dirinya sendiri. Lembaran itu basah oleh air mata sepertinya, sebagian tintanya luntur. Semua asumsiku ternyata benar. Kepribadianku yang lain tiba-tiba muncul. Maaf Git, aku nggak bisa melepas Pandu. Mungkin kamu sahabatnya, tapi aku lah yang kini berada disampingnya. Tak akan aku biarkan kamu merebut perhatian Pandu. Mulai saat itu juga aku mulai menjauh.
“Din, kemana aja sih, gue cariin gak pernah ketemu, udah kayak Nazarudin aja lo, suka ngilang”, kalimat Gita mengagetkanku yang tengah duduk sendiri di pojok ruangan perpustakaan.
“Akhir-akhir ini jadi pingin sendiri, sorry Git”, aku meninggalkan Gita yang baru saja akan duduk menemaniku. Aku nggak bisa menghindar terus dari Gita. Aku kangen sama celotehan Gita yang nggak penting, kangen caranya menghiburku disaat papa mama sibuk bertengkar, kangen dengan semua-muanya. Setelah aku pikir-pikir aku masih 16 tahun. Bila Tuhan masih memberiku umur panjang, setidaknya akan banyak pengganti Pandu yang lebih baik. Sahabatku lebih penting dari pacarku. Pandu hanyalah orang asing yang memasuki kehidupan kami, sepertinya akan segera merusak persahabatan jika aku tetap bersikukuh ingin Gita menjauh dari Pandu. Sampai pada suatu saat aku menjelaskan kepada Gita bahwa aku telah membaca semua bagian buku hariannya. Menangislah Gita di hadapanku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Untuk pertama kalinya aku melihat Gita menangis.
Sepertinya dia tulus mencintai Pandu. “Git, bulan depan aku pindah ke Jogja. Nenek minta ditemeninin soalnya Om Feri ditugasin ke Kuala Lumpur sama kantornya”, kataku sambil memegang pundak Gita.
“Jangan-jangan kamu pindah gara-gara masalah ini??”
“Ge-er. Gue itu bukan tipe orang yang lari dari masalah. Dan lo tau sendiri kan kalo gue gak bener-bener sayang sama Pandu. So, ambil aja noh!”. Gita langsung memelukku erat dan aku membalas pelukannya. Kami berpelukan sangat erat seperti tidak ingin melepaskan satu sama lain.
Pembuat: Tiara Widodo
Dalam Kotak Sederhana
Pagi ini seperti pagi yang lain. Orang-orang kudengar sayup -sayup memulai harinya. Di jalan aspal kecil dekat tempat ini ibu-ibu tua mengendong bawaan mereka dengan selendang di punggung. Bungkuk tubuh mereka, kumal selendang mereka dan tak berharga bawaan mereka, mungkin hanya kacang panjang, mungkin buah melinjo kering, atau mungkin hanya untaian daun pisang yang nantinya akan di bawa ke pasar.
Aku telah bangun dari tadi, ketika ibu-ibu tua dan siang memulai harinya, akupun memulai hariku, bukan hari yang cerah buatku. Kupandangi atap di atas, kotor, dan digelayuti sarang laba-laba.
Pikiranku tidak kemana-mana,mataku menatap kosong, tetapi hatiku telah terbang, melanglang tinggi dan turun di sebuah memori. Aku resah.
Ku hela nafas, kebangunkan tubuh ini untuk Sholat Subuh. Namun dadaku masih terasa berat meskipun setelah menghadap Allah. Kembali kubaringkan tubuh ini. Atap itu masih tetap sama. Akankah ini selesai sampai di sini. Pikirku. Akankah sejarah ini akan berakhir hanya sekian. Ataukah aku bisa berbuat sesuatu agar cerita ini terus berjalan dan masih tetap aku bisa menikmatinya.
Kuambil hp murahku, ku sms seseorang, kutulis: “Jam berapa nanti mulainya?”
Di jawab: ” jam lapan….”. Aku mendadak membayangkan sesuatu. Dadaku menjadi sesak. Aku ingin menangis. Aku masih ingin tetap di sini, masih ingin menikmati masa-masa indah, masih ingin bersenda bergurau dan masih ingin bebas. Ya Allah, ya Tuhanku, aku sampai di sini apakah ini rencanamu ataukah doaku dulu yang telah Engkau kabulkan. Aku menginginkan yang berbeda untuk saat ini.
Akankah dia merasakan sesuatu yang penting saat ini juga, seperti diriku, sesuatu yang ada kaitannya dengan diriku. Ya Allah, aku rindu dia, aku ingin ia mengerti yang kurasakan saat ini, aku ingin ia menemaniku sampai kapanpun.
Kuambil lembaran surat yang tergeletak di samping tempat tidur.
Kubaca lagi. Tak ada yang salah dalam isi surat itu. Aku memang harus memenuhi keinginan orangtuaku itu. Bahkan itu adalah hak mereka, dan kewajibanku. Karena aku adalah anak mereka dan merekalah yang membiayaiku hidupku.
Jam di dinding menunjukan pukul 06.00. Malas sekali rasanya untuk bersiap-siap. Aku tak mau. Aku masih mencintainya. Aku masih mau bertemu, bercakap- cakap dan merasakan riang cerianya suara itu, ketawanya dan loncatan-loncatan kecilnya ketika ia melihatku. Pikiranku melayang-layang, memori masa lalu satu persatu hadir dan seakan tiada habisnnya.
begitu banyak hal untuk diingat, dan telah mengendap dalam rasa. Ketika aku melihat penjual siomay, aku teringat waktu bersamanya, ketika mencium bau tanah yang naik di pagi hari, aku teringat padanya, ketika aku mengenakan pakaian yang satu itu aku selalu tersenyum karena senang mengingatnya, ketika aku melihat kerudung merah jambu aku selalu teringat padanya, dan setiap aku melihat pintu itu, aku selalu teringat juga padanya, pintu yang tak pernah ia mau memasukinya, karena takut akan ada syetan yang akan mempengaruhi kita. Aku selalu melalui pintu itu setiap hari, berkali-kali. Aku mencintainya. Aku rindu.
Jam kusam di dinding telah menunjuk pukul 07.30. Seakan gumpalan karung pasir, ku angkat susah payah tubuh ini menuju kamar mandi. Dinginnya air tak terasa, bahkan aku merasa tiba-tiba telah berada di kamar lagi. baju wisuda telah tergantung di dinding, kuambil fotonya dari dalam bukuku dan kupandangi.
” Kenapa kau tidak bisa lulus bersamaku, kenapa sampai sekarang masih banyak mata kuliah yang harus kau ulang, kenapa kau tidak bersungguh-sungguh……sedang aku setelah ini harus pulang ke Sumatera memenuhi permintaan orang tua!” Kataku dengan pelan. kudekap foto itu dan kumasukkan ke dalam dompet. Aku sangat mencintainya.
Pembuat: Saiful Wafa
Aku telah bangun dari tadi, ketika ibu-ibu tua dan siang memulai harinya, akupun memulai hariku, bukan hari yang cerah buatku. Kupandangi atap di atas, kotor, dan digelayuti sarang laba-laba.
Pikiranku tidak kemana-mana,mataku menatap kosong, tetapi hatiku telah terbang, melanglang tinggi dan turun di sebuah memori. Aku resah.
Ku hela nafas, kebangunkan tubuh ini untuk Sholat Subuh. Namun dadaku masih terasa berat meskipun setelah menghadap Allah. Kembali kubaringkan tubuh ini. Atap itu masih tetap sama. Akankah ini selesai sampai di sini. Pikirku. Akankah sejarah ini akan berakhir hanya sekian. Ataukah aku bisa berbuat sesuatu agar cerita ini terus berjalan dan masih tetap aku bisa menikmatinya.
Kuambil hp murahku, ku sms seseorang, kutulis: “Jam berapa nanti mulainya?”
Di jawab: ” jam lapan….”. Aku mendadak membayangkan sesuatu. Dadaku menjadi sesak. Aku ingin menangis. Aku masih ingin tetap di sini, masih ingin menikmati masa-masa indah, masih ingin bersenda bergurau dan masih ingin bebas. Ya Allah, ya Tuhanku, aku sampai di sini apakah ini rencanamu ataukah doaku dulu yang telah Engkau kabulkan. Aku menginginkan yang berbeda untuk saat ini.
Akankah dia merasakan sesuatu yang penting saat ini juga, seperti diriku, sesuatu yang ada kaitannya dengan diriku. Ya Allah, aku rindu dia, aku ingin ia mengerti yang kurasakan saat ini, aku ingin ia menemaniku sampai kapanpun.
Kuambil lembaran surat yang tergeletak di samping tempat tidur.
Kubaca lagi. Tak ada yang salah dalam isi surat itu. Aku memang harus memenuhi keinginan orangtuaku itu. Bahkan itu adalah hak mereka, dan kewajibanku. Karena aku adalah anak mereka dan merekalah yang membiayaiku hidupku.
Jam di dinding menunjukan pukul 06.00. Malas sekali rasanya untuk bersiap-siap. Aku tak mau. Aku masih mencintainya. Aku masih mau bertemu, bercakap- cakap dan merasakan riang cerianya suara itu, ketawanya dan loncatan-loncatan kecilnya ketika ia melihatku. Pikiranku melayang-layang, memori masa lalu satu persatu hadir dan seakan tiada habisnnya.
begitu banyak hal untuk diingat, dan telah mengendap dalam rasa. Ketika aku melihat penjual siomay, aku teringat waktu bersamanya, ketika mencium bau tanah yang naik di pagi hari, aku teringat padanya, ketika aku mengenakan pakaian yang satu itu aku selalu tersenyum karena senang mengingatnya, ketika aku melihat kerudung merah jambu aku selalu teringat padanya, dan setiap aku melihat pintu itu, aku selalu teringat juga padanya, pintu yang tak pernah ia mau memasukinya, karena takut akan ada syetan yang akan mempengaruhi kita. Aku selalu melalui pintu itu setiap hari, berkali-kali. Aku mencintainya. Aku rindu.
Jam kusam di dinding telah menunjuk pukul 07.30. Seakan gumpalan karung pasir, ku angkat susah payah tubuh ini menuju kamar mandi. Dinginnya air tak terasa, bahkan aku merasa tiba-tiba telah berada di kamar lagi. baju wisuda telah tergantung di dinding, kuambil fotonya dari dalam bukuku dan kupandangi.
” Kenapa kau tidak bisa lulus bersamaku, kenapa sampai sekarang masih banyak mata kuliah yang harus kau ulang, kenapa kau tidak bersungguh-sungguh……sedang aku setelah ini harus pulang ke Sumatera memenuhi permintaan orang tua!” Kataku dengan pelan. kudekap foto itu dan kumasukkan ke dalam dompet. Aku sangat mencintainya.
Pembuat: Saiful Wafa
Ada Cinta dalam Alzheimer
Aku menangkap senja di peraduannya. Berjalan menuju bukit-bukit kisahku yang tak terelakkan tantangannya. Memang sedikit gila aku berpikir hingga ke dalam inti otakku sehingga nukleus sel-sel syarafku mengernyit seiring nada yang berjalan dalam pembuluhnya. Tak lagi aku jumpai burung-burung senja pulang ke tempat kediamannya. Aku telah lama rindu dengannya.
“Ah! Peduli amat aku sama dia. Memang dia raja apa? Sampai aku tergila-gila begitu,” sesalku dengan sedikit kemarahan.
Kuning emas menutupi siang begitu cepat. Aku tak sempat tidur dalam kerumunan kendaraan mewah yang berlalu lalang. Sungguh beban yang berat. Zat-zat kimia dalam tubuhku takkan bisa ku lepaskan sedikit pun. Aku tak mau lagi bercanda dengan duniaku yang telah sakit ini.
Harapan semu masihku gantungkan pada bintang-bintang yang lelah menatapku. Namun, sebisa mungkin dia tetap berkelip menghiburku.
“Oh, sungguh menakjubkan ternyata. Kapan-kapan aku pergi denganmu ya bintang kecil. Aku ingin jadi temanmu. Love you!” kataku berbicara lirih pada bintang malam.
***
Malam yang melelahkan mengungkapkan seribu tanya yang takkan terelakkan begitu saja. Aku kembali teringat padamu yang jauh disana. Kau pun berjanji takkan meninggalkanku begitu saja bahkan lama. Mungkin aku telah dibalut rindu yang takkan bisa berperan dalam duniamu, tapi aku mohon kau bisa menyimpan berjuta kenangan kita dalam perjalanan manismu.
“San, kamu nggak makan?” sapa Mama mengagetkanku.
“Eh, iya, Ma! Bentar ya. Aku mau rapiin buku dulu, nanti aku nyusul Mama ke ruang makan deh,” kataku tersenyum ramah.
“Oh, oke! Jangan lama-lama ya, Nak!” kata Mama.
“Oke, Ma!” jawabku mantap.
Tak sedikit aku lupa dengan dirimu. Untuk sementara akan ku tutup dulu buku kisahku denganmu. Aku telah dipanggil Mama dari tadi untuk makan. Tak lama ruang makan pun telah ku tempati dengan begitu cepat. Sungguh menyenangkan berkumpul dengan Mama, Papa dan adikku, Sara. Si kecil yang manis membuatku semakin suka untuk bercanda dengannya.
“San, gimana sekolahmu tadi?” tanya Papa.
“Aman-aman aja kok, Pa!” jawabku singkat.
“Kamu nggak sering sakit kepala lagi kan?” tanya Papa balik.
“Nggak kok, Pa! Sudah agak mendingan dari yang kemaren,”kataku.
“Oh, syukurlah. Habis makan jangan lupa minum obatnya ya,”balas Papa.
“Iya, Pa!” kataku ramah.
Tak sedikit Papa lupa menanyakan sekolah dan kesehatanku. Seakan-akan hal itu dianggapnya sangat penting untuk kemajuanku. Aku seringkali termotivasi dengan kata-kata Papa yang tidak terlalu memaksaku untuk mengikuti kehendaknya. Sebisa mungkin beliau selalu untuk menyamakan keinginanku dengan beliau agar aku bisa selalu tersenyum untuk melalui hari-hariku.
***
Langit cerah pagi menyapaku. Hari itu adalah hari Minggu. Handphoneku berdering tanda telpon telah masuk dari Alex yang sedang berada di Australia dalam rangka memenuhi undangan untuk mengaktifkan penghijauan lingkungan di Indonesia. Dia salah satu terpilih dari berbagai siswa yang ada di sekolahnya. Alex diundang selama sebulan. Cepat-cepat aku mengangkat telponnya.
“Halo!” jawabku heran.
“Halo, San! Ini aku Alex. Gimana kabarmu?” kata Alex.
“Eh, kamu. Aku sangka siapa. Aku baik-baik saja. Kamu gimana kabarnya?” kataku.
“Aku juga baik-baik saja tapi sedikit flu ringan karena sekarang masih musim salju di Sydney,” kata Alex.
“Hmm… Kapan kamu akan balik ke Indonesia?” tanyaku.
“Mungkin aku akan balik sebulan lagi, kata kedutaan Indonesia di Australia akan diperpanjang sampai bulan depan. Aku kangen kamu,San!” kata Alex.
“Lama banget ya! Aku juga kangen dengan kamu. Tiap malam aku akan merindukan kamu bersama bintang-bintang di langit malam,”kataku tulus.
“Ya. Gimana lagi. Aku harus ikut permintaan orang disini. Lagian materi yang baru masuk hanya sedikit, sedangkan yang mau diterapkan di Indonesia banyak. Aku harus lebih keras lagi buat mempelajarinya. Doain aku sukses ya!” kata Alex.
“Hmmm.. Iya deh! Kamu udah makan pagi?” kataku sedikit perhatian.
“Udah! Kamu?” tanya Alex balik.
“Belum! Rencananya aku mau sarapan. Tapi, telponmu udah keburu masuk ke handphoneku. Ya, aku angkat dulu,”kataku langsung.
“Oh, gitu! Oke deh! Kamu sarapan dulu deh biar fit dan jangan lupa minum obatnya ya. Aku harap kamu bisa cepat sembuh ya. Sepulang aku nanti aku akan lihat senyum kamu pertama dalam bola mataku,”kata Alex penuh sayang.
“Oke deh! Makasih ya, Lex!” kataku.
“Iya, San!” kata Alex.
“Aku tutup dulu ya!” kataku mengakhiri.
“Oke!” kata Alex.
***
Telpon pun telah dimatikan. Dalam kedinginan negeri Kangguru itu, Alex sempat juga menggantungkan rasa rindunya pada pohon-pohon yang berjejer sepanjang jalanan Kota Sydney. Sungguh indah dan sedikit mengharukan. Rasanya tak kalah lagi dengan rasa rindunya padaku yang telah aku tumpangkan kerinduanku pada bintang-bintang kecil yang ada dilangit.
“Aku sayang kamu, Sani! Aku janji akan bawakan sejuta harapan buat cintamu,”kata Alex menatap pohon mahoni yang tak ada lagi daunnya karena salju datang begitu cepat.
Wow! Telah ada sejuta cinta dalam pohon mahoni. Setelah Alex menelponku aku kembali ke meja makan yang telah tersedia dengan berbagai hidangan yang ku suka. Mama selalu membuatkanku sayuran yang baik gizinya untuk otakku. Aku terkena penyakit lupa alias demensia. Penyakit ini mungkin akan berlangsung lama, tapi aku akan menahannya dan berjuang hidup.
Tak jarang aku melupakan apa yang telah ku kerjakan sebentar ini. Tapi, aku hanya tersenyum. Aku juga berharap tidak akan melupakan Alex dalam hidupku. Aku sangat berharap bintang-bintang kecil dapat memahamiku apabila aku lupa dengannya. Aku cinta Alex.
***
Senin datang begitu cepat dalam kehidupanku. Seakan-akan aku akan menerima sebuah kejutan manis di sekolah. Tapi, tidaklah begitu mempersulit hidupku. Penyakit lupa yang akan membuatku semakin menyadari arti hidupku. Perjuangan yang manis membuatku terasa nyaman dalam mengkonsumsi zat-zat kimia. Senyum! Takkan pernah aku lupakan untuk memuji setiap perjalananku.
Sekolah yang asri. Memang tak salah pemerintah Indonesia memilih siswa yang akan diundang untuk ikut sosialisasi tentang lingkungan ke Australia dari sekolahku. Aku senang Alex bisa terpilih. Tapi, aku juga takut Alex akan berubah pikiran dalam waktu yang lama namun cepat. Harapan memang hanya berharap tapi tak mudah aku bisa mempertahankannya dengan begitu saja.
“San, kamu ada bikin PR Kimia nggak?” kata Ruri mengejutkanku.
“Hmmm… Emang ada PR Kimia, Ri?” tanyaku heran.
“Aduuuhhhh!!!! Sani! Kemaren kan Ibu Leli kasih kita PR tentang larutan. Kok kamu lupa sih?” kata Ruri.
“Aku lupa. Maaf ya! Aku tidak bikin PR itu. Aku sangka kita tak ada PR. Aku juga lupa untuk mencatat semua tugas-tugas itu. Maaf sekali lagi ya!” kataku sedikit sakit.
“Iya deh! Nggak apa-apa. Kalau gitu kita bikin yuk! Nanti dikumpul,” kata Ruri mengajakku.
“Yuk!” kataku tenang.
Aku pun membuat tugas kimia itu dengan sepenuh hati. Dengan sedikit sakit aku meneteskan air mata yang takkan pernah aku lupakan untuk mengalirkannya. Demensia ini menyebabkan aku terkena penyakit Alzheimer yang sungguh menakutkan. Dalam beberapa bulan ini aku akan kehilangan memori jangka panjang. Nanti! Aku takkan ingat lagi siapa diriku dan Alex. Aku takut.
Tak lama dari kedatangan pagi. Bel pulang sekolah berbunyi nyaring memecahkan setiap keheningan kelas yang dari tadi serius dalam proses belajar mengajar. Bu Leli menutup pelajaran dengan begitu cepat karena beliau buru-buru untuk pulang. Anaknya akan datang dari Amerika.
***
Sebulan telah ku jalani sehingga aku sampai pada akhir penantianku. Aku telah dibunuh rindu yang kuat dengan Alex. Alex akan pulang sebentar lagi. Dia akan sampai di bandara sebentar lagi. Dia akan membawakanku sejuta harapan yang ku tunggu. Aku masih setia. Aku menghubungi Alex yang dengan cepat.
“Halo!” jawab Alex dari seberang sana.
“Halo! Alex! Kamu sudah sampai di bandara belum?” kataku cepat.
“Udah, San! Emang kenapa?” tanyanya dengan logat lain.
“Nggak apa-apa. Aku mau jemput kamu dan aku sangat merindukanmu,”kataku dengan sedikit berharap.
“Oh, iya deh! Aku tunggu ya. Aku satu jam lagi baru berangkat ke rumah. Aku sedang menunggu Marry yang juga aku bawa ke Indonesia sebagai ganti aku yang sudah berkunjung ke negaranya,”kata Alex.
“Hmm… gitu! Oke deh! Aku berangkat ya!” kataku mulai beranjak dari kursi depan teras rumah.
“Iya!” jawab Alex singkat.
Aku tak menyadari betapa bedanya sambutan Alex kepadaku. Padahal, aku tak kan pernah bisa menyambutnya beda untuk saat ini. Aku benar-benar rindu. Aku tak bisa diam lagi. Aku selalu berdoa untuk tetap bertahan dengannya.
Alex sudah tahu siapa aku sebenarnya. Dia juga telah tahu kalau aku telah mengidap penyakit Alzheimer diumurku yang begitu belia. Sungguh menyakitkan apabila ditambah lagi sakitnya dengan pertemuan yang tak berujung dengan indah.
Aku tak bisa lagi menutup cintaku padanya. Bukan aku tak menghargai diriku sebagai wanita, tapi aku menghargai hatiku yang sedang jatuh cinta. Manis memang hubunganku. Aku tak mau kalah dari Juliet yang selalu mencintai Romeo dalam bentuk apapun. Aku cinta.
Ceritaku memang akan berujung pilu namun kau tetap menjaga hatiku untuk bertemu Alex. Ah! Aku tak mempedulikan perasaan negatifku terhadap reaksi Alex yang telah membawa satu wanita yang bernama Marry dan dia mengatakan juga bahwa Marry adalah ganti dirinya yang telah mengunjungi Australia.
Sedikit banyaknya aku memang cemburu. Namun, aku berhasil menepis rasa itu melalui pandanganku yang ku lemparkan pada gedung-gedung tinggi sepanjang perjalanan menuju bandara. Sopir pribadiku memang setia. Aku diantar sampai ke alamat dan dia pun menolongku mencari jejak Alex di bandara.
“Non! Dimana Tuan Alex berada sekarang?” kata sopirku yang bernama Pak Pendi.
“Eh, iya, Pak! Katanya dekat loket penjualan karcis pesawat terbang nomor dua. Antar aku kesana ya, Pak!” pintaku pada Pak Pendi.
“Iya, Non! Ayo kita kesana!”kata Pak Pendi.
Aku berjalan mengelilingi bandara mencari jejak Alex dan Marry. Aku lelah tapi apa boleh buat rasa rinduku tak mungkin hilang begitu saja. Aku ingin menyampaikan pesanku yang takkan pernah aku lupa.
“Non! Itu tuh Tuan Alex! Kita kesana, yuk!” kata Pak Pendi.
“Ayo, Pak!”kataku cepat.
Aku berlari dengan cepat menghampiri Alex yang sedang bercengkrama dengan Marry. Aku menyapa lembut tatapan Alex dan juga Marry. Menakjubkan! Mereka layaknya sepasang kekasih yang sudah berpacaran lama. Aku pun sudah siap dengan setiap pendapat yang akan dikeluarkan Alex padaku.
“Hei, Alex! Gimana kabarmu setelah kembali?” sapaku ramah dengan cemburu.
“Hei, San! Aku baik-baik saja. Oh ya. Ini Marry temanku dari Australia tepatnya Sydney,”balas Alex sembari mengenalkan Marry kepadaku.
“Hei! I’m Sani Dewita. Nice to meet you, Marry!” sapaku lembut.
“Hei! I’ Marry Bostrey. Nice to meet you,too! You’re beutiful girl, Sani! I like you!” kata Marry memuji.
“Hmmm… Eh! Thanks friend! You, too!” kataku membalasnya.
“Kamu nggak sakit lagi kan?” tanya Alex kembali.
“Nggak kok! Aku udah berusaha agar tidak sakit lagi untuk bertemu kamu saat ini,” jawabku sedikit menahan.
“Hmm.. Tapi, kok wajah kamu aneh sekarang?” tanyanya balik.
“Nggak apa-apa kok. Cuma sedikit capek aja! Nggak usah khawatir,”kataku lepas.
“Iya deh! Oh ya, sebentar lagi Mamaku akan datang menjemput, aku mau siap-siap dulu. Kamu mau ikut ke rumahku?” ajak Alex.
“Nggak usah deh, Lex! Aku mau pulang. Mau istirahat. Aku kesini Cuma mau menyampaikan ini “Aku menunggu sampai napasku diambil Tuhan”, bisik Sani tulus ke telinga Alex.
Lalu, aku berlalu pergi dan tetesan demi tetesan membuat butiran bening menghujani pipiku. Pak Pendi dengan sigap mengendarai mobil. Dia tahu bahwa aku telah tersakiti. Hatiku memang sakit, tapi aku tak mau lagi menyalahi pilihan Alex. Aku memang banyak kekurangan, namun aku juga banyak kelebihan. Hatiku mempunyai kelebihan cinta buat Alex. Namun, dia tak merasakan sedikit pun.
Marry yang manis dan sehat akan aku relakan menjadi pasangan masa muda Alex karena aku tak siap lagi untuk menahan kepedihan Alex untukku. Aku hanya dapat menyusahkan dia. Cintaku hanya sampai aku benar-benar lupa dengan semuanya. Aku rela.
***
Dua hari telah berlalu. Seakan-akan aku merasakan kosong pada hatiku. Hal itu diakibatkan karena Alex tak seindah dulu berada dihatiku. Dia tak lagi menghubungiku dengan sesering dulu. Sepertinya, dia lebih mementingkan Marry daripada aku. Setiap di sekolah, aku selalu diberikan perhatian yang berbeda. Aku memang tak sempurna tapi aku akan menjadi diriku dengan utuh.
Aku mulai tak sebaik dan tersenyum mudah seperti dulu lagi. Hari-hariku hampa dan tak bernyawa. Sungguh aku telah menerima penyakit yang kedua setelah penyakit Alzheimer ini. Seharusnya aku berterima kasih, tapi aku tak sanggup untuk mengucapkannya dengan semudah itu.
Alex tak lagi akan ku harapkan. Dia telah menjadi milik Marry, walaupun dia tak pernah mengucapkan kata putus padaku. Aku akan tegar. Aku semakin lama semakin merasakan sakit pada hatiku dan aku depresi.
Sesak menggerogoti liang napasku. Pak Pendi yang sedang duduk di depan rumah pun mendengar keluhanku yang secara tiba-tiba. Dengan kecepatan yang sigap dia langsung mengambil kunci mobil dan melaju menuju rumah sakit tempat biasanya aku berobat. Aku diserang sakit kepala yang begitu hebat dan menyesakkan dadaku.
Sesampai di rumah sakit, Pak Pendi langsung membawaku ke ruang UGD. Beliau lanjut menelpon Mama dan Papa. Tak lama Mama dan Papa pun datang. Beliau cepat-cepat menuju UGD dan menemui dokter pribadiku.
Aku telah mencapai stadium akhir dari penyakit yang aku derita. Itu tak bisa dihentikan lagi. Hari-hariku akan dijalani dengan kelupaan yang berujung kematian yang tak berarti. Alex akan hilang dengan sesaat dari memoriku. Saat itu juga aku harus merelakan Alex untuk Marry. Sakit rasanya menusuk dadaku.
***
Tiga hari kemudian, Alex mencoba menelponku tapi yang mengangkat hanya Mama, karena aku lemah dan belum bisa memegang telpon genggam itu. Berat rasanya bila aku mencoba untuk memaksanya.
“San, aku mau ketemu kamu,”kata Alex langsung.
“Maaf Alex. Ini Mama Sani. Sani sekarang terbaring dirumah sakit. Udah tiga hari ini dia dirumah sakit. Kemaren dia terserang sakit kepala yang hebat,” kata Mama.
“Apa? Sani dirumah sakit?” teriak Alex histeris.
“Iya, Alex!”
“Aku akan kesana tante. Tunggu aku!” kata Alex.
“Iya. Hati-hati ya!” balas Mama.
Telpon dengan cepatnya ditutup. Alex dengan sigap menuju rumah sakit tempat aku dirawat. Aku telah ditemani dengan selang penghantar air infus yang mengandung zat makanan, karena aku tak bisa makan. Aku telah mendapati susah menelan. Sakit sekali. Tak lama Alex datang.
“San, kamu tak apa-apa kan?” kata Alex dengan matanya yang merah.
Aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan. Aku tak lagi bisa bicara dengan begitu lancar lagi. Alex semakin menahan air matanya. Aku tak kuat lagi. Aku usahakan untuk bicara.
“A…lex..! Aku….sa…yang…ka..mu!” kataku terbata-bata.
“Iya, San! Aku juga sayang kamu. Jangan tinggalin aku ya,” kata Alex.
“A…ku…tak…ku..at…lagi! A..ku..mau…ka…mu…ba..ha..gia..de…ngan… Ma…rry…a..ku…re..la!” kataku terbata-bata dengan meneteskan air mata sakitku.
“Jangan, Sani! Aku mohon jangan tinggalin aku! Aku sayang kamu,” kata Alex.
“Le..pas..kan..a..ku..Alex..! A..ku..a…kan…per…gi!” kata Sani lelah.
Sedikit demi sedikit rasa sesak tak jauh dari kerongkongannya. Dia semakin sesak. Mama hanya dapat menahan pedih dengan hilangnya satu anaknya. Dia mencoba untuk tegar memeluk Papa. Alex menelan rasa kecewanya dengan begitu perih. Aku akan bertemu kamu di surga Alex. Jangan lupakan aku ya.
Aku akan terbang jauh menuju singgasana Tuhan yang merindukan kedatanganku. Aku lepas dari duniaMu. Terima kasih telah menerimaku sebagai makhluk ciptaanMu di duniaMu. Selamat tinggal Alex.
Biodata
Penulis ini bernama Martha Syaflina, dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 3 November 1994. anak pertama dari tiga orang bersaudara. Penulis dilahirkan dari pasangan orang tua yang giat berusaha yaitu Bapak Syafman dan Ibu Herlina. Sekarang bersekolah di SMAN 4 Bukittinggi. Dia mulai berkiprah di dunia tulis menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Awalnya dia menulis puisi bertemakan alam dan anak-anak. Dengan hobinya menulis dan membaca, dia melahirkan kata-kata yang bagus dan memiliki aura sastra yang baik.
Mengawali langkah menulis berita singkat tentang sekolah dari SMP yang dimuat di mading SMP. Pernah mengetuai mading selama satu tahun. Bakat menulis terus berkembang hingga menginjak bangku SMA. Tulisan-tulisannya telah dimuat di media cetak Harian Rakyat Sumbar Utara dan Majalah SEMPATI.
Penulis juga pernah menjuarai Lomba Karya Tulis tentang Bung Hatta dan juga Lomba Pidato Nuzulul Qur’an, juara kelas dan menjadi siswa berprestasi beserta nominator Lomba Menulis Puisi se-Sumatera Barat. Sekarang penulis mendapat kepercayaan untuk menjadi Wakil SSSI (Sanggar Sastra Siswa Indonesia) di SMAN 4 Bukittinggi. Penulis juga pernah menjadi anggota Sanggar Sastra Rumah Puisi Taufuk Ismail. Penulis bisa dihubungi di nomor handphone 085374771849 dan email tha_ajha22@yahoo.com.
Pembuat: Martha Zhahira El-Kutuby
“Ah! Peduli amat aku sama dia. Memang dia raja apa? Sampai aku tergila-gila begitu,” sesalku dengan sedikit kemarahan.
Kuning emas menutupi siang begitu cepat. Aku tak sempat tidur dalam kerumunan kendaraan mewah yang berlalu lalang. Sungguh beban yang berat. Zat-zat kimia dalam tubuhku takkan bisa ku lepaskan sedikit pun. Aku tak mau lagi bercanda dengan duniaku yang telah sakit ini.
Harapan semu masihku gantungkan pada bintang-bintang yang lelah menatapku. Namun, sebisa mungkin dia tetap berkelip menghiburku.
“Oh, sungguh menakjubkan ternyata. Kapan-kapan aku pergi denganmu ya bintang kecil. Aku ingin jadi temanmu. Love you!” kataku berbicara lirih pada bintang malam.
***
Malam yang melelahkan mengungkapkan seribu tanya yang takkan terelakkan begitu saja. Aku kembali teringat padamu yang jauh disana. Kau pun berjanji takkan meninggalkanku begitu saja bahkan lama. Mungkin aku telah dibalut rindu yang takkan bisa berperan dalam duniamu, tapi aku mohon kau bisa menyimpan berjuta kenangan kita dalam perjalanan manismu.
“San, kamu nggak makan?” sapa Mama mengagetkanku.
“Eh, iya, Ma! Bentar ya. Aku mau rapiin buku dulu, nanti aku nyusul Mama ke ruang makan deh,” kataku tersenyum ramah.
“Oh, oke! Jangan lama-lama ya, Nak!” kata Mama.
“Oke, Ma!” jawabku mantap.
Tak sedikit aku lupa dengan dirimu. Untuk sementara akan ku tutup dulu buku kisahku denganmu. Aku telah dipanggil Mama dari tadi untuk makan. Tak lama ruang makan pun telah ku tempati dengan begitu cepat. Sungguh menyenangkan berkumpul dengan Mama, Papa dan adikku, Sara. Si kecil yang manis membuatku semakin suka untuk bercanda dengannya.
“San, gimana sekolahmu tadi?” tanya Papa.
“Aman-aman aja kok, Pa!” jawabku singkat.
“Kamu nggak sering sakit kepala lagi kan?” tanya Papa balik.
“Nggak kok, Pa! Sudah agak mendingan dari yang kemaren,”kataku.
“Oh, syukurlah. Habis makan jangan lupa minum obatnya ya,”balas Papa.
“Iya, Pa!” kataku ramah.
Tak sedikit Papa lupa menanyakan sekolah dan kesehatanku. Seakan-akan hal itu dianggapnya sangat penting untuk kemajuanku. Aku seringkali termotivasi dengan kata-kata Papa yang tidak terlalu memaksaku untuk mengikuti kehendaknya. Sebisa mungkin beliau selalu untuk menyamakan keinginanku dengan beliau agar aku bisa selalu tersenyum untuk melalui hari-hariku.
***
Langit cerah pagi menyapaku. Hari itu adalah hari Minggu. Handphoneku berdering tanda telpon telah masuk dari Alex yang sedang berada di Australia dalam rangka memenuhi undangan untuk mengaktifkan penghijauan lingkungan di Indonesia. Dia salah satu terpilih dari berbagai siswa yang ada di sekolahnya. Alex diundang selama sebulan. Cepat-cepat aku mengangkat telponnya.
“Halo!” jawabku heran.
“Halo, San! Ini aku Alex. Gimana kabarmu?” kata Alex.
“Eh, kamu. Aku sangka siapa. Aku baik-baik saja. Kamu gimana kabarnya?” kataku.
“Aku juga baik-baik saja tapi sedikit flu ringan karena sekarang masih musim salju di Sydney,” kata Alex.
“Hmm… Kapan kamu akan balik ke Indonesia?” tanyaku.
“Mungkin aku akan balik sebulan lagi, kata kedutaan Indonesia di Australia akan diperpanjang sampai bulan depan. Aku kangen kamu,San!” kata Alex.
“Lama banget ya! Aku juga kangen dengan kamu. Tiap malam aku akan merindukan kamu bersama bintang-bintang di langit malam,”kataku tulus.
“Ya. Gimana lagi. Aku harus ikut permintaan orang disini. Lagian materi yang baru masuk hanya sedikit, sedangkan yang mau diterapkan di Indonesia banyak. Aku harus lebih keras lagi buat mempelajarinya. Doain aku sukses ya!” kata Alex.
“Hmmm.. Iya deh! Kamu udah makan pagi?” kataku sedikit perhatian.
“Udah! Kamu?” tanya Alex balik.
“Belum! Rencananya aku mau sarapan. Tapi, telponmu udah keburu masuk ke handphoneku. Ya, aku angkat dulu,”kataku langsung.
“Oh, gitu! Oke deh! Kamu sarapan dulu deh biar fit dan jangan lupa minum obatnya ya. Aku harap kamu bisa cepat sembuh ya. Sepulang aku nanti aku akan lihat senyum kamu pertama dalam bola mataku,”kata Alex penuh sayang.
“Oke deh! Makasih ya, Lex!” kataku.
“Iya, San!” kata Alex.
“Aku tutup dulu ya!” kataku mengakhiri.
“Oke!” kata Alex.
***
Telpon pun telah dimatikan. Dalam kedinginan negeri Kangguru itu, Alex sempat juga menggantungkan rasa rindunya pada pohon-pohon yang berjejer sepanjang jalanan Kota Sydney. Sungguh indah dan sedikit mengharukan. Rasanya tak kalah lagi dengan rasa rindunya padaku yang telah aku tumpangkan kerinduanku pada bintang-bintang kecil yang ada dilangit.
“Aku sayang kamu, Sani! Aku janji akan bawakan sejuta harapan buat cintamu,”kata Alex menatap pohon mahoni yang tak ada lagi daunnya karena salju datang begitu cepat.
Wow! Telah ada sejuta cinta dalam pohon mahoni. Setelah Alex menelponku aku kembali ke meja makan yang telah tersedia dengan berbagai hidangan yang ku suka. Mama selalu membuatkanku sayuran yang baik gizinya untuk otakku. Aku terkena penyakit lupa alias demensia. Penyakit ini mungkin akan berlangsung lama, tapi aku akan menahannya dan berjuang hidup.
Tak jarang aku melupakan apa yang telah ku kerjakan sebentar ini. Tapi, aku hanya tersenyum. Aku juga berharap tidak akan melupakan Alex dalam hidupku. Aku sangat berharap bintang-bintang kecil dapat memahamiku apabila aku lupa dengannya. Aku cinta Alex.
***
Senin datang begitu cepat dalam kehidupanku. Seakan-akan aku akan menerima sebuah kejutan manis di sekolah. Tapi, tidaklah begitu mempersulit hidupku. Penyakit lupa yang akan membuatku semakin menyadari arti hidupku. Perjuangan yang manis membuatku terasa nyaman dalam mengkonsumsi zat-zat kimia. Senyum! Takkan pernah aku lupakan untuk memuji setiap perjalananku.
Sekolah yang asri. Memang tak salah pemerintah Indonesia memilih siswa yang akan diundang untuk ikut sosialisasi tentang lingkungan ke Australia dari sekolahku. Aku senang Alex bisa terpilih. Tapi, aku juga takut Alex akan berubah pikiran dalam waktu yang lama namun cepat. Harapan memang hanya berharap tapi tak mudah aku bisa mempertahankannya dengan begitu saja.
“San, kamu ada bikin PR Kimia nggak?” kata Ruri mengejutkanku.
“Hmmm… Emang ada PR Kimia, Ri?” tanyaku heran.
“Aduuuhhhh!!!! Sani! Kemaren kan Ibu Leli kasih kita PR tentang larutan. Kok kamu lupa sih?” kata Ruri.
“Aku lupa. Maaf ya! Aku tidak bikin PR itu. Aku sangka kita tak ada PR. Aku juga lupa untuk mencatat semua tugas-tugas itu. Maaf sekali lagi ya!” kataku sedikit sakit.
“Iya deh! Nggak apa-apa. Kalau gitu kita bikin yuk! Nanti dikumpul,” kata Ruri mengajakku.
“Yuk!” kataku tenang.
Aku pun membuat tugas kimia itu dengan sepenuh hati. Dengan sedikit sakit aku meneteskan air mata yang takkan pernah aku lupakan untuk mengalirkannya. Demensia ini menyebabkan aku terkena penyakit Alzheimer yang sungguh menakutkan. Dalam beberapa bulan ini aku akan kehilangan memori jangka panjang. Nanti! Aku takkan ingat lagi siapa diriku dan Alex. Aku takut.
Tak lama dari kedatangan pagi. Bel pulang sekolah berbunyi nyaring memecahkan setiap keheningan kelas yang dari tadi serius dalam proses belajar mengajar. Bu Leli menutup pelajaran dengan begitu cepat karena beliau buru-buru untuk pulang. Anaknya akan datang dari Amerika.
***
Sebulan telah ku jalani sehingga aku sampai pada akhir penantianku. Aku telah dibunuh rindu yang kuat dengan Alex. Alex akan pulang sebentar lagi. Dia akan sampai di bandara sebentar lagi. Dia akan membawakanku sejuta harapan yang ku tunggu. Aku masih setia. Aku menghubungi Alex yang dengan cepat.
“Halo!” jawab Alex dari seberang sana.
“Halo! Alex! Kamu sudah sampai di bandara belum?” kataku cepat.
“Udah, San! Emang kenapa?” tanyanya dengan logat lain.
“Nggak apa-apa. Aku mau jemput kamu dan aku sangat merindukanmu,”kataku dengan sedikit berharap.
“Oh, iya deh! Aku tunggu ya. Aku satu jam lagi baru berangkat ke rumah. Aku sedang menunggu Marry yang juga aku bawa ke Indonesia sebagai ganti aku yang sudah berkunjung ke negaranya,”kata Alex.
“Hmm… gitu! Oke deh! Aku berangkat ya!” kataku mulai beranjak dari kursi depan teras rumah.
“Iya!” jawab Alex singkat.
Aku tak menyadari betapa bedanya sambutan Alex kepadaku. Padahal, aku tak kan pernah bisa menyambutnya beda untuk saat ini. Aku benar-benar rindu. Aku tak bisa diam lagi. Aku selalu berdoa untuk tetap bertahan dengannya.
Alex sudah tahu siapa aku sebenarnya. Dia juga telah tahu kalau aku telah mengidap penyakit Alzheimer diumurku yang begitu belia. Sungguh menyakitkan apabila ditambah lagi sakitnya dengan pertemuan yang tak berujung dengan indah.
Aku tak bisa lagi menutup cintaku padanya. Bukan aku tak menghargai diriku sebagai wanita, tapi aku menghargai hatiku yang sedang jatuh cinta. Manis memang hubunganku. Aku tak mau kalah dari Juliet yang selalu mencintai Romeo dalam bentuk apapun. Aku cinta.
Ceritaku memang akan berujung pilu namun kau tetap menjaga hatiku untuk bertemu Alex. Ah! Aku tak mempedulikan perasaan negatifku terhadap reaksi Alex yang telah membawa satu wanita yang bernama Marry dan dia mengatakan juga bahwa Marry adalah ganti dirinya yang telah mengunjungi Australia.
Sedikit banyaknya aku memang cemburu. Namun, aku berhasil menepis rasa itu melalui pandanganku yang ku lemparkan pada gedung-gedung tinggi sepanjang perjalanan menuju bandara. Sopir pribadiku memang setia. Aku diantar sampai ke alamat dan dia pun menolongku mencari jejak Alex di bandara.
“Non! Dimana Tuan Alex berada sekarang?” kata sopirku yang bernama Pak Pendi.
“Eh, iya, Pak! Katanya dekat loket penjualan karcis pesawat terbang nomor dua. Antar aku kesana ya, Pak!” pintaku pada Pak Pendi.
“Iya, Non! Ayo kita kesana!”kata Pak Pendi.
Aku berjalan mengelilingi bandara mencari jejak Alex dan Marry. Aku lelah tapi apa boleh buat rasa rinduku tak mungkin hilang begitu saja. Aku ingin menyampaikan pesanku yang takkan pernah aku lupa.
“Non! Itu tuh Tuan Alex! Kita kesana, yuk!” kata Pak Pendi.
“Ayo, Pak!”kataku cepat.
Aku berlari dengan cepat menghampiri Alex yang sedang bercengkrama dengan Marry. Aku menyapa lembut tatapan Alex dan juga Marry. Menakjubkan! Mereka layaknya sepasang kekasih yang sudah berpacaran lama. Aku pun sudah siap dengan setiap pendapat yang akan dikeluarkan Alex padaku.
“Hei, Alex! Gimana kabarmu setelah kembali?” sapaku ramah dengan cemburu.
“Hei, San! Aku baik-baik saja. Oh ya. Ini Marry temanku dari Australia tepatnya Sydney,”balas Alex sembari mengenalkan Marry kepadaku.
“Hei! I’m Sani Dewita. Nice to meet you, Marry!” sapaku lembut.
“Hei! I’ Marry Bostrey. Nice to meet you,too! You’re beutiful girl, Sani! I like you!” kata Marry memuji.
“Hmmm… Eh! Thanks friend! You, too!” kataku membalasnya.
“Kamu nggak sakit lagi kan?” tanya Alex kembali.
“Nggak kok! Aku udah berusaha agar tidak sakit lagi untuk bertemu kamu saat ini,” jawabku sedikit menahan.
“Hmm.. Tapi, kok wajah kamu aneh sekarang?” tanyanya balik.
“Nggak apa-apa kok. Cuma sedikit capek aja! Nggak usah khawatir,”kataku lepas.
“Iya deh! Oh ya, sebentar lagi Mamaku akan datang menjemput, aku mau siap-siap dulu. Kamu mau ikut ke rumahku?” ajak Alex.
“Nggak usah deh, Lex! Aku mau pulang. Mau istirahat. Aku kesini Cuma mau menyampaikan ini “Aku menunggu sampai napasku diambil Tuhan”, bisik Sani tulus ke telinga Alex.
Lalu, aku berlalu pergi dan tetesan demi tetesan membuat butiran bening menghujani pipiku. Pak Pendi dengan sigap mengendarai mobil. Dia tahu bahwa aku telah tersakiti. Hatiku memang sakit, tapi aku tak mau lagi menyalahi pilihan Alex. Aku memang banyak kekurangan, namun aku juga banyak kelebihan. Hatiku mempunyai kelebihan cinta buat Alex. Namun, dia tak merasakan sedikit pun.
Marry yang manis dan sehat akan aku relakan menjadi pasangan masa muda Alex karena aku tak siap lagi untuk menahan kepedihan Alex untukku. Aku hanya dapat menyusahkan dia. Cintaku hanya sampai aku benar-benar lupa dengan semuanya. Aku rela.
***
Dua hari telah berlalu. Seakan-akan aku merasakan kosong pada hatiku. Hal itu diakibatkan karena Alex tak seindah dulu berada dihatiku. Dia tak lagi menghubungiku dengan sesering dulu. Sepertinya, dia lebih mementingkan Marry daripada aku. Setiap di sekolah, aku selalu diberikan perhatian yang berbeda. Aku memang tak sempurna tapi aku akan menjadi diriku dengan utuh.
Aku mulai tak sebaik dan tersenyum mudah seperti dulu lagi. Hari-hariku hampa dan tak bernyawa. Sungguh aku telah menerima penyakit yang kedua setelah penyakit Alzheimer ini. Seharusnya aku berterima kasih, tapi aku tak sanggup untuk mengucapkannya dengan semudah itu.
Alex tak lagi akan ku harapkan. Dia telah menjadi milik Marry, walaupun dia tak pernah mengucapkan kata putus padaku. Aku akan tegar. Aku semakin lama semakin merasakan sakit pada hatiku dan aku depresi.
Sesak menggerogoti liang napasku. Pak Pendi yang sedang duduk di depan rumah pun mendengar keluhanku yang secara tiba-tiba. Dengan kecepatan yang sigap dia langsung mengambil kunci mobil dan melaju menuju rumah sakit tempat biasanya aku berobat. Aku diserang sakit kepala yang begitu hebat dan menyesakkan dadaku.
Sesampai di rumah sakit, Pak Pendi langsung membawaku ke ruang UGD. Beliau lanjut menelpon Mama dan Papa. Tak lama Mama dan Papa pun datang. Beliau cepat-cepat menuju UGD dan menemui dokter pribadiku.
Aku telah mencapai stadium akhir dari penyakit yang aku derita. Itu tak bisa dihentikan lagi. Hari-hariku akan dijalani dengan kelupaan yang berujung kematian yang tak berarti. Alex akan hilang dengan sesaat dari memoriku. Saat itu juga aku harus merelakan Alex untuk Marry. Sakit rasanya menusuk dadaku.
***
Tiga hari kemudian, Alex mencoba menelponku tapi yang mengangkat hanya Mama, karena aku lemah dan belum bisa memegang telpon genggam itu. Berat rasanya bila aku mencoba untuk memaksanya.
“San, aku mau ketemu kamu,”kata Alex langsung.
“Maaf Alex. Ini Mama Sani. Sani sekarang terbaring dirumah sakit. Udah tiga hari ini dia dirumah sakit. Kemaren dia terserang sakit kepala yang hebat,” kata Mama.
“Apa? Sani dirumah sakit?” teriak Alex histeris.
“Iya, Alex!”
“Aku akan kesana tante. Tunggu aku!” kata Alex.
“Iya. Hati-hati ya!” balas Mama.
Telpon dengan cepatnya ditutup. Alex dengan sigap menuju rumah sakit tempat aku dirawat. Aku telah ditemani dengan selang penghantar air infus yang mengandung zat makanan, karena aku tak bisa makan. Aku telah mendapati susah menelan. Sakit sekali. Tak lama Alex datang.
“San, kamu tak apa-apa kan?” kata Alex dengan matanya yang merah.
Aku hanya menganggukkan kepala dengan pelan. Aku tak lagi bisa bicara dengan begitu lancar lagi. Alex semakin menahan air matanya. Aku tak kuat lagi. Aku usahakan untuk bicara.
“A…lex..! Aku….sa…yang…ka..mu!” kataku terbata-bata.
“Iya, San! Aku juga sayang kamu. Jangan tinggalin aku ya,” kata Alex.
“A…ku…tak…ku..at…lagi! A..ku..mau…ka…mu…ba..ha..gia..de…ngan… Ma…rry…a..ku…re..la!” kataku terbata-bata dengan meneteskan air mata sakitku.
“Jangan, Sani! Aku mohon jangan tinggalin aku! Aku sayang kamu,” kata Alex.
“Le..pas..kan..a..ku..Alex..! A..ku..a…kan…per…gi!” kata Sani lelah.
Sedikit demi sedikit rasa sesak tak jauh dari kerongkongannya. Dia semakin sesak. Mama hanya dapat menahan pedih dengan hilangnya satu anaknya. Dia mencoba untuk tegar memeluk Papa. Alex menelan rasa kecewanya dengan begitu perih. Aku akan bertemu kamu di surga Alex. Jangan lupakan aku ya.
Aku akan terbang jauh menuju singgasana Tuhan yang merindukan kedatanganku. Aku lepas dari duniaMu. Terima kasih telah menerimaku sebagai makhluk ciptaanMu di duniaMu. Selamat tinggal Alex.
Biodata
Penulis ini bernama Martha Syaflina, dilahirkan di Bukittinggi pada tanggal 3 November 1994. anak pertama dari tiga orang bersaudara. Penulis dilahirkan dari pasangan orang tua yang giat berusaha yaitu Bapak Syafman dan Ibu Herlina. Sekarang bersekolah di SMAN 4 Bukittinggi. Dia mulai berkiprah di dunia tulis menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Awalnya dia menulis puisi bertemakan alam dan anak-anak. Dengan hobinya menulis dan membaca, dia melahirkan kata-kata yang bagus dan memiliki aura sastra yang baik.
Mengawali langkah menulis berita singkat tentang sekolah dari SMP yang dimuat di mading SMP. Pernah mengetuai mading selama satu tahun. Bakat menulis terus berkembang hingga menginjak bangku SMA. Tulisan-tulisannya telah dimuat di media cetak Harian Rakyat Sumbar Utara dan Majalah SEMPATI.
Penulis juga pernah menjuarai Lomba Karya Tulis tentang Bung Hatta dan juga Lomba Pidato Nuzulul Qur’an, juara kelas dan menjadi siswa berprestasi beserta nominator Lomba Menulis Puisi se-Sumatera Barat. Sekarang penulis mendapat kepercayaan untuk menjadi Wakil SSSI (Sanggar Sastra Siswa Indonesia) di SMAN 4 Bukittinggi. Penulis juga pernah menjadi anggota Sanggar Sastra Rumah Puisi Taufuk Ismail. Penulis bisa dihubungi di nomor handphone 085374771849 dan email tha_ajha22@yahoo.com.
Pembuat: Martha Zhahira El-Kutuby
Bukan Mimpi
Raga menatap parasnya di cermin. Sungguh, tak pernah disangka semua terjadi begitu saja. Impiannya yang dulu dia bangun, tiba-tiba musnah tak berbekas. Semakin dia mengingat kisah cintanya semakin terluka hatinya. Sebenarnya dia tak pernah ingin meninggalkan Ajeng. Hanya saja keputusannya untuk memutuskan hubungan yang telah dijalin hampir tiga tahun itu tak bisa diganggu gugat. Sholat istikharah yang dia lakukan semakin memantapkan hatinya untuk meninggalkan wanita yang dicintainya.
Terkadang terasa aneh jika tiap malam dia menantikan telepon dari Ajeng. Padahal mereka telah putus tunangan hampir tujuh bulan yang lalu. Raga masih memimpikan seorang seperti Ajeng kembali datang untuk menemani hatinya yang sepi. Meskipun dia menyibukkan diri pada hobinya di otomotif, bayangan paras wanita cantik itu belum juga membuat hatinya terbuka untuk mencintai.
Raga memandangi cincin tunangannya yang kini dia simpan di dompet. Dulu dia selalu mengenakan cincin itu di jari manis tangan kirinya. Namun cincin itu kini tinggallah kenangan kisah cintanya. Ajeng, terasa sekali cinta dia hatinya. Dia tahu secara pasti perasaan Ajeng yang terluka saat dia memutuskan tali pertunangan. Namun entah mengapa kemantapan hatinya telah mengalahkan logika. Logikanya, Ajeng adalah wanita sempurna yang pernah ada dalam kehidupannya. Namun bisik hatinya harus meninggalkan wanita secantik Ajeng.
“Ga … udah jam tujuh tuh, come on ngantor…” suara Aryo menggelegar di depan pintu kos Raga.
“Yoi” sahut Raga sambil menyambar tas pinggang yang digantung dekat pintu kos.
Aryo menatap Raga dengan tatapan janggal.
“Kenapa Yo?” tanya Raga.
“Ada yang beda dari kamu, Ga”
“Apaan?”
“Makin kurusan dan acak-acakan. Sepertinya dulu kamu sering pakai minyak wangi sekarang pakaianmu penuh minyak dan oli”
Raga tertawa mendengar komentar teman satu kosnya. Aryo tahu pasti kondisi emosi Raga semenjak putus tunangan dengan Ajeng. Lelaki itu makin tidak memperhatikan penampilan dan mudah marah. Aryo bisa merasakan kesepian hati kawannya itu. Tapi anehnya setiap kali dikenalkan dengan wanita, Raga selalu bersikap acuh. Seakan dia tidak memikirkan untuk memliki kekasih pengganti Ajeng.
“Udah abis minyak wanginya. Males beli lagi” sahut Raga.
“Ga … you should open your heart for love”
“Not now”
Raga tak peduli sekian banyak usaha teman-temannya untuk membuat Raga kembali seperti dulu. Aryo menggelengkan kepala mendengar jawaban temannya itu. Benar-benar berbeda dengan Raga yang dikenalnya dua tahun lalu.
Dua tahun lalu, saat mereka baru saja diterima magang di perusahaan di Jakarta. Saat itu Raga berulang kali mengungkapkan betapa beratnya dia berpisah dengan Ajeng yang bekerja di Madiun, Jawa Timur. Raga bukan tipe lelaki yang mudah untuk jatuh cinta. Cintanya pada Ajeng tumbuh saat mereka sibuk mengerjakan tugas akhir. Kesetiaan dan perhatian Ajeng pada Raga membuat lelaki itu benar-benar jatuh hati pada Ajeng.
“Ga, kalau memang hati kamu sudah mantap untuk meninggalkan semua kenangan tentang Ajeng ya jangan mencoba mengingat-ingat kembali. Itu akan menyakiti kamu”
“Ada hal yang masih jadi satu tanda tanya besar Yo… hanya saja aku nggak tahu harus tanya ke siapa”
“Tentang?”
“Seseorang”
“Hmm… cewek mana Ga?”
“Wanita yang hadir di mimpiku saat istikharah pertamaku”
“Apa cewek itu kukenal”
“Iya Yo… kemarin aku ketemu dia. Rasanya hatiku sedih banget melihat dia menangis”
“Menangis?”
“Iya. Padahal biasanya dia menyapa aku dengan senyum khasnya. Tapi kemarin dia tampak sangat sedih”
“Wah-wah sepertinya seru nih ceritanya”
“Entahlah Yo, tapi nanti saja aku ceritakan di kantor. Yuk berangkat”
Aryo penasaran dengan wanita yang diceritakan Raga. Jika wanita itu dikenal, maka besar kemungkinan adalah orang kantor. Memang Raga sangat ingin memilki hubungan cinta tanpa terbatas jarak. Namun wanita mana yang sanggup memikat lelaki setampan dan sesempurna Raga. Apalagi wanita di kantor yang belum menikah juga bisa dihitung dengan jari.
===
Baru saja Raga memarkir motornya, dia melihat sosok wanita yang selama ini memenuhi pikirannya. Wanita itu sedang berbincang akrab dengan lelaki berperawakan tinggi. Sampai akhirnya wanita itu masuk mushola sementara lelaki berperawakan tinggi segera menuju ke tempatnya berdiri.
“Apakah mungkin mimpi itu adalah petunjuk dari Allah untukku? Mungkinkah wanita itu yang kelak menjadi isteri dan ibu dari anak-anakku?” pikir Raga.
“Ga, Yo… baru dateng?” tegur Indra.
“Iya…” jawab Aryo, “ Sudah selesai dhuha, ustadz?”
“Alhamdulillah.” Indra tersenyum dengan senyuman manis yang mungkin bisa memikat para bidadari surga. Kekhusyukan Indra dalam beribadah membuatnya mendapat julukan ustadz dari teman-teman kantornya.
“Rana sering dhuha di mushola?” tanya Raga.
“Iya…”jawab Indra.
“Ndra, kamu cocok banget tuh sama Rana. Sama-sama khusyuk” sahut Aryo.
Indra tersenyum tersipu, “Bisa saja. Aku gak ada apa-apanya dibandingkan Rana. Shaum senin-kamisnya enggak pernah bolong, dia juga nggak pernah bolos ngaji”
“Ngaji?” Raga menatap Indra, “Ngaji di mana?”
“Pengajian kantor dua kali seminggu setelah pulang kerja” kata Indra, “Lho bukannya dulu, kamu juga ikutan ngaji Ga?”
“Dulu banget” Raga meringis.
“Ya sudah ayo kita ngantin” kata Aryo.
“Aku langsung ke kantor ya Yo” kata Raga.
“Shaum?” Indra menyelidik.
“Insya Allah” jawab Raga.
“Raga ini enggak pernah putus juga shaum senin kamisnya” bela Aryo.
Indra menatap kedua sahabatnya. Memang dari awal dia mengenal Raga dan satu kontrakan dengan lelaki itu, tak pernah dia jumpai Raga meninggalkan puasa senin-kamisnya. Sampai saat ini ternyata Raga masih istiqomah menjaga ibadahnya satu itu. Meskipun pekerjaannya lebih menuntut dia untuk banyak bekerja di lapangan, namun belum sekalipun Raga mengeluhkan diri dan meninggalkan shaum sunah itu.
===
“Semangat pagi Mbak Aisya …” tegur Raga ketika masuk ruangan kantornya.
“Met pagi Raga….” Jawab Aisya.
“Dingin banget nih ruangan. AC-nya baru diservis ya?” Raga melepas wearpack yang dikenakannya.
“Enggak tuh. Mungkin karena lemakmu sudah berkurang makanya dinginnya kerasa”
Raga tersenyum kecut, “Memangnya kelihatan banget ya Mbak kurusnya?”
“Iya Ga…mesti nyari cewek yang bisa ngurus kamu tuh”
“Belum nemu ceweknya Mbak”
“Masa’ kalah sama Rana”
“Kenapa Mbak dengan Rana?”
“Nah gosipnya kan dia dekat sama Pujo. Dan sepertinya memang mereka benar-benar ada hubungan special. Rana selalu tersipu kalau aku menyebut nama Pujo di depannya”
“Rana? Kirana Listya Kusuma?”
“Nah iya, teman seangkatanmu saat magang”
“Rana? Gak mungkin”
“Lah kenapa gak mungkin Ga?”
Raga menatap wanita berparas manis di hadapannya, “Gak mungkin Rana mau pacaran”
“Mereka memang enggak pacaran Ga, ya ditunggu saja undangannya”
Hati Raga mencelos. Baru saja dia merasa ada perasaan aneh saat Indra jauh lebih dekat dengan Rana, tapi kabar mengejutkan justru datang dari Aisya. Rana telah memiliki seseorang yang dekat dengannya.
“Sebenarnya dulu aku pernah berniat nyomblangin kamu sama Rana. Tapi Rana sangat benci anak tunggal. Dia paling gak suka sama cowok yang manja“
“Mbak Aisya nyomblangin aku sama Rana? Ngawur banget”
“Iya, syukurnya Rana juga menolak untuk kucomblangkan denganmu Ga”
“Ya iyalah Mbak, kami tuh beda banget”
“Sebenarnya kalian tuh cocok banget menurutku. Rana dan kamu tuh sama-sama pinternya. Belum lagi shaum sunahnya gak pernah bolong, sama seperti kamu Ga”
Raga merasakan getaran kecil dihatinya, mengingatkan pada mimpi usai sholat istikharah pertamanya. Justru paras Rana yang muncul ketika dia dilemma meneruskan hubungan dengan Ajeng. Entah apa itu merupakan petunjuk dari Allah. Mengapakah kenyataanya jauh berbeda. Hatinya belum bisa mencintai Rana dan Rana pun telah memiliki seseorang untuk dicintai.
“Mbak Aisya tahu sejauh apa hubungan Rana sama siapa tadi?”
“Sama Pujo?” Aisya menyelidik, “Kok sepertinya kamu penasaran banget”
“Ah enggak juga, mungkin hanya perasaan Mbak Aisya saja”
Aisya menggelengkan kepala menatap Raga, “Kalian memang cocok”
“Kalian?”
“Kamu sama Kirana”
“Seandainya saja Mas Raga belum punya tunangan”
“Memangnya kenapa Dek?” selidik Raga.
“Beruntung banget wanita yang jadi isterinya Mas, sudah ganteng pinter pula”
Raga tertawa lebar. Sikap polos Rana seringkali membuat hati Raga tersentuh.
“Mas Raga, Rana nitip kondangan buat Firman ya…” Rana menghampiri meja Raga
“Nah aku kan gak mudik”
“Pokoknya Rana nitip ke Mas Raga”
“Okelah”
“Wah Firman dah merit yo…kamu kapan Ga?” sindir rekan kerja Raga yang duduk berhadapan dengannya di ruangan.
“Mas Raga nungguin Rana, Mas” sahut Rana
“Wuih ditembak tuh Ga” sahut lelaki yang tampak akrab dengan Raga itu.
Raga tersenyum simpul.
“Ga, melamun lagi deh…” tegur Aisya.
“Eh sorry Mbak” Raga tersipu.
“Ya semoga kamu segera menemukan wanita terbaik untuk menjadi pendampingmu”
“Amin…Mbak Aisya juga ya”
Aisya tersenyum manis, “Tahu enggak Ga…aku selalu membayangkan kamu dan Rana itu bisa jadi sepasang kekasih. Entah mengapa aku selalu merasa kalian sangat serasi”
“Wanita selalu pakai perasaan”
“Haha…”
“Logikanya kan mustahil Mbak. Mau ditaruh dimana tuh cowoknya Rana”
“Ya tetep di situlah. Tapi kamunya yang disamping Rana”
“Hahaha ….”
====
Masih terasa sesak di dada, tangis pun belum reda. Rana menengadahkan tangannya usai melaksanakan dhuha. Entah mengapa hatinya mencelos setiap kali bertemu dengan Raga. Seakan menanti sebuah keajaiban datang.
“Hamba sangat takut untuk mencintai ya Allah. Berikanlah petunjukMu dalam setiap langkah ini. Sejak berakhirnya hubungan hamba dengan Mas Herdyan semua terasa begitu menyesakkan. Meskipun hamba tahu Herdyan bukanlah lelaki yang baik untuk mendampingi kehidupan hamba. Namun yang membuat hamba meragu adalah kehadiran Mas Raga. Hamba sungguh takut mencintai Mas Raga, hamba takut terluka. Hamba tak ingin menangis lagi, hamba tak ingin sendirian. Pilihkanlah jodoh terbaik untuk hamba. Jika memang Mas Raga adalah seseorang yang Kau jadikan jodoh hamba, maka dekatkanlah kami atas rahmat dan ridho-Mu. Hamba serahkan segala urusan ini kepadaMu. Hanya kepadaMu hamba berharap dan meminta pertolongan. Berikanlah petunjukMu yaa Rabb. Amin yaa rabbal alamin”
Tiga bulan semenjak hubungannya dengan Herdyan berakhir membuat emosi Rana tak terkendali. Tak jarang seharian dia menangis. Berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi, dan ketika terbangun semua akan baik-baik saja. Namun kenyataanya setiap kali dia terluka ketika melihat kemesraan status Herdyan dan pacarnya di facebook. Jika memang Herdyan menginginkan sentuhan sungguh Rana tak mampu memberikannya. Wanita seperti Rana lebih memikirkan aturan agama daripada menuruti hawa nafsu. Allah tentunya tak akan suka hambaNya yang selalu mendekati zina. Dan bagi Rana cintanya pada Allah akan mengalahkan segalanya. Janji Allah adalah wanita baik untuk lelaki yang baik (QS An Nuur : 26). Dan Allah sekali-kali tidak menyalahi janjiNya (QS Al Hajj:47).
Rana memang tidak pernah jalan berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya. Rana hanya ingin Allah selalu meridhoi tiap langkahNya. Bahkan saat dia bertemu dengan Herdyan, tak pernah lelaki itu diizinkan berjalan di sampingnya bahkan untuk memegang tangannya. Mungkin akan terlihat sombong dan sok jual mahal, namun Rana hanya ingin menjalankan perintah agamanya.
Kali ini airmata itu kembali jatuh saat Rana membaca ayat Al Qur’an. Surat Al A’raf, surat ketujuh pada juz sembilan adalah jawaban yang diberikan Allah atas istikharahnya. Sebelumnya dia sangat takut untuk menjalankan sholat tersebut. Sungguh, hatinya teriris pedih. Hanya pada Allah dia curahkan segala kebuncahan dan kesendirian hatinya. Namun keyakinan akan janji Allah menutupi kesakitannya.
Perpisahannya denga Herdyan adalah kenyataan. Dan lebih nyata lagi Herdyan telah memiliki cinta yang lain. Kini dia harus tegar berjalan, mencoba menemukan kepingan hidupnya yang hilang. Mencoba menemukan keceriaan yang dulu mengiringi harinya.
Sebenarnya sangat sakit saat Raga pernah mendapatinya menangis. Sebenarnya Rana sangat ingin memeluk lelaki itu dan menumpahkan tangisnya, namun apakah benar lelaki itulah yang disiapkan Allah untuknya. Wallahu a’lam bis shawab.
Jika memang lelaki setangguh Raga yang kelak mendampingi kehidupannya, mengapa Raga hanya terdiam saat menatapnya. Apakah Raga tak pernah ada hati untuknya. Apakah Raga tidak pernah merasakan tatapan hangat matanya. Sungguh suatu dilemma menanti sesuatu yang tak pasti. Menanti sesuatu yang tak dimengerti kapan datangnya. Sungguh menyesakkan menatap lelaki yang kerap dipujanya itu sendirian. Rana tahu pasti Raga belum memiliki kekasih semenjak putus dengan tunangannya. Namun bagaimana cara mendekati Raga. Rana merasakan pusing di kepalanya. Rasa yang tiap kali dialaminya itu membuatnya kerap ketakutan. Rana hanya tak ingin sendiri, Rana hanya ingin mendapatkan pendamping yang terbaik yang selalu menemaninya.
Raga memang terlalu sempurna untuk mendampinginya. Masih terbayang paras tampan Raga dan kebiasaanya membaca Al Qur’an usai subuh dan magrib. Bukankah mereka dulu pernah begitu dekat. Bukankah mereka dulu pernah bercanda tawa tanpa beban. Bukankah dulu Rana sering mengatakan seandainya saja Raga belum bertunangan. Namun mengapa dia hanya terdiam saat Raga memutuskan hubungan pertunangan dengan Ajeng. Raga tentunya ingin seorang isteri yang selalu berada di dekatnya. Lalu, apa yang membuat Rana ragu untuk mendekati Raga.
Sungguh Rana tak ingin terluka kembali. Kisah kasihnya yang musnah bersama Herdyan membuat Rana ragu untuk melangkah. Ingin sekali dia membina rumah tangga seperti teman-teman sebayanya. Ingin sekali dia menimang bayi seperti teman-teman sebayanya. Namun siapa yang mau menikahinya. Paras Rana tidaklah secantik mereka. Hanya ketulusan hati yang dia punya. Hanya kesucian jiwa yang dia pertahankan.
Entah apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harusnya dia lakukan untuk menghapus segala kepedihan hatinya. Waktu berjalan begitu lambat dan terus mengoyakkan perasaannya. Airmata menjadi temannnya di siang dan malam. Rana benar-benar merasakan tekanan di hatinya. Rana tak tahu harus berbuat apalagi, serasa segala impiannya menghilang. Rana merasa terluka yang amat dalam. Pengharapan akan pertolongan Allah adalah satu-satunya yang membuatnya bertahan.
Sejenak Rana menghela napas dan mengakhiri bacaan Al Qur’annya. Dia harus kembali ke kantor dan bersikap professional. Hatinya yang terkoyak dan terluka harus kembali tersamarkan. Kesepian hatinya harus tertutupi oleh kepura-puraan. Sebenarnya dia sangat membenci itu, namun apalah yang bisa Rana lakukan. Hanya bersabar dan menunggu yang terbaik.
Rana melangkahkan kaki menuju ruangannya. Dilihatnya Pujo, lelaki yang kerap dicomblangkan dengannya itu tengah berjalan melewati ruangannya. Tentu saja Rana tahu lelaki itu takkan mampu untuk mencintai Rana. Sekalipun semua orang menganggap antara mereka ada suatu hubungan special, namun sebenarnya tak ada satu hubungan apapun melainkan rekan kerja. Pujo, lelaki berperawakan tinggi yang merupakan anak tunggal itu tampak santai melihat Rana.
“Ya Allah, ini semua seperti mimpi buruk untukku. Terasa begitu berat dan menyesakkan. Sebenarnya hamba tak sanggup untuk menjalaninya. Jika saja bukan karena doa ibu mungkin hamba sudah memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Ya Allah kuatkanlah hamba. Amin” pikir Rana
Sebenarnya telah banyak orang menanyakan kapan Rana akan menikah. Sungguh, Rana ingin sekali membina rumah tangga. Kesendiriannya di Jakarta memang telah membuatnya menjadi wanita mandiri, namun yang dia butuhkan adalah suami yang soleh. Kebanyakan orang berpikir bahwa Rana terlalu memilih-milih lelaki, padahal belum ada seorangpun yang melamarnya. Kalaupun ada, pada akhirnya dia mengundurkan diri. Rana tersenyum sendiri saat mengingat hubungan asmaranya dengan Herdyan, Rana sungguh berpikir pernikahan tinggal selangkah lagi. Namun kenyataannya itu hanya menjadi mimpi bagi Rana. Takkan pernah ada pernikahan antara Rana dan Herdyan.
Sekali lagi airmata itu kerap membanjiri hatinya. Kerapuhan yang hanya mampu dirasakan Rana telah meluluhkan pertahanannya. Cobaan yang dia lalui terasa sangat berat. Seandainya saja ada tempat untuk berbagi. Kenyataannya kesendirian itu semakin tampak jelas. Tiap kali dia bermain dengan dunianya sendiri. Terasa menyesakkan dan membuatnya terjatuh terlalu dalam.
Allah tentu tahu batasan ujian untuk hambaNya. Kesabaran yang harus Rana tempuh memang terlalu terjal. Rana berulang kali merasa berputus asa dengan segala yang ada. Rana berulang kali merasa tidak berarti. Rana berulang kali merasa terpojok dalam kesunyian. Rana, terlihat rapuh dengan segala ketegaran yang dimiliki.
“Ran…” tegur Yudha, rekan kerja yang duduk di sebelahnya.
“Hem, ada yang keasyikan melamun nih” Yudha menggoda wanita yang berbeda usia delapan tahun di bawahnya itu.
“Hehe…” Rana berusaha menepis kesedihan dari raut wajahnya.
“Kalau lagi sedih jelek banget loh”
“Bukannya emang aku engga cantik ya?”
“Yeee…gak boleh seperti itu”
“Jika aku cantik dan gak sombong, mungkin aku tak pernah kehilangan Herdyan”
“Lelaki model Herdyan itu yang gak bener. Sudahlah Ran, jangan suka menyalahkan diri sendiri”
“Aku merasa gak sanggup menjalani ini semua Mas”
“Hem… sama Pujo aja tuh”
“Kalau bercanda ada batasannya Mas”
“Maaf-maaf…wah mudah banget tersulut emosinya nih”
“Iya…lagi sensi tingkat tinggi”
“Hem… sudah kelihatan kok. Makanya aku bercandain biar engga terlalu terbawa emosi”
“Makasih Mas”
“Makasih buat apa? Toh ternyata aku gak bisa merubah mood kamu”
Rana mencoba tersenyum.
“Ya begitu dunk, jangan suka murung begitu. Gak baik”
“Iya Mas”
“Segala permasalahan itu pasti ada jalan keluarnya”
“I need him. I just need him”
Yudha menggelengkan kepala sejenak. Wanita di sampingnya tampak serius membuka file di laptopnya. Ternyata wanita itu memiliki hati yang begitu rapuh. Setahu Yudha, wanita ini tak bisa mendengar orang berbicara kasar ataupun berbicara keras. Wanita yang menurut orang terlampaui mandiri ini banyak sekali kelemahan. Hanya saja wanita ini selalu hidup di dunianya sendiri, tak ingin menshare masalahnya. Rana selalu bilang, jika kebahagiaan bisa dibagi namun kesedihan tak pantas untuk dibagi.
Untuk orang yang seumuran dengan Rana memang Rana terlalu keras menghadapi kehidupannya. Pernah suatu ketika Rana menceritakan kondisi ekonomi keluargannya. Ternyata saat dia membiayai kuliahnya sendiri, Rana juga menghidupi keluarganya. Dari pekerjaannya yang memberikan bimbingan belajar keluarganya bisa makan dan dia pun bisa meneruskan pendidikan S1 nya. Kehidupannya begitu keras, wajar sekali dia sering terbawa emosi.
Rana memang pernah menceritakan bahwa di tahun ini dia telah mengalami gagal nikah sebanyak tiga kali. Yudha terkadang merasa heran dengan lelaki yang meninggalkan wanita seperti Rana. Mungkin juga benar kata Rana, lelaki yang meninggalkannya bukanlah lelaki tangguh yang sangggup berada di sampingnya. Lelaki itu mundur karena melihat begitu terjalnya kehidupan Rana.
Rana memiliki hati yang tulus untuk mencintai. Rana sangat berperasaan, wanita ini tak pernah berniat menyakiti orang. Namun dalam kehidupannya seringkali dikecewakan. Sebenarnya tak tega melihatnya berputus asa seperti ini. Namun Yudha hanya mampu memberikan kata-kata pembangkit semangatnya kembali.
===
Malam menyisakan keheningan tak terhenti. Jam dinding menujukkan pukul tiga dini hari. Raga menengadahkan tangannya usai melaksanakan tahajud, “Ya Rabb, tunjukkanlah langkah yang harus hamba tempuh. Kirimkan jodoh terbaik untuk mendampingi hamba. amin”
“Ini loh calon isteriku” kata Raga.
Rana terbangun dari tidurnya dan beristighfar, “Ya Rabb …”
Bayangan Raga di mimpi belum juga terhapus dari ingatan Rana. Namun Rana segera mengambil wudhu untuk melaksanakan istikharah dan tahajud.
“Ya Allah hamba tak tahu apa yang seharusnya terjadi dan apa yang terbaik untuk hamba. Namun hamba percaya Engkau akan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba.”
===
Yaa Rabb …
Pemilik segala hati, jangan biarkan diri ini terjatuh
Pemilik jiwa, berikan pendamping terbaik untukku
Pemilik kehidupan, kuserahkan segalanya ini pada-Mu
Yaa Rabb …
Sembuhkanlah segala luka di hati ini
Hapuskanlah kesedihan dan kepedihan yang kerap menghampiri
Berikan rahmat dan ridhoMu dalam setiap langkahku
Yaa Rabb…
Sungguh termasuk dzalim diri ini tanpa ampunanMu
Sungguh termasuk rugi diri ini tanpa kasihMu
Sungguh tak berdaya diri ini tanpa pertolonganMu
Yaa Rabb …
Di dalam sujudku ini kuhaturkan segala kelemahan dan kekhilafanku
Di dalam sujudku ini kumintakan dengan segenap hati
Pertemukanlah jodohku
Kesepian ini, kesedihan ini …..
Sungguh hanya padaMu kubermohon
Hanya dengan cintaMu aku sanggup bertahan
Rabbana atinaa fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah
Wa qinaa adza banner
Amin yaa rabbal alamin ……
===
Pembuat: Eka Sulistiyowati
Terkadang terasa aneh jika tiap malam dia menantikan telepon dari Ajeng. Padahal mereka telah putus tunangan hampir tujuh bulan yang lalu. Raga masih memimpikan seorang seperti Ajeng kembali datang untuk menemani hatinya yang sepi. Meskipun dia menyibukkan diri pada hobinya di otomotif, bayangan paras wanita cantik itu belum juga membuat hatinya terbuka untuk mencintai.
Raga memandangi cincin tunangannya yang kini dia simpan di dompet. Dulu dia selalu mengenakan cincin itu di jari manis tangan kirinya. Namun cincin itu kini tinggallah kenangan kisah cintanya. Ajeng, terasa sekali cinta dia hatinya. Dia tahu secara pasti perasaan Ajeng yang terluka saat dia memutuskan tali pertunangan. Namun entah mengapa kemantapan hatinya telah mengalahkan logika. Logikanya, Ajeng adalah wanita sempurna yang pernah ada dalam kehidupannya. Namun bisik hatinya harus meninggalkan wanita secantik Ajeng.
“Ga … udah jam tujuh tuh, come on ngantor…” suara Aryo menggelegar di depan pintu kos Raga.
“Yoi” sahut Raga sambil menyambar tas pinggang yang digantung dekat pintu kos.
Aryo menatap Raga dengan tatapan janggal.
“Kenapa Yo?” tanya Raga.
“Ada yang beda dari kamu, Ga”
“Apaan?”
“Makin kurusan dan acak-acakan. Sepertinya dulu kamu sering pakai minyak wangi sekarang pakaianmu penuh minyak dan oli”
Raga tertawa mendengar komentar teman satu kosnya. Aryo tahu pasti kondisi emosi Raga semenjak putus tunangan dengan Ajeng. Lelaki itu makin tidak memperhatikan penampilan dan mudah marah. Aryo bisa merasakan kesepian hati kawannya itu. Tapi anehnya setiap kali dikenalkan dengan wanita, Raga selalu bersikap acuh. Seakan dia tidak memikirkan untuk memliki kekasih pengganti Ajeng.
“Udah abis minyak wanginya. Males beli lagi” sahut Raga.
“Ga … you should open your heart for love”
“Not now”
Raga tak peduli sekian banyak usaha teman-temannya untuk membuat Raga kembali seperti dulu. Aryo menggelengkan kepala mendengar jawaban temannya itu. Benar-benar berbeda dengan Raga yang dikenalnya dua tahun lalu.
Dua tahun lalu, saat mereka baru saja diterima magang di perusahaan di Jakarta. Saat itu Raga berulang kali mengungkapkan betapa beratnya dia berpisah dengan Ajeng yang bekerja di Madiun, Jawa Timur. Raga bukan tipe lelaki yang mudah untuk jatuh cinta. Cintanya pada Ajeng tumbuh saat mereka sibuk mengerjakan tugas akhir. Kesetiaan dan perhatian Ajeng pada Raga membuat lelaki itu benar-benar jatuh hati pada Ajeng.
“Ga, kalau memang hati kamu sudah mantap untuk meninggalkan semua kenangan tentang Ajeng ya jangan mencoba mengingat-ingat kembali. Itu akan menyakiti kamu”
“Ada hal yang masih jadi satu tanda tanya besar Yo… hanya saja aku nggak tahu harus tanya ke siapa”
“Tentang?”
“Seseorang”
“Hmm… cewek mana Ga?”
“Wanita yang hadir di mimpiku saat istikharah pertamaku”
“Apa cewek itu kukenal”
“Iya Yo… kemarin aku ketemu dia. Rasanya hatiku sedih banget melihat dia menangis”
“Menangis?”
“Iya. Padahal biasanya dia menyapa aku dengan senyum khasnya. Tapi kemarin dia tampak sangat sedih”
“Wah-wah sepertinya seru nih ceritanya”
“Entahlah Yo, tapi nanti saja aku ceritakan di kantor. Yuk berangkat”
Aryo penasaran dengan wanita yang diceritakan Raga. Jika wanita itu dikenal, maka besar kemungkinan adalah orang kantor. Memang Raga sangat ingin memilki hubungan cinta tanpa terbatas jarak. Namun wanita mana yang sanggup memikat lelaki setampan dan sesempurna Raga. Apalagi wanita di kantor yang belum menikah juga bisa dihitung dengan jari.
===
Baru saja Raga memarkir motornya, dia melihat sosok wanita yang selama ini memenuhi pikirannya. Wanita itu sedang berbincang akrab dengan lelaki berperawakan tinggi. Sampai akhirnya wanita itu masuk mushola sementara lelaki berperawakan tinggi segera menuju ke tempatnya berdiri.
“Apakah mungkin mimpi itu adalah petunjuk dari Allah untukku? Mungkinkah wanita itu yang kelak menjadi isteri dan ibu dari anak-anakku?” pikir Raga.
“Ga, Yo… baru dateng?” tegur Indra.
“Iya…” jawab Aryo, “ Sudah selesai dhuha, ustadz?”
“Alhamdulillah.” Indra tersenyum dengan senyuman manis yang mungkin bisa memikat para bidadari surga. Kekhusyukan Indra dalam beribadah membuatnya mendapat julukan ustadz dari teman-teman kantornya.
“Rana sering dhuha di mushola?” tanya Raga.
“Iya…”jawab Indra.
“Ndra, kamu cocok banget tuh sama Rana. Sama-sama khusyuk” sahut Aryo.
Indra tersenyum tersipu, “Bisa saja. Aku gak ada apa-apanya dibandingkan Rana. Shaum senin-kamisnya enggak pernah bolong, dia juga nggak pernah bolos ngaji”
“Ngaji?” Raga menatap Indra, “Ngaji di mana?”
“Pengajian kantor dua kali seminggu setelah pulang kerja” kata Indra, “Lho bukannya dulu, kamu juga ikutan ngaji Ga?”
“Dulu banget” Raga meringis.
“Ya sudah ayo kita ngantin” kata Aryo.
“Aku langsung ke kantor ya Yo” kata Raga.
“Shaum?” Indra menyelidik.
“Insya Allah” jawab Raga.
“Raga ini enggak pernah putus juga shaum senin kamisnya” bela Aryo.
Indra menatap kedua sahabatnya. Memang dari awal dia mengenal Raga dan satu kontrakan dengan lelaki itu, tak pernah dia jumpai Raga meninggalkan puasa senin-kamisnya. Sampai saat ini ternyata Raga masih istiqomah menjaga ibadahnya satu itu. Meskipun pekerjaannya lebih menuntut dia untuk banyak bekerja di lapangan, namun belum sekalipun Raga mengeluhkan diri dan meninggalkan shaum sunah itu.
===
“Semangat pagi Mbak Aisya …” tegur Raga ketika masuk ruangan kantornya.
“Met pagi Raga….” Jawab Aisya.
“Dingin banget nih ruangan. AC-nya baru diservis ya?” Raga melepas wearpack yang dikenakannya.
“Enggak tuh. Mungkin karena lemakmu sudah berkurang makanya dinginnya kerasa”
Raga tersenyum kecut, “Memangnya kelihatan banget ya Mbak kurusnya?”
“Iya Ga…mesti nyari cewek yang bisa ngurus kamu tuh”
“Belum nemu ceweknya Mbak”
“Masa’ kalah sama Rana”
“Kenapa Mbak dengan Rana?”
“Nah gosipnya kan dia dekat sama Pujo. Dan sepertinya memang mereka benar-benar ada hubungan special. Rana selalu tersipu kalau aku menyebut nama Pujo di depannya”
“Rana? Kirana Listya Kusuma?”
“Nah iya, teman seangkatanmu saat magang”
“Rana? Gak mungkin”
“Lah kenapa gak mungkin Ga?”
Raga menatap wanita berparas manis di hadapannya, “Gak mungkin Rana mau pacaran”
“Mereka memang enggak pacaran Ga, ya ditunggu saja undangannya”
Hati Raga mencelos. Baru saja dia merasa ada perasaan aneh saat Indra jauh lebih dekat dengan Rana, tapi kabar mengejutkan justru datang dari Aisya. Rana telah memiliki seseorang yang dekat dengannya.
“Sebenarnya dulu aku pernah berniat nyomblangin kamu sama Rana. Tapi Rana sangat benci anak tunggal. Dia paling gak suka sama cowok yang manja“
“Mbak Aisya nyomblangin aku sama Rana? Ngawur banget”
“Iya, syukurnya Rana juga menolak untuk kucomblangkan denganmu Ga”
“Ya iyalah Mbak, kami tuh beda banget”
“Sebenarnya kalian tuh cocok banget menurutku. Rana dan kamu tuh sama-sama pinternya. Belum lagi shaum sunahnya gak pernah bolong, sama seperti kamu Ga”
Raga merasakan getaran kecil dihatinya, mengingatkan pada mimpi usai sholat istikharah pertamanya. Justru paras Rana yang muncul ketika dia dilemma meneruskan hubungan dengan Ajeng. Entah apa itu merupakan petunjuk dari Allah. Mengapakah kenyataanya jauh berbeda. Hatinya belum bisa mencintai Rana dan Rana pun telah memiliki seseorang untuk dicintai.
“Mbak Aisya tahu sejauh apa hubungan Rana sama siapa tadi?”
“Sama Pujo?” Aisya menyelidik, “Kok sepertinya kamu penasaran banget”
“Ah enggak juga, mungkin hanya perasaan Mbak Aisya saja”
Aisya menggelengkan kepala menatap Raga, “Kalian memang cocok”
“Kalian?”
“Kamu sama Kirana”
“Seandainya saja Mas Raga belum punya tunangan”
“Memangnya kenapa Dek?” selidik Raga.
“Beruntung banget wanita yang jadi isterinya Mas, sudah ganteng pinter pula”
Raga tertawa lebar. Sikap polos Rana seringkali membuat hati Raga tersentuh.
“Mas Raga, Rana nitip kondangan buat Firman ya…” Rana menghampiri meja Raga
“Nah aku kan gak mudik”
“Pokoknya Rana nitip ke Mas Raga”
“Okelah”
“Wah Firman dah merit yo…kamu kapan Ga?” sindir rekan kerja Raga yang duduk berhadapan dengannya di ruangan.
“Mas Raga nungguin Rana, Mas” sahut Rana
“Wuih ditembak tuh Ga” sahut lelaki yang tampak akrab dengan Raga itu.
Raga tersenyum simpul.
“Ga, melamun lagi deh…” tegur Aisya.
“Eh sorry Mbak” Raga tersipu.
“Ya semoga kamu segera menemukan wanita terbaik untuk menjadi pendampingmu”
“Amin…Mbak Aisya juga ya”
Aisya tersenyum manis, “Tahu enggak Ga…aku selalu membayangkan kamu dan Rana itu bisa jadi sepasang kekasih. Entah mengapa aku selalu merasa kalian sangat serasi”
“Wanita selalu pakai perasaan”
“Haha…”
“Logikanya kan mustahil Mbak. Mau ditaruh dimana tuh cowoknya Rana”
“Ya tetep di situlah. Tapi kamunya yang disamping Rana”
“Hahaha ….”
====
Masih terasa sesak di dada, tangis pun belum reda. Rana menengadahkan tangannya usai melaksanakan dhuha. Entah mengapa hatinya mencelos setiap kali bertemu dengan Raga. Seakan menanti sebuah keajaiban datang.
“Hamba sangat takut untuk mencintai ya Allah. Berikanlah petunjukMu dalam setiap langkah ini. Sejak berakhirnya hubungan hamba dengan Mas Herdyan semua terasa begitu menyesakkan. Meskipun hamba tahu Herdyan bukanlah lelaki yang baik untuk mendampingi kehidupan hamba. Namun yang membuat hamba meragu adalah kehadiran Mas Raga. Hamba sungguh takut mencintai Mas Raga, hamba takut terluka. Hamba tak ingin menangis lagi, hamba tak ingin sendirian. Pilihkanlah jodoh terbaik untuk hamba. Jika memang Mas Raga adalah seseorang yang Kau jadikan jodoh hamba, maka dekatkanlah kami atas rahmat dan ridho-Mu. Hamba serahkan segala urusan ini kepadaMu. Hanya kepadaMu hamba berharap dan meminta pertolongan. Berikanlah petunjukMu yaa Rabb. Amin yaa rabbal alamin”
Tiga bulan semenjak hubungannya dengan Herdyan berakhir membuat emosi Rana tak terkendali. Tak jarang seharian dia menangis. Berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi, dan ketika terbangun semua akan baik-baik saja. Namun kenyataanya setiap kali dia terluka ketika melihat kemesraan status Herdyan dan pacarnya di facebook. Jika memang Herdyan menginginkan sentuhan sungguh Rana tak mampu memberikannya. Wanita seperti Rana lebih memikirkan aturan agama daripada menuruti hawa nafsu. Allah tentunya tak akan suka hambaNya yang selalu mendekati zina. Dan bagi Rana cintanya pada Allah akan mengalahkan segalanya. Janji Allah adalah wanita baik untuk lelaki yang baik (QS An Nuur : 26). Dan Allah sekali-kali tidak menyalahi janjiNya (QS Al Hajj:47).
Rana memang tidak pernah jalan berdua dengan lelaki yang bukan mahramnya. Rana hanya ingin Allah selalu meridhoi tiap langkahNya. Bahkan saat dia bertemu dengan Herdyan, tak pernah lelaki itu diizinkan berjalan di sampingnya bahkan untuk memegang tangannya. Mungkin akan terlihat sombong dan sok jual mahal, namun Rana hanya ingin menjalankan perintah agamanya.
Kali ini airmata itu kembali jatuh saat Rana membaca ayat Al Qur’an. Surat Al A’raf, surat ketujuh pada juz sembilan adalah jawaban yang diberikan Allah atas istikharahnya. Sebelumnya dia sangat takut untuk menjalankan sholat tersebut. Sungguh, hatinya teriris pedih. Hanya pada Allah dia curahkan segala kebuncahan dan kesendirian hatinya. Namun keyakinan akan janji Allah menutupi kesakitannya.
Perpisahannya denga Herdyan adalah kenyataan. Dan lebih nyata lagi Herdyan telah memiliki cinta yang lain. Kini dia harus tegar berjalan, mencoba menemukan kepingan hidupnya yang hilang. Mencoba menemukan keceriaan yang dulu mengiringi harinya.
Sebenarnya sangat sakit saat Raga pernah mendapatinya menangis. Sebenarnya Rana sangat ingin memeluk lelaki itu dan menumpahkan tangisnya, namun apakah benar lelaki itulah yang disiapkan Allah untuknya. Wallahu a’lam bis shawab.
Jika memang lelaki setangguh Raga yang kelak mendampingi kehidupannya, mengapa Raga hanya terdiam saat menatapnya. Apakah Raga tak pernah ada hati untuknya. Apakah Raga tidak pernah merasakan tatapan hangat matanya. Sungguh suatu dilemma menanti sesuatu yang tak pasti. Menanti sesuatu yang tak dimengerti kapan datangnya. Sungguh menyesakkan menatap lelaki yang kerap dipujanya itu sendirian. Rana tahu pasti Raga belum memiliki kekasih semenjak putus dengan tunangannya. Namun bagaimana cara mendekati Raga. Rana merasakan pusing di kepalanya. Rasa yang tiap kali dialaminya itu membuatnya kerap ketakutan. Rana hanya tak ingin sendiri, Rana hanya ingin mendapatkan pendamping yang terbaik yang selalu menemaninya.
Raga memang terlalu sempurna untuk mendampinginya. Masih terbayang paras tampan Raga dan kebiasaanya membaca Al Qur’an usai subuh dan magrib. Bukankah mereka dulu pernah begitu dekat. Bukankah mereka dulu pernah bercanda tawa tanpa beban. Bukankah dulu Rana sering mengatakan seandainya saja Raga belum bertunangan. Namun mengapa dia hanya terdiam saat Raga memutuskan hubungan pertunangan dengan Ajeng. Raga tentunya ingin seorang isteri yang selalu berada di dekatnya. Lalu, apa yang membuat Rana ragu untuk mendekati Raga.
Sungguh Rana tak ingin terluka kembali. Kisah kasihnya yang musnah bersama Herdyan membuat Rana ragu untuk melangkah. Ingin sekali dia membina rumah tangga seperti teman-teman sebayanya. Ingin sekali dia menimang bayi seperti teman-teman sebayanya. Namun siapa yang mau menikahinya. Paras Rana tidaklah secantik mereka. Hanya ketulusan hati yang dia punya. Hanya kesucian jiwa yang dia pertahankan.
Entah apa yang seharusnya terjadi dan apa yang harusnya dia lakukan untuk menghapus segala kepedihan hatinya. Waktu berjalan begitu lambat dan terus mengoyakkan perasaannya. Airmata menjadi temannnya di siang dan malam. Rana benar-benar merasakan tekanan di hatinya. Rana tak tahu harus berbuat apalagi, serasa segala impiannya menghilang. Rana merasa terluka yang amat dalam. Pengharapan akan pertolongan Allah adalah satu-satunya yang membuatnya bertahan.
Sejenak Rana menghela napas dan mengakhiri bacaan Al Qur’annya. Dia harus kembali ke kantor dan bersikap professional. Hatinya yang terkoyak dan terluka harus kembali tersamarkan. Kesepian hatinya harus tertutupi oleh kepura-puraan. Sebenarnya dia sangat membenci itu, namun apalah yang bisa Rana lakukan. Hanya bersabar dan menunggu yang terbaik.
Rana melangkahkan kaki menuju ruangannya. Dilihatnya Pujo, lelaki yang kerap dicomblangkan dengannya itu tengah berjalan melewati ruangannya. Tentu saja Rana tahu lelaki itu takkan mampu untuk mencintai Rana. Sekalipun semua orang menganggap antara mereka ada suatu hubungan special, namun sebenarnya tak ada satu hubungan apapun melainkan rekan kerja. Pujo, lelaki berperawakan tinggi yang merupakan anak tunggal itu tampak santai melihat Rana.
“Ya Allah, ini semua seperti mimpi buruk untukku. Terasa begitu berat dan menyesakkan. Sebenarnya hamba tak sanggup untuk menjalaninya. Jika saja bukan karena doa ibu mungkin hamba sudah memutuskan untuk meninggalkan semuanya. Ya Allah kuatkanlah hamba. Amin” pikir Rana
Sebenarnya telah banyak orang menanyakan kapan Rana akan menikah. Sungguh, Rana ingin sekali membina rumah tangga. Kesendiriannya di Jakarta memang telah membuatnya menjadi wanita mandiri, namun yang dia butuhkan adalah suami yang soleh. Kebanyakan orang berpikir bahwa Rana terlalu memilih-milih lelaki, padahal belum ada seorangpun yang melamarnya. Kalaupun ada, pada akhirnya dia mengundurkan diri. Rana tersenyum sendiri saat mengingat hubungan asmaranya dengan Herdyan, Rana sungguh berpikir pernikahan tinggal selangkah lagi. Namun kenyataannya itu hanya menjadi mimpi bagi Rana. Takkan pernah ada pernikahan antara Rana dan Herdyan.
Sekali lagi airmata itu kerap membanjiri hatinya. Kerapuhan yang hanya mampu dirasakan Rana telah meluluhkan pertahanannya. Cobaan yang dia lalui terasa sangat berat. Seandainya saja ada tempat untuk berbagi. Kenyataannya kesendirian itu semakin tampak jelas. Tiap kali dia bermain dengan dunianya sendiri. Terasa menyesakkan dan membuatnya terjatuh terlalu dalam.
Allah tentu tahu batasan ujian untuk hambaNya. Kesabaran yang harus Rana tempuh memang terlalu terjal. Rana berulang kali merasa berputus asa dengan segala yang ada. Rana berulang kali merasa tidak berarti. Rana berulang kali merasa terpojok dalam kesunyian. Rana, terlihat rapuh dengan segala ketegaran yang dimiliki.
“Ran…” tegur Yudha, rekan kerja yang duduk di sebelahnya.
“Hem, ada yang keasyikan melamun nih” Yudha menggoda wanita yang berbeda usia delapan tahun di bawahnya itu.
“Hehe…” Rana berusaha menepis kesedihan dari raut wajahnya.
“Kalau lagi sedih jelek banget loh”
“Bukannya emang aku engga cantik ya?”
“Yeee…gak boleh seperti itu”
“Jika aku cantik dan gak sombong, mungkin aku tak pernah kehilangan Herdyan”
“Lelaki model Herdyan itu yang gak bener. Sudahlah Ran, jangan suka menyalahkan diri sendiri”
“Aku merasa gak sanggup menjalani ini semua Mas”
“Hem… sama Pujo aja tuh”
“Kalau bercanda ada batasannya Mas”
“Maaf-maaf…wah mudah banget tersulut emosinya nih”
“Iya…lagi sensi tingkat tinggi”
“Hem… sudah kelihatan kok. Makanya aku bercandain biar engga terlalu terbawa emosi”
“Makasih Mas”
“Makasih buat apa? Toh ternyata aku gak bisa merubah mood kamu”
Rana mencoba tersenyum.
“Ya begitu dunk, jangan suka murung begitu. Gak baik”
“Iya Mas”
“Segala permasalahan itu pasti ada jalan keluarnya”
“I need him. I just need him”
Yudha menggelengkan kepala sejenak. Wanita di sampingnya tampak serius membuka file di laptopnya. Ternyata wanita itu memiliki hati yang begitu rapuh. Setahu Yudha, wanita ini tak bisa mendengar orang berbicara kasar ataupun berbicara keras. Wanita yang menurut orang terlampaui mandiri ini banyak sekali kelemahan. Hanya saja wanita ini selalu hidup di dunianya sendiri, tak ingin menshare masalahnya. Rana selalu bilang, jika kebahagiaan bisa dibagi namun kesedihan tak pantas untuk dibagi.
Untuk orang yang seumuran dengan Rana memang Rana terlalu keras menghadapi kehidupannya. Pernah suatu ketika Rana menceritakan kondisi ekonomi keluargannya. Ternyata saat dia membiayai kuliahnya sendiri, Rana juga menghidupi keluarganya. Dari pekerjaannya yang memberikan bimbingan belajar keluarganya bisa makan dan dia pun bisa meneruskan pendidikan S1 nya. Kehidupannya begitu keras, wajar sekali dia sering terbawa emosi.
Rana memang pernah menceritakan bahwa di tahun ini dia telah mengalami gagal nikah sebanyak tiga kali. Yudha terkadang merasa heran dengan lelaki yang meninggalkan wanita seperti Rana. Mungkin juga benar kata Rana, lelaki yang meninggalkannya bukanlah lelaki tangguh yang sangggup berada di sampingnya. Lelaki itu mundur karena melihat begitu terjalnya kehidupan Rana.
Rana memiliki hati yang tulus untuk mencintai. Rana sangat berperasaan, wanita ini tak pernah berniat menyakiti orang. Namun dalam kehidupannya seringkali dikecewakan. Sebenarnya tak tega melihatnya berputus asa seperti ini. Namun Yudha hanya mampu memberikan kata-kata pembangkit semangatnya kembali.
===
Malam menyisakan keheningan tak terhenti. Jam dinding menujukkan pukul tiga dini hari. Raga menengadahkan tangannya usai melaksanakan tahajud, “Ya Rabb, tunjukkanlah langkah yang harus hamba tempuh. Kirimkan jodoh terbaik untuk mendampingi hamba. amin”
“Ini loh calon isteriku” kata Raga.
Rana terbangun dari tidurnya dan beristighfar, “Ya Rabb …”
Bayangan Raga di mimpi belum juga terhapus dari ingatan Rana. Namun Rana segera mengambil wudhu untuk melaksanakan istikharah dan tahajud.
“Ya Allah hamba tak tahu apa yang seharusnya terjadi dan apa yang terbaik untuk hamba. Namun hamba percaya Engkau akan selalu memberikan yang terbaik untuk hamba.”
===
Yaa Rabb …
Pemilik segala hati, jangan biarkan diri ini terjatuh
Pemilik jiwa, berikan pendamping terbaik untukku
Pemilik kehidupan, kuserahkan segalanya ini pada-Mu
Yaa Rabb …
Sembuhkanlah segala luka di hati ini
Hapuskanlah kesedihan dan kepedihan yang kerap menghampiri
Berikan rahmat dan ridhoMu dalam setiap langkahku
Yaa Rabb…
Sungguh termasuk dzalim diri ini tanpa ampunanMu
Sungguh termasuk rugi diri ini tanpa kasihMu
Sungguh tak berdaya diri ini tanpa pertolonganMu
Yaa Rabb …
Di dalam sujudku ini kuhaturkan segala kelemahan dan kekhilafanku
Di dalam sujudku ini kumintakan dengan segenap hati
Pertemukanlah jodohku
Kesepian ini, kesedihan ini …..
Sungguh hanya padaMu kubermohon
Hanya dengan cintaMu aku sanggup bertahan
Rabbana atinaa fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah
Wa qinaa adza banner
Amin yaa rabbal alamin ……
===
Pembuat: Eka Sulistiyowati
Sudahkah Hamdan Datang?
“Cepat sedikit, nanti keburu siang!” kata wanita setengah baya sambil mengetuk pintu kamar. “Iya.. sebentar lagi…!” terdengar suara yang tak begitu jelas dari dalam kamar itu. “anak ini sungguh keras kapala, sukanya tergesa-gesa” kata wanita itu menggerutu. Tak lama kemudian terlihat seorang remaja keluar dari balik pintu yang hendak rapuh itu. Rambutnya dibiarkannya terurai agar sang bayu dapat membelai mesra. Bulu mata lentiknya sering kali membuat iri gadis-gadis seumurannya, apa lagi melihat pipinya yang berlesung, seolah-olah membuat dirinya tampak sempurna di mata mereka. “Rani” begitulah orang-orang memanggil gadis cantik itu. Tak lama kemudian mata sipit gadis desa ini terbelalak pada salah satu ruangan di depannya.
Sudahkah Hamdan Datang
“Sudahkah Hamdan datang?” Tanya gadis itu sembari membenarkan sepatu hak tinggi yang dihadiahi almarhum Ayahnya. “Sudah tiga puluh menit dia menunggu di luar!” jawab wanita setengah baya sambil membenarkan jilbabnya. “Oh, Ibu, kenapa tidak menyuruhnya masuk?”. “entah berapa kali Ibu mengulang kata yang sama agar dia mau masuk ke gubuk kita, calon Suamimu itu memang dasarnya sombong atau pura-pura sombong?” Ibu sedikit kesal. “ Ah Ibu, Mas Hamdan tidak seperti itu, mungkin dia ingin mencari udara segar!” gadis itu pun membela kekasihnya. “Ya sudah, kau temui dulu Nak Hamdan, lama sudah dia menunggu!” kata Ibu sambil menepuk-nepuk pundak anak gadisnya.
Gadis cantik tersebut kemudian menemui calon suaminya yang sedang mondar-mandir di halaman rumahnya. “Mas Hamdan!” sapa gadis itu. Pemuda itu seolah tersihir ketika melihat kekasihnya yang kian hari kian memancarkan pesona kecantikannya. “Adik sudah siap?” tanya pemuda itu. “Maaf, sudah membuat Mas menunggu lama!”. “Tidak apa-apa, Ibu kemana? Kita berpamitan dulu!” ungkap Hamdan. Setelah berpamitan, mereka pun pergi memesan segala perlengkapan untuk pernikahan mereka.
Hari ini memang hari yang spesial untuk kedua pasangan yang sebentar lagi hendak memadu kasih ini. Pasalnya, selama ini mereka hanya bisa bertegur sapa menggunakan telepon. Namun tidak untuk hari ini, kebahagiaan tersendiri hadir ketika mereka saling bertatap muka lantaran Hamdan benar-benar telah menjadi lelaki yang super sibuk. Selama bertahun-tahun hidup dalam kondisi tak berkecukupan, ia pun memutuskan merantau ke Kalimantan. Lima tahun lamanya Hamdan bekerja paruh waktu untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu mengubah keadaan ekonomi keluarganya. Dia juga ingin membuktikan pada keluarga kekasihnya itu bahwa dia benar-benar telah matang untuk menjadi seorang kepala rumah tangga. Kenyataannya, sekarang dia dapat merenovasi rumahnya di Jawa, selain itu dia mampu membeli mobil bekas untuk memermudah aktivitasnya.
“Akhirnya, selesai juga” kata Rani sembari mengusap keningnya dengan selempai yang ia beli beberapa hari lalu. “satu bulan lagi kita benar-benar akan menikah, Mas sangat senang, tapi Mas juga deg-degan!” ungkap Hamdan dengan wajah berseri-seri. “Adik juga demikian, semoga perasaan Mas Hamdan pada Rani selalu seperti ini, tak berubah sedikitpun!” kata Rani berharap. Kedua pasanagan ini pun kemudian memutuskan untuk kembali setelah seharian memersiapkan perlengkapan pernikahan mereka.
Undangan pernikahan Bunga Desa dengan Hamdan, pemuda miskin yang mendadak kaya pun telah tersebar. Beberapa hari berlalu, Seseorang mengirimkan beberapa bunga dengan ikatan pita hitam. Hal tersebut berlangsung setiap hari. Bu Warda, Ibu Rani sangat senang ketika putrinya mendapat kiriman bunga-bunga indah. “Nak Hamdan sangat romantis!” begitulah kalimat yang berkali-kali diucapkan oleh Bu Warda. Sebaliknya, Rani merasa gelisah dengan kiriman bunga tersebut. Pasalnya, ketika ia berterima kasih pada kekasihnya itu, justru sang kekasih keheranan. “Mas tak pernah mengirimkan ikatan bunga dek!” begitu jawab Hamdan ketika Gadis cantik asal Jawa itu bertanya dengan polosnya.
Lama kelamaan Rani merasa terusik dengan kiriman bunga itu. “dari siapakah bunga-bunga ini?”. Tanda tanya besar muncul pada diri Rani. Bunga yang sama dengan ikatan yang sama setiap hari dikirim melalui pos. ketika tukang pos itu ditanya, dari siapa kiriman itu, jawabnya selalu “Saya hanya menjalankan tugas yang semestinya saya kerjakan!” kemudian izin untuk mengantar paket-paket yang lain. Saat Rani mencoba menebak, saat itu pun ia selalu gagal. “Jika bukan Mas Hamdan, lalu…?” pikirannya melayang pada beberapa tahun yang lalu ketika ia masih bersama pacar pertamanya. Anjar, dialah orang pertama yang dapat merebut hati bunga desa ini. Bagaimana tidak, pemuda ini dikenal bijaksana oleh semua orang.
Selama dua tahun, Rani dan Anjar menjalin kasih. Anjar, anak seorang Kepala Daerah, meskipun berkecukupan namun ia tak pernah merasa sombong. Pasangan ini sebenarnya saling mencintai, namun apalah daya, takdir berkata lain. Keluarga Anjar terlibat kasus korupsi sehingga membuatnya shok dan ia pun menghilang beberapa tahun tanpa memberikan kabar pada orang-orang terdekatnya, termasuk kekasihnya.
Rani sempat patah hati dan kehilangan akal sehat ketika Anjar meninggalkannya. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, kehidupan baru datang pada diri Rani. Ia merasa cintanya digantung oleh Anjar, lalu dengan bijak ia memutuskan untuk berpindah ke lain hati. Sebenarnya sangat berat jika dia harus meninggalkan cinta pertamanya itu, namun ia juga tak sanggup jika menjalani hubungan tanpa status. Hamdanlah orang yang berhasil membuat taburan bunga-bunga sakura pada perjalanan cinta Rani. Sekejap, namun meninggalkan keindahan yang terus bersemi di hati Rani. Itulah Hamdan, pemuda tak berkecukupan yang berhasil mengubah ketidakcukupannya.
“Apakah Mas Anjar yang melakukan semua ini?” pikiran Rani penuh dengan tanda tanya. “Jika semua itu benar, lantas mengapa dia melakukan semua itu?”. Rani pun teringat lagi akan sesuatu. “kau tahu mengapa aku memberikan pita merah ini?” Tanya Anjar. Rani menggelengkan kepala. “Pita merah akan terlihat indah, apalagi jika kau yang memakainya, terutama disini!” kata Anjar sembari mengikatkan pita merah pada rambut Rani. “Aku tidak akan memberikanmu pita hitam ini!” sambil memerlihatkan salah satu pita yang ia bawa. “kenapa?” tanya Rani. “Karena hitam adalah simbol kebencian!” kata Anjar.
Rani terbangun dari lamunannya untuk kedua kalinya. “Bunga itu…!” Rani teringat akan sesuatu, ia pun berlari melihat bunga-bunga yang telah seseorang kirimkan kepadanya. “Pita hitam!” gumam Rani dengan tubuh gemetar. “Mas Anjar sudah mendengar berita pernikahanku!” kata Rani lemas. Bu Warda yang melihat tingkah aneh putrinya kemudian menghampiri. “Ada apa nak?” tanya sang Ibu. “Mas Anjar bu!” gumam Rani. “Anjar anak Koruptor itu? Ada apa dengannya?” tanya Bu Warda. “Dia sudah tahu bahwa aku akan menikah!” jawabnya lemas. “Lantas?”. Rani kemudian duduk dan mengambil salah satu bunga pemberian orang tak dikenal itu. “Ibu tahu bunga ini dari siapa?“ Rani bertanya dengan mata berkaca-kaca. “Kau ini masih saja bertanya, tentu saja dari calon menantuku!” Bu Warda tersenyum senang. “Ini bukan dari Mas Hamdan Bu, pita hitam ini berarti simbol kebencian, aku takut hal buruk terjadi pada pernikahanku!”. Bu Warda yang melihat putrinya bersedih kemudian mencoba menghiburnya.
Dua minggu sebelum hari pernikahan, Hamdan berkata pada Rani bahwa ia akan pergi sebentar ke Kalimantan untuk mengurus pekerjaannya. Ia pun berjanji pada gadisnya bahwa ia tak akan lama, hanya membutuhkan waktu dua hari untuk bisa kembali ke Jawa lagi. Rani tak bisa mencegah kepergian Hamdan karena itu juga untuk kebaikan Hamdan dan keluarganya. “Mas berjanji, hanya dua hari saja!” itulah kata-kata yang membuat Rani terpaksa membolehkan Hamdan pergi.
Bunga dengan ikatan pita hitam terus membanjiri rumah keluarga Rani. “Dari siapakah sebenarnya bunga itu?” Bu Warda mendesak tukang pos tersebut, baru kali ini Bu Warda marah, sebelumnya Ibu dua anak ini tidak pernah menampakkan kemarahannya di depan orang lain kecuali keluarganya sendiri. Tukang Pos itu menjawab “Saya benar-benar tidak tahu nama orang yang mengirimkan ini, jika anda mau saya akan mengantar anda pada pengirim bunga ini!”. Rani yang ketika itu sedang termenung dengan mata berkaca-kaca kemudian mendekati tukang pos itu. “Tolong antarkan saya pada orang itu!” Rani memohon. Tukang pos itu merasa iba melihat gadis cantik itu memohon penuh harap. “Mari!” tukang pos itu membawa Rani ke tempat pengirim bunga tersebut.
“Di sana tempatnya!” kata tukang pos sambil menunjuk ke sebuah taman. “Di balik pohon besar itu ada tempat duduk, dia biasanya sering duduk-duduk di sana!”. Rani pun berjalan pelan menuju tempat yang ditunjukkan oleh tukang pos tersebut. Dari kejauhan tampak seorang lelaki sedang duduk sendirian di balik pohon itu. Rani terus berjalan penuh penasaran, hingga akhirnya sampailah ia tepat di belakang pemuda itu. “Siapa anda?” Tanya Rani. Pemuda itu terkejut ketika mendengar suara yang tak asing lagi baginya. “Rani!” Pemuda itu mencoba menebak. Rani kemudian menghampiri pemuda itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat wajah pemuda itu. Dugaannya selama ini memang benar. Anjar, cinta pertamanya yang mengirimkan semua itu padanya. “Apa kabar?” sapa Rani. “sedang apa kau kesini?” Tanya Anjar tanpa melihat Rani sedikitpun. “seharusnya aku yang bertanya demikian, sedang apa kau disini sendirian!” kata Rani. “Bukan urusanmu!” kata Anjar singkat. “kau kan yang mengirim bunga berpita hitam itu?” Tanya Rani. Anjar tak menghiraukannya. “Kenapa?” Tanya Rani. “Karena aku membencimu!” jawab Anjar dengan pandangan mata jauh ke depan.
Rani menghela napas kemudian duduk di samping Pemuda itu. “Bertahun-tahun aku berusaha mencarimu, tapi apa? Setelah aku menemukanmu, aku jadi tak ingin lagi bertemu denganmu lagi!” ungkap Anjar. “Apa maksudmu? Bukankah kau yang meninggalkanku? Pergi tanpa memberikan kabar sedikitpun, menggantungkan cintaku selama beberapa tahun?” kata Rani. Anjar masih tetap tak mau melihat Rani yang ada di sampingnya itu. “Aku tak seperti yang kau pikirkan! Sekian lama batinku tersiksa karena aku tak melihatmu, tak mendengar suaramu!” Anjar pun berdiri dari tempat duduknya. “Mau kemana?” Tanya Rani.
Anjar berjalan tertatih-tatih bagaikan tak tau arah. Tangannya menggenggam seolah-olah ingin mematahkan sesuatu. Pandangannya tampak seperti orang yang sedang melamun. Ketika berjalan ia pun terjatuh di tanah. Rani segera menolongnya, Anjar pun menepiskan tangan Rani yang berusaha menolong Anjar. “Lepaskan!” Anjar melanjutkan kembali perjalanannya hingga sampailah ia pada jalan raya. Rani terus mengikutinya dari belakang namun sama sekali anjar tak memerhatikan Rani.
Anjar menyebrang jalan dengan pandangan kosong, seorang pengemudi mobil membunyikan klakson agar Anjar tidak menyebrang ketika mobil sedang melaju, Anjar tak menghiraukan hingga akhirnya ia hampir tertabrak karena kecerobohannya. Pengemudi itu memarahi Anjar dan ia pun mengabaikannya. Rani terkejut dan meminta maaf pada pengemudi itu. “Kali lain kalau menyebrang itu dilihat donk!” Pengemudi mobil pun segera meninggalkan mereka berdua. “Apa kau buta? Berjalan saja tidak becus, meskipun sepi tapi ini tetap jalan raya!” Rani terlihat marah. Anjar pun bergumam “Aku..!” wajahnya tampak pucat pasi. “Aku memang buta!” kata Anjar. Mendengar kata-kata tersebut tubuh Rani lemas seketika, ia bagaikan tersambar halilintar. Rani melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Anjar namun ekspresi Anjar tetap seperti orang melamun.
Tak lama kemudian seseorang datang dan menjemput Anjar. Rani masih diterpa ketidakpercayaan yang mendalam. Ia meminta kejelasan tentang pacar pertamanya tersebut. Ternyata beberapa tahun yang lalu, ketika Anjar berusaha kabur, sebuah kecelakaan terjadi sehingga membuatnya koma begitu lama dan harus kehilangan pengelihatan. Ia tak tau ia berada di mana dan dengan siapa. Semua data-data tentangnya lenyap dalam peristiwa itu. Kata-kata yang ia ucapkan ketika kali pertama ia bangun dari komanya adalah “R-a-n-i”.
Rani pun pulang dengan perasaan bersalah. Ia terlalu berburuk sangka pada cinta pertamanya itu. Sementara itu, pernikahan antara Hamdan dengan dirinya tinggal menghitung hari. “Apa yang telah aku perbuat?” ia menangis seharian di kamarnya. “Aku tak tahu jika semua itu terjadi padanya!” Rani kembali menangis. Berkali-kali HP Rani berdering namun ia tak menjawabnya. “Hamdan” ternyata sepuluh panggilan tak terjawab ada di layar HPnya. Rani sedang dalam dilema dan dihantui perasaan bersalah yang begitu besar. Ia tak dapat membayangkan jika bertahun-tahun Anjar berusaha mencarinya namun sekarang orang yang berusaha dicarinya telah menjadi milik orang lain.
Sesuai dengan janji Hamdan. Dia benar-benar kembali ke Jawa dalam waktu dua hari. Rani sama sekali tak mengangkat telepon darinya kemudian ia menemui calon istrinya karena khawatir. “Ada apa denganmu?” Tanya Hamdan. “Tidak ada apa-apa Mas, hanya sedikit kurang enak badan!” jawab Rani. Hamdan kemudian meminta Rani untuk istirahat terlebih dahulu karena sebentar lagi mereka akan menikah, jadi harus benar-benar menjaga kondisi tubuh agar tidak sakit ketika hari pernikahan tiba. Rani pun menuruti permintaan calon suaminya.
Satu hari sebelum hari pernikahan, Hamdan mencoba menutupi kegugupannya dengan berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya. Seseorang menghampirinya dan meminta waktu luang padanya. Ternyata itu adalah orang yang merawat Anjar selama ini. Orang tersebut menceritakan semuanya kepada Hamdan tentang kisah cinta Rani dan Anjar yang terpisah karena kekejaman takdir. Hamdan bertanya, mengapa orang tersebut menceritakan semua itu padanya. Walaupun begitu Hamdan juga tidak akan melepaskan gadis yang telah dicintainya itu. Orang tersebut berkata. “Aku hanya ingin kau mengerti, tak ada maksud apa pun!”.
Hari pernikahan tiba. Semua keluarga mempelai terlihat sangat sibuk. Rani tampak cantik menggunakan pakaian pengantin. Keluarga Rani dan keluarga Hamdan sedang menunggu kedatangan mempelai pria untuk melaksanakan akad nikah. “Mengapa nak Hamdan lama sekali?” Tanya keluarga mempelai wanita. “Iya, Hamdan itu ada-ada saja, masak cincin yang disini menjadi hal terpenting bisa sampai ketinggalan?” kata keluarga mempelai pria.
Tak lama kemudian terdengar kabar bahwa pengantin pria mengalami kecelakaan ketika sedang perjalanan menuju kediaman pengantin wanita. Semua orang yang hadir di acara pernikahan pun terkejut. Rani yang masih berada di kamar pengantin tidak mendengar kabar apa pun. Ibunya dengan wajah pucat membuka pintu kamar pengantin. “Ibu, Sudahkah Hamdan datang?” Tanya Rani. Ibunya menceritakan apa yang terjadi pada Hamdan, mendengar hal tersebut, Rani langsung pingsan. “mengapa ini bisa terjadi?” keluarga Hamdan dan kekuarga Rani segera pergi ke rumah sakit. Ketika sampai disana “innalillahi wainna ilaihi rooji’un!” kata salah satu keluarga Hamdan. Semua anggota keluaga menangis histeris. “Sudilah kiranya keluarga yang ada di sini memaafkan semua kesalahan almarhum Hamdan, semoga ia dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa!” kata Ayah Hamdan sembari meneteskan air matanya.
Beberapa Tahun kemudian. “Rani sayang, makan dulu nak, Ibu sudah memasak ayam kesukaanmu!” sambil membuka pintu kamar Rani. Seketika Rani bertanya “Sudahkah Hamdan datang?” begitulah yang ia katakan setiap kali seseorang membuka pintu kamarnya, sambil menyisir rambutnya yang kian hari kian menggimbal dan matanya yang sembab. Dan berteriak histeris setiap melihat dirinya berada di dalam cermin. Rani Dwi Kumala Sari, Sang bunga desa kini menjadi gadis keterbelakangan mental.
Pembuat: Fery Rachmawati
Sudahkah Hamdan Datang
“Sudahkah Hamdan datang?” Tanya gadis itu sembari membenarkan sepatu hak tinggi yang dihadiahi almarhum Ayahnya. “Sudah tiga puluh menit dia menunggu di luar!” jawab wanita setengah baya sambil membenarkan jilbabnya. “Oh, Ibu, kenapa tidak menyuruhnya masuk?”. “entah berapa kali Ibu mengulang kata yang sama agar dia mau masuk ke gubuk kita, calon Suamimu itu memang dasarnya sombong atau pura-pura sombong?” Ibu sedikit kesal. “ Ah Ibu, Mas Hamdan tidak seperti itu, mungkin dia ingin mencari udara segar!” gadis itu pun membela kekasihnya. “Ya sudah, kau temui dulu Nak Hamdan, lama sudah dia menunggu!” kata Ibu sambil menepuk-nepuk pundak anak gadisnya.
Gadis cantik tersebut kemudian menemui calon suaminya yang sedang mondar-mandir di halaman rumahnya. “Mas Hamdan!” sapa gadis itu. Pemuda itu seolah tersihir ketika melihat kekasihnya yang kian hari kian memancarkan pesona kecantikannya. “Adik sudah siap?” tanya pemuda itu. “Maaf, sudah membuat Mas menunggu lama!”. “Tidak apa-apa, Ibu kemana? Kita berpamitan dulu!” ungkap Hamdan. Setelah berpamitan, mereka pun pergi memesan segala perlengkapan untuk pernikahan mereka.
Hari ini memang hari yang spesial untuk kedua pasangan yang sebentar lagi hendak memadu kasih ini. Pasalnya, selama ini mereka hanya bisa bertegur sapa menggunakan telepon. Namun tidak untuk hari ini, kebahagiaan tersendiri hadir ketika mereka saling bertatap muka lantaran Hamdan benar-benar telah menjadi lelaki yang super sibuk. Selama bertahun-tahun hidup dalam kondisi tak berkecukupan, ia pun memutuskan merantau ke Kalimantan. Lima tahun lamanya Hamdan bekerja paruh waktu untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu mengubah keadaan ekonomi keluarganya. Dia juga ingin membuktikan pada keluarga kekasihnya itu bahwa dia benar-benar telah matang untuk menjadi seorang kepala rumah tangga. Kenyataannya, sekarang dia dapat merenovasi rumahnya di Jawa, selain itu dia mampu membeli mobil bekas untuk memermudah aktivitasnya.
“Akhirnya, selesai juga” kata Rani sembari mengusap keningnya dengan selempai yang ia beli beberapa hari lalu. “satu bulan lagi kita benar-benar akan menikah, Mas sangat senang, tapi Mas juga deg-degan!” ungkap Hamdan dengan wajah berseri-seri. “Adik juga demikian, semoga perasaan Mas Hamdan pada Rani selalu seperti ini, tak berubah sedikitpun!” kata Rani berharap. Kedua pasanagan ini pun kemudian memutuskan untuk kembali setelah seharian memersiapkan perlengkapan pernikahan mereka.
Undangan pernikahan Bunga Desa dengan Hamdan, pemuda miskin yang mendadak kaya pun telah tersebar. Beberapa hari berlalu, Seseorang mengirimkan beberapa bunga dengan ikatan pita hitam. Hal tersebut berlangsung setiap hari. Bu Warda, Ibu Rani sangat senang ketika putrinya mendapat kiriman bunga-bunga indah. “Nak Hamdan sangat romantis!” begitulah kalimat yang berkali-kali diucapkan oleh Bu Warda. Sebaliknya, Rani merasa gelisah dengan kiriman bunga tersebut. Pasalnya, ketika ia berterima kasih pada kekasihnya itu, justru sang kekasih keheranan. “Mas tak pernah mengirimkan ikatan bunga dek!” begitu jawab Hamdan ketika Gadis cantik asal Jawa itu bertanya dengan polosnya.
Lama kelamaan Rani merasa terusik dengan kiriman bunga itu. “dari siapakah bunga-bunga ini?”. Tanda tanya besar muncul pada diri Rani. Bunga yang sama dengan ikatan yang sama setiap hari dikirim melalui pos. ketika tukang pos itu ditanya, dari siapa kiriman itu, jawabnya selalu “Saya hanya menjalankan tugas yang semestinya saya kerjakan!” kemudian izin untuk mengantar paket-paket yang lain. Saat Rani mencoba menebak, saat itu pun ia selalu gagal. “Jika bukan Mas Hamdan, lalu…?” pikirannya melayang pada beberapa tahun yang lalu ketika ia masih bersama pacar pertamanya. Anjar, dialah orang pertama yang dapat merebut hati bunga desa ini. Bagaimana tidak, pemuda ini dikenal bijaksana oleh semua orang.
Selama dua tahun, Rani dan Anjar menjalin kasih. Anjar, anak seorang Kepala Daerah, meskipun berkecukupan namun ia tak pernah merasa sombong. Pasangan ini sebenarnya saling mencintai, namun apalah daya, takdir berkata lain. Keluarga Anjar terlibat kasus korupsi sehingga membuatnya shok dan ia pun menghilang beberapa tahun tanpa memberikan kabar pada orang-orang terdekatnya, termasuk kekasihnya.
Rani sempat patah hati dan kehilangan akal sehat ketika Anjar meninggalkannya. Hari berganti hari, tahun berganti tahun, kehidupan baru datang pada diri Rani. Ia merasa cintanya digantung oleh Anjar, lalu dengan bijak ia memutuskan untuk berpindah ke lain hati. Sebenarnya sangat berat jika dia harus meninggalkan cinta pertamanya itu, namun ia juga tak sanggup jika menjalani hubungan tanpa status. Hamdanlah orang yang berhasil membuat taburan bunga-bunga sakura pada perjalanan cinta Rani. Sekejap, namun meninggalkan keindahan yang terus bersemi di hati Rani. Itulah Hamdan, pemuda tak berkecukupan yang berhasil mengubah ketidakcukupannya.
“Apakah Mas Anjar yang melakukan semua ini?” pikiran Rani penuh dengan tanda tanya. “Jika semua itu benar, lantas mengapa dia melakukan semua itu?”. Rani pun teringat lagi akan sesuatu. “kau tahu mengapa aku memberikan pita merah ini?” Tanya Anjar. Rani menggelengkan kepala. “Pita merah akan terlihat indah, apalagi jika kau yang memakainya, terutama disini!” kata Anjar sembari mengikatkan pita merah pada rambut Rani. “Aku tidak akan memberikanmu pita hitam ini!” sambil memerlihatkan salah satu pita yang ia bawa. “kenapa?” tanya Rani. “Karena hitam adalah simbol kebencian!” kata Anjar.
Rani terbangun dari lamunannya untuk kedua kalinya. “Bunga itu…!” Rani teringat akan sesuatu, ia pun berlari melihat bunga-bunga yang telah seseorang kirimkan kepadanya. “Pita hitam!” gumam Rani dengan tubuh gemetar. “Mas Anjar sudah mendengar berita pernikahanku!” kata Rani lemas. Bu Warda yang melihat tingkah aneh putrinya kemudian menghampiri. “Ada apa nak?” tanya sang Ibu. “Mas Anjar bu!” gumam Rani. “Anjar anak Koruptor itu? Ada apa dengannya?” tanya Bu Warda. “Dia sudah tahu bahwa aku akan menikah!” jawabnya lemas. “Lantas?”. Rani kemudian duduk dan mengambil salah satu bunga pemberian orang tak dikenal itu. “Ibu tahu bunga ini dari siapa?“ Rani bertanya dengan mata berkaca-kaca. “Kau ini masih saja bertanya, tentu saja dari calon menantuku!” Bu Warda tersenyum senang. “Ini bukan dari Mas Hamdan Bu, pita hitam ini berarti simbol kebencian, aku takut hal buruk terjadi pada pernikahanku!”. Bu Warda yang melihat putrinya bersedih kemudian mencoba menghiburnya.
Dua minggu sebelum hari pernikahan, Hamdan berkata pada Rani bahwa ia akan pergi sebentar ke Kalimantan untuk mengurus pekerjaannya. Ia pun berjanji pada gadisnya bahwa ia tak akan lama, hanya membutuhkan waktu dua hari untuk bisa kembali ke Jawa lagi. Rani tak bisa mencegah kepergian Hamdan karena itu juga untuk kebaikan Hamdan dan keluarganya. “Mas berjanji, hanya dua hari saja!” itulah kata-kata yang membuat Rani terpaksa membolehkan Hamdan pergi.
Bunga dengan ikatan pita hitam terus membanjiri rumah keluarga Rani. “Dari siapakah sebenarnya bunga itu?” Bu Warda mendesak tukang pos tersebut, baru kali ini Bu Warda marah, sebelumnya Ibu dua anak ini tidak pernah menampakkan kemarahannya di depan orang lain kecuali keluarganya sendiri. Tukang Pos itu menjawab “Saya benar-benar tidak tahu nama orang yang mengirimkan ini, jika anda mau saya akan mengantar anda pada pengirim bunga ini!”. Rani yang ketika itu sedang termenung dengan mata berkaca-kaca kemudian mendekati tukang pos itu. “Tolong antarkan saya pada orang itu!” Rani memohon. Tukang pos itu merasa iba melihat gadis cantik itu memohon penuh harap. “Mari!” tukang pos itu membawa Rani ke tempat pengirim bunga tersebut.
“Di sana tempatnya!” kata tukang pos sambil menunjuk ke sebuah taman. “Di balik pohon besar itu ada tempat duduk, dia biasanya sering duduk-duduk di sana!”. Rani pun berjalan pelan menuju tempat yang ditunjukkan oleh tukang pos tersebut. Dari kejauhan tampak seorang lelaki sedang duduk sendirian di balik pohon itu. Rani terus berjalan penuh penasaran, hingga akhirnya sampailah ia tepat di belakang pemuda itu. “Siapa anda?” Tanya Rani. Pemuda itu terkejut ketika mendengar suara yang tak asing lagi baginya. “Rani!” Pemuda itu mencoba menebak. Rani kemudian menghampiri pemuda itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat wajah pemuda itu. Dugaannya selama ini memang benar. Anjar, cinta pertamanya yang mengirimkan semua itu padanya. “Apa kabar?” sapa Rani. “sedang apa kau kesini?” Tanya Anjar tanpa melihat Rani sedikitpun. “seharusnya aku yang bertanya demikian, sedang apa kau disini sendirian!” kata Rani. “Bukan urusanmu!” kata Anjar singkat. “kau kan yang mengirim bunga berpita hitam itu?” Tanya Rani. Anjar tak menghiraukannya. “Kenapa?” Tanya Rani. “Karena aku membencimu!” jawab Anjar dengan pandangan mata jauh ke depan.
Rani menghela napas kemudian duduk di samping Pemuda itu. “Bertahun-tahun aku berusaha mencarimu, tapi apa? Setelah aku menemukanmu, aku jadi tak ingin lagi bertemu denganmu lagi!” ungkap Anjar. “Apa maksudmu? Bukankah kau yang meninggalkanku? Pergi tanpa memberikan kabar sedikitpun, menggantungkan cintaku selama beberapa tahun?” kata Rani. Anjar masih tetap tak mau melihat Rani yang ada di sampingnya itu. “Aku tak seperti yang kau pikirkan! Sekian lama batinku tersiksa karena aku tak melihatmu, tak mendengar suaramu!” Anjar pun berdiri dari tempat duduknya. “Mau kemana?” Tanya Rani.
Anjar berjalan tertatih-tatih bagaikan tak tau arah. Tangannya menggenggam seolah-olah ingin mematahkan sesuatu. Pandangannya tampak seperti orang yang sedang melamun. Ketika berjalan ia pun terjatuh di tanah. Rani segera menolongnya, Anjar pun menepiskan tangan Rani yang berusaha menolong Anjar. “Lepaskan!” Anjar melanjutkan kembali perjalanannya hingga sampailah ia pada jalan raya. Rani terus mengikutinya dari belakang namun sama sekali anjar tak memerhatikan Rani.
Anjar menyebrang jalan dengan pandangan kosong, seorang pengemudi mobil membunyikan klakson agar Anjar tidak menyebrang ketika mobil sedang melaju, Anjar tak menghiraukan hingga akhirnya ia hampir tertabrak karena kecerobohannya. Pengemudi itu memarahi Anjar dan ia pun mengabaikannya. Rani terkejut dan meminta maaf pada pengemudi itu. “Kali lain kalau menyebrang itu dilihat donk!” Pengemudi mobil pun segera meninggalkan mereka berdua. “Apa kau buta? Berjalan saja tidak becus, meskipun sepi tapi ini tetap jalan raya!” Rani terlihat marah. Anjar pun bergumam “Aku..!” wajahnya tampak pucat pasi. “Aku memang buta!” kata Anjar. Mendengar kata-kata tersebut tubuh Rani lemas seketika, ia bagaikan tersambar halilintar. Rani melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Anjar namun ekspresi Anjar tetap seperti orang melamun.
Tak lama kemudian seseorang datang dan menjemput Anjar. Rani masih diterpa ketidakpercayaan yang mendalam. Ia meminta kejelasan tentang pacar pertamanya tersebut. Ternyata beberapa tahun yang lalu, ketika Anjar berusaha kabur, sebuah kecelakaan terjadi sehingga membuatnya koma begitu lama dan harus kehilangan pengelihatan. Ia tak tau ia berada di mana dan dengan siapa. Semua data-data tentangnya lenyap dalam peristiwa itu. Kata-kata yang ia ucapkan ketika kali pertama ia bangun dari komanya adalah “R-a-n-i”.
Rani pun pulang dengan perasaan bersalah. Ia terlalu berburuk sangka pada cinta pertamanya itu. Sementara itu, pernikahan antara Hamdan dengan dirinya tinggal menghitung hari. “Apa yang telah aku perbuat?” ia menangis seharian di kamarnya. “Aku tak tahu jika semua itu terjadi padanya!” Rani kembali menangis. Berkali-kali HP Rani berdering namun ia tak menjawabnya. “Hamdan” ternyata sepuluh panggilan tak terjawab ada di layar HPnya. Rani sedang dalam dilema dan dihantui perasaan bersalah yang begitu besar. Ia tak dapat membayangkan jika bertahun-tahun Anjar berusaha mencarinya namun sekarang orang yang berusaha dicarinya telah menjadi milik orang lain.
Sesuai dengan janji Hamdan. Dia benar-benar kembali ke Jawa dalam waktu dua hari. Rani sama sekali tak mengangkat telepon darinya kemudian ia menemui calon istrinya karena khawatir. “Ada apa denganmu?” Tanya Hamdan. “Tidak ada apa-apa Mas, hanya sedikit kurang enak badan!” jawab Rani. Hamdan kemudian meminta Rani untuk istirahat terlebih dahulu karena sebentar lagi mereka akan menikah, jadi harus benar-benar menjaga kondisi tubuh agar tidak sakit ketika hari pernikahan tiba. Rani pun menuruti permintaan calon suaminya.
Satu hari sebelum hari pernikahan, Hamdan mencoba menutupi kegugupannya dengan berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya. Seseorang menghampirinya dan meminta waktu luang padanya. Ternyata itu adalah orang yang merawat Anjar selama ini. Orang tersebut menceritakan semuanya kepada Hamdan tentang kisah cinta Rani dan Anjar yang terpisah karena kekejaman takdir. Hamdan bertanya, mengapa orang tersebut menceritakan semua itu padanya. Walaupun begitu Hamdan juga tidak akan melepaskan gadis yang telah dicintainya itu. Orang tersebut berkata. “Aku hanya ingin kau mengerti, tak ada maksud apa pun!”.
Hari pernikahan tiba. Semua keluarga mempelai terlihat sangat sibuk. Rani tampak cantik menggunakan pakaian pengantin. Keluarga Rani dan keluarga Hamdan sedang menunggu kedatangan mempelai pria untuk melaksanakan akad nikah. “Mengapa nak Hamdan lama sekali?” Tanya keluarga mempelai wanita. “Iya, Hamdan itu ada-ada saja, masak cincin yang disini menjadi hal terpenting bisa sampai ketinggalan?” kata keluarga mempelai pria.
Tak lama kemudian terdengar kabar bahwa pengantin pria mengalami kecelakaan ketika sedang perjalanan menuju kediaman pengantin wanita. Semua orang yang hadir di acara pernikahan pun terkejut. Rani yang masih berada di kamar pengantin tidak mendengar kabar apa pun. Ibunya dengan wajah pucat membuka pintu kamar pengantin. “Ibu, Sudahkah Hamdan datang?” Tanya Rani. Ibunya menceritakan apa yang terjadi pada Hamdan, mendengar hal tersebut, Rani langsung pingsan. “mengapa ini bisa terjadi?” keluarga Hamdan dan kekuarga Rani segera pergi ke rumah sakit. Ketika sampai disana “innalillahi wainna ilaihi rooji’un!” kata salah satu keluarga Hamdan. Semua anggota keluaga menangis histeris. “Sudilah kiranya keluarga yang ada di sini memaafkan semua kesalahan almarhum Hamdan, semoga ia dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa!” kata Ayah Hamdan sembari meneteskan air matanya.
Beberapa Tahun kemudian. “Rani sayang, makan dulu nak, Ibu sudah memasak ayam kesukaanmu!” sambil membuka pintu kamar Rani. Seketika Rani bertanya “Sudahkah Hamdan datang?” begitulah yang ia katakan setiap kali seseorang membuka pintu kamarnya, sambil menyisir rambutnya yang kian hari kian menggimbal dan matanya yang sembab. Dan berteriak histeris setiap melihat dirinya berada di dalam cermin. Rani Dwi Kumala Sari, Sang bunga desa kini menjadi gadis keterbelakangan mental.
Pembuat: Fery Rachmawati
Subscribe to:
Posts (Atom)